Kejadian 6:1,2,4 (ILT) Dan terjadilah, ketika manusia di muka bumi mulai berlipat ganda, dan anak