Kita telah mempelajari separuh dari janji yang diberikan beribu-ribu tahun yang lalu di Taman Eden – bahwa “Dia”, yang adalah Mesias-Yeshua (Yesus Kristus), akan meremukkan kepala ular.

Kejadian 3:15 Dan Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dengan perempuan ini, dan antara benihmu dengan benihnya. Dia akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Yeshua datang dalam daging dari Surga melalui Roh Kudus yang bercampur dengan benih perempuan. Jika ini benar tentang “benihnya,” maka menurut konsistensi hermeneutika, benih ular harus diinterpretasikan dengan cara yang sama. Apa artinya ini? Bahwa karena Yeshua (dalam inkarnasi lahiriah-Nya) adalah campuran genetika antara surgawi (Roh Kudus) dan duniawi (Maria), hal yang sama haruslah terjadi untuk bagian lain dari ayat ini, dan karena itu haruslah benar-benar dari benih Satan; yaitu bahwa dia (dan malaikat-malaikatnya) akan mencampurkan benih (gamet)-nya (genetika) dengan manusia, sehingga menghasilkan hibrid antara satanik dan manusia. Alkitab menyebut jenis keturunan ini sebagai Nephilim – yaitu, “mereka yang jatuh”. Kita akan mengeksplorasi secara mendetail pada bagian ini hanya dalam apa yang terjadi pada zaman Nuh dan pada bagian berikutnya, apa yang sedang terjadi sekarang ini dan bagaimana peristiwa-peristiwa ini akan memuncak pada saat kedatangan Yeshua.

Yeshua memberi murid-murid-Nya kunci penting untuk memahami seperti bagaimana hari-hari terakhir itu – mereka akan seperti kehancuran tiba-tiba yang terjadi di bumi pada zaman Nuh.

Matius 24:37-39 “Dan, sebagaimana pada zaman Nuh, demikian pulalah kedatangan Anak Manusia akan terjadi. Sebab, sebagaimana mereka hidup pada hari-hari sebelum air bah: makan dan minum, kawin dan dikawini, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak menyadari sampai air bah itu datang dan melenyapkan semuanya; demikian pulalah kedatangan Anak Manusia akan terjadi.

Apa yang terjadi pada hari-hari zaman Nuh memiliki korelasi langsung dengan hal-hal seperti apa yang akan kita hadapi pada hari-hari terakhir. Penduduk bumi telah diperingatkan berulang-ulang oleh Nuh, pengkhotbah kebenaran, tetapi mereka gagal untuk mendengarkan. Petrus, di bawah arahan Roh Kudus, membuat pewahyuan ini mengenai hari-hari Nuh dan kehancuran yang datang:

1Petrus 3:20 yaitu mereka yang dulu tidak taat ketika Elohim dengan sabar menanti mereka pada zaman Nuh, sementara Nuh membangun bahteranya. Melalui bahtera itu, hanya sedikit, yaitu delapan orang saja, yang diselamatkan oleh air bah.

Dalam suratnya yang kedua, Petrus menulis:

2Petrus 2:4,5 Sebab, jika Elohim tidak berbelaskasihan atas malaikat-malaikat yang telah berdosa, sebaliknya, Dia malah menyerahkan ke dalam belenggu kegelapan dengan melemparkannya ke dalam tartarus [tartarosas ταρταρώσας penjara bawah bumi] untuk ditahan sampai penghakiman; dan Dia tidak berbelaskasihan atas dunia zaman dahulu, kecuali Dia melindungi kedelapan orang keluarga Nuh selaku pemberita kebenaran pada saat menimbulkan air bah atas dunia orang-orang fasik;

Yeshua dan Petrus memberi tahu kita lebih dari sekadar cepatnya kehancuran yang datang menimpa bumi. Kata-kata mereka memberi kita petunjuk tentang kondisi-kondisi dunia pada waktu itu. Kita tidak boleh gagal memahami bahwa orang-orang Yahudi abad pertama, tanpa perkecualian yang jelas, percaya bahwa pada zaman Nuh, iblis (anak-anak Elohim) turun ke bumi dan melakukan hubungan dengan kaum perempuan yang menghasilkan ras hibrid manusia-iblis (bukti-bukti akan diberikan dalam bab-bab selanjutnya).

Jadi, untuk sepenuhnya memahami pernyataan Yeshua “sebagaimana pada zaman Nuh, demikian pula akan kedatangan Anak Manusia terjadi,” pertama-tama kita harus memahami seperti bagaimana kehidupan pada zaman Nuh. Jika kita gagal memahami apa artinya bagian ini, kita tidak hanya akan meleset memahami beberapa masalah historis yang sangat signifikan, tetapi pandangan kita tentang akhir zaman juga akan meleset. Pertama-tama, mari kita menganalisa teks dan membangun pemahaman kita selangkah demi selangkah.

Kejadian 6:1-7 Dan terjadilah, ketika manusia di muka bumi mulai berlipat ganda, dan anak-anak perempuan telah diperanakkan bagi mereka, lalu anak-anak Elohim [בְנֵי־ הָֽאֱלֹהִים֙ benei haelohim] melihat anak-anak perempuan manusia [בְּנ֣וֹת הָֽאָדָ֔ם benot haadam], bahwa mereka elok. Maka mereka mengambil istri-istri bagi mereka semua yang telah mereka pilih. Dan YAHWEH berfirman, “Roh-Ku tidak untuk selamanya akan berperkara dengan manusia yang juga di dalamnya dia itu daging, tetapi hari-harinya akan menjadi seratus dua puluh tahun.” Pada hari-hari itu, para raksasa [הַנְּפִלִ֞ים hanephilim] telah ada di bumi, bahkan juga sesudahnya, ketika anak-anak Elohim menghampiri anak-anak perempuan manusia dan mereka telah melahirkan baginya; mereka adalah orang-orang perkasa yang ada sejak lama, orang-orang yang ternama. Dan YAHWEH melihat bahwa kejahatan manusia demikian besar di bumi, dan setiap angan-angan pikiran hatinya semata-mata jahat sepanjang hari, dan YAHWEH menyesal bahwa Dia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu telah memilukan hati-Nya. Dan YAHWEH berfirman, “Aku akan melenyapkan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, dari manusia sampai hewan, sampai yang merayap dan sampai burung-burung di langit, karena Aku menyesal bahwa Aku telah menjadikan mereka.”

Pada zaman Nuh (dan penghakiman selanjutnya), populasi bumi bertambah-tambah secara dramatis. Teks mengatakan bahwa manusia (adam – ini adalah istilah Ibrani umum untuk manusia pada umumnya, yang tentu saja, adalah anak-anak Adam dalam arti lahiriah) bertambah-tambah dalam jumlah. Sebagai konsekuensi alami, anak-anak perempuan dilahirkan bagi ras manusia (adam) secara umum, tetapi kemudian kelompok lain memperhatikan para perempuan manusia ini, yaitu anak-anak Elohim. Anak-anak Elohim mengambil mereka sebagai istri-istri dan memperanakkan keturunan yang dikenal sebagai Nephilim. Untuk memahami apa yang terjadi, maka kita perlu mengidentifikasi dengan jelas siapa itu anak-anak Elohim.

Anak-anak Elohim

Ungkapan “anak-anak Elohim” muncul sepuluh kali dalam Alkitab (NKJV), dua kali dalam Kejadian 6, tiga kali dalam kitab Ayub dan lima kali dalam Perjanjian Baru. Dalam bahasa Ibrani, frasa benei haelohim (בְנֵי הָֽאֱלֹהִים֙) muncul empat kali sementara benei elohim (בְּנֵ֥י אֱלֹהִֽים) muncul sekali dalam Ayub 38:7 – satu-satunya variasi adalah definite article. Elohim menanggapi permintaan Ayub untuk menunjukkan dan menjelaskan makna penderitaan luar biasa yang baru saja dialami oleh Ayub (pasal 38:7) dengan menanyakan di mana dia pada mulanya: “Ketika bintang-bintang fajar bernyanyi bersama-sama, dan semua anak-anak Elohim bersorak-sorai dengan sukacita? “(Ayub 38:7).

Elohim membuat acuan kepada fakta bahwa Ayub belum ada di sana ketika Dia meletakkan fondasi bumi, dan implikasinya adalah bahwa belum ada manusia (adam) di sana dalam peristiwa ini. Oleh karena itu kita melihat dari penggunaan di sini bahwa “anak-anak Elohim” mengacu kepada para malaikat. Ini didukung oleh Septuaginta yang menerjemahkan ketiga bagian kitab Ayub ini sebagai “para malaikat” ketimbang istilah Ibrani anak-anak Elohim – yang membuktikan bahwa orang-orang Yahudi yang menerjemahkan Ayub ke dalam bahasa Yunani dari bahasa Ibrani meyakini bahwa anak-anak Elohim adalah malaikat dan bukan manusia.

Job 38:7 (Brenton Septuagint) When the stars were made, all my angels praised me with a loud voice.

Komentar NET Bible mengkonfirmasi pemahaman ini: “Dalam Kitab Ayub frasa ini secara jelas menunjuk pada makhluk-makhluk malaikat,” (NET Bible Commentary Genesis 6:2). Di awal kitab Ayub kita membaca:

Ayub 1:6,7 Pada suatu hari, ketika anak-anak Elohim datang menghadap YAHWEH, dan Satan pun datang di antara mereka. Dan YAHWEH bertanya kepada Satan, “Dari mana engkau datang?” Dan Satan menjawab YAHWEH serta berkata, “Dari menjelajahi bumi dan berjalan ke sana kemari di atasnya.”

Sekali lagi, kita melihat bahwa Septuaginta telah menerjemahkan “anak-anak Elohim” sebagai “para malaikat Elohim” (oi angeloi tou theou οι αγγελοι του θεου). Bagi orang Yahudi kuno, paling tidak, frasa ini jelas berbicara tentang makhluk-makhluk malaikat. Fakta bahwa Satan muncul di antara mereka menunjukkan bahwa “anak-anak Elohim” di sini adalah malaikat-malaikat yang jatuh. Lagi pula, dari apa yang kita baca tentang malaikat-malaikat baik di dalam Perjanjian Lama: (Yesaya, Yehezkiel, Daniel, dll.) dan Perjanjian Baru (khususnya Wahyu), malaikat-malaikat (yang baik) telah memiliki akses ke hadirat Elohim. Jadi, untuk menyatakan bahwa suatu hari mereka datang di hadapan Elohim, akan tampak agak aneh kecuali bahwa itu merujuk kepada para iblis. Kita juga harus ingat bahwa istilah (malakh מַלְאַ֧ךְ) dalam bahasa Ibrani dan (angelos αγγελος) dalam bahasa Yunani, keduanya secara umum memiliki arti “utusan.” Pembawa pesan dapat berwujud baik atau jahat dan dapat bersifat duniawi (manusia) atau surgawi (makhluk malaikat). Yeshua pada waktu penghakiman bangsa-bangsa “juga akan berkata kepada mereka yang ada di sebelah kiri-Nya, ‘Enyahlah dari pada-Ku, hai kamu yang terkutuk, ke dalam api kekal yang telah dipersiapkan bagi Iblis dan para malaikatnya [tois angelois τοις αγγελοις],’ (Matius 25:41). Jika Iblis memiliki malaikat-malaikatnya dan mereka dilemparkan ke dalam lautan api kekal, maka mereka tidak mungkin adalah malaikat-malaikat yang baik. Jadi mereka adalah malaikat-malaikat yang jatuh yang juga dikenal sebagai para iblis.

Dari referensi dalam Ayub, dan bagaimana istilah itu diterjemahkan dalam Septuaginta dan Targumim, kita menyimpulkan bahwa istilah “anak-anak Elohim” mengacu kepada makhluk-makhluk malaikat (baik atau jahat). Fakta bahwa Satan muncul bersama anak-anak Elohim dan fakta bahwa Yeshua menunjuk kepada Iblis dan malaikat-malaikatnya, menuntun kita untuk lebih lanjut menyimpulkan bahwa referensi dalam Kejadian pasal enam berbicara tentang malaikat-malaikat yang jatuh (para iblis).

Komentar New English Translation (NET Bible) membahas tiga posisi yang berbeda yang biasanya dipegang dan menekankan bahwa interpretasi “malaikat” lebih tepat ketimbang yang lainnya.

Ada tiga interpretasi utama dari frasa di sini. (1) Dalam Kitab Ayub frasa ini secara jelas merujuk kepada makhluk-makhluk malaikat. Dalam Kejadian 6, “anak-anak Elohim” dibedakan dari “umat manusia,” menunjukkan bahwa mereka bukan manusia. Ini konsisten dengan penggunaan frasa dalam Ayub. Karena perikop ini berbicara tentang makhluk-makhluk ini yang mengawini perempuan-perempuan manusia, mereka pasti telah mengambil bentuk fisik atau memiliki tubuh manusia. Tradisi Yahudi awal yang dicatat dalam 1 Henokh 6-7 menguraikan tentang pemberontakan para malaikat ini dan bahkan menyebutkan nama-nama pemimpinnya. (2) Tidak semua sarjana Alkitab menerima interpretasi malaikat terhadap frase “anak-anak Elohim”. Beberapa berpendapat bahwa “anak-anak Elohim” adalah anak-anak dari garis keturunan Seth, yang ditelusuri kembali kepada Elohim melalui Adam dalam Kejadian 5, sementara “anak-anak perempuan manusia” adalah keturunan Kain. Tetapi, seperti yang disebutkan di atas, teks ini membedakan antara “anak-anak Elohim” dengan umat manusia (yang akan mencakup keturunan Seth dan juga keturunan Kain) dan menunjukkan bahwa “anak-anak perempuan manusia” adalah perempuan manusia pada umumnya, bukan hanya anak-anak perempuan Kain saja. (3) Sarjana Alkitab lainnya mengidentifikasi “anak-anak Elohim” sebagai tiran yang berkuasa, mungkin kerasukan setan, yang memandang diri mereka sebagai dewa dan, mengikuti contoh Lamekh (lihat Kejadian 4:19), mempraktekkan poligami. Tetapi penggunaan frasa “anak-anak Elohim” dalam Ayub bertentangan dengan pandangan ini, (Catatan NET Kejadian 6:2)

Tidak Kawin Maupun Tidak Dikawinkan

Bagi sebagian orang, malaikat yang jatuh dengan kemampuan untuk mengambil bentuk fisik dan melakukan persetubuhan tampaknya akan menciptakan kontradiksi dalam Alkitab. Dalam Matius 22:30 kita membaca: “Karena pada waktu kebangkitan mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan, tetapi seperti malaikat-malaikat di surga.” Ayat ini sepertinya mengatakan bahwa malaikat tidak mampu memiliki keturunan dan jika itu adalah kasusnya, maka Kejadian 6 tentu saja tidak mungkin mengacu pada malaikat yang jatuh yang melakukan semacam hubungan seksual dengan kaum perempuan. Perikop paralel dalam Lukas memberi lebih banyak penerangan terhadap teks dan tampaknya merupakan pemahaman yang lebih lengkap dari apa yang dikatakan Yeshua tentang subjek tersebut dimana catatan Matius dan Markus dipersingkat. Di Lukas kita membaca:

Lukas 20:35,36 tetapi mereka yang dianggap layak mencapai zaman itu dan kebangkitan dari antara orang mati, mereka tidak kawin ataupun dikawini. Sebab mereka tidak dapat mati lagi, karena mereka itu seperti malaikat, dan mereka adalah anak-anak Elohim, karena menjadi anak-anak kebangkitan.

Perhatikan bahwa Yeshua mengatakan bahwa mereka yang mencapai zaman itu dan kebangkitan dari kematian tidak kawin ataupun diberikan kepada perkawinan “karena mereka tidak dapat mati lagi.” Tekanan dari ayat ini bukanlah potensi dari kemampuan seksual di surga! Ingat, orang-orang Saduki, yang menyangkal kebangkitan, mencoba untuk menjebak Yeshua dengan pertanyaan tentang istri siapakah perempuan itu (yang telah memiliki tujuh suami) ketika berada di surga. Pertanyaan dan jawaban ini tidak ada hubungannya dengan kemampuan untuk menyalurkan benih, tetapi lebih kepada fakta bahwa ada kebangkitan bagi orang-orang mati; tatanan yang baru ini berbeda dari yang sekarang ini ada di sini (dunia sekarang ini). Elohim memberi tahu Adam dan Hawa untuk berkembang biak (yaitu untuk melakukan hubungan seksual) dan memenuhi bumi. Dari kata-kata Yeshua kita melihat bahwa tidak akan diperlukan lagi prokreasi (untuk mengisi bumi) “karena mereka tidak dapat mati lagi.” Namun, ayat ini tidak dapat digunakan untuk membuktikan bahwa makhluk-makhluk malaikat tidak memiliki kemampuan untuk mencampurkan benih mereka dengan anak-anak perempuan manusia. Tampaknya para malaikat surgawi dilarang melakukan hubungan seksual, seperti yang dapat kita lihat dari 2 Petrus dan Yudas serta sumber-sumber luar Alkitab, seperti dalam Henokh 15:3-7.

Henokh 15:3-7 Mengapa kamu meninggalkan tempat tinggi yang kudus, dan kekal di surga, dan tidur dengan wanita, dan mencemarkan dirimu dengan anak-anak perempuan manusia, dan mengambil istri bagi dirimu sendiri, dan bertindak seperti anak-anak manusia di bumi, dan memperanakkan para raksasa? Sementara kamu yang adalah roh, kudus, memiliki hidup yang kekal, kamu mencemarkan dirimu dengan wanita, dan memperanakkan anak-anak darah dan daging, dan mengejar nafsu akan anak-anak manusia, dan telah menghasilkan daging dan darah sebagaimana manusia yang akan mati dan hancur. Oleh karena itulah Aku telah memberikan kepada mereka para istri supaya dapat mengandung dan melahirkan anak-anak bagi mereka, seperti yang terjadi di bumi. Kamu tadinya roh, menjalani hidup yang kekal tanpa kematian sepanjang seluruh generasi dunia. Oleh karena itulah Aku tidak menetapkan bagimu istri-istri, karena makhluk rohani bertempat kediaman di surga.

Kesimpulan

Kita telah melihat sebelumnya bahwa istilah “anak-anak Elohim” mengacu kepada para malaikat dan manusia yang menjadi ciptaan baru langsung dari Elohim. Para malaikat seluruhnya secara definisi adalah anak-anak Elohim, karena mereka tidak memiliki bapa dan ibu, tetapi diciptakan langsung oleh Elohim. Karena itu kita menyimpulkan bahwa anak-anak Elohim dalam Kejadian 6 sebenarnya adalah para malaikat yang memiliki hubungan dengan anak-anak perempuan Adam. Teks dalam Kejadian 6 tidak menyebutkan apakah mereka ini para malaikat yang baik atau jahat, tetapi berdasarkan air bah yang menyusul sesudah peristiwa itu, jelas bisa dianggap bahwa mereka ini adalah para malaikat yang jatuh.

Referensi:

Kembalinya Nephilim dan Kebangkitan Mutan

Kontroversi Teks Kejadian 6: Perkawinan Malaikat Pemberontak atau Keturunan Seth yang Saleh?

Kembalinya Nephilim, Tanda Khusus Kedatangan Yesus

Perbedaan Malaikat Yang Jatuh dan Setan-setan

Bagaimana Malaikat Yang Jatuh Bereproduksi?

Hari-hari pada Zaman Nuh adalah Hari-hari pada Zaman Nephilim: Itu Akan Terjadi Kembali

Part Five: The Coming of the Watchers in the Days of Noah

Peperangan Satan Merusak Gambar Elohim

Iklan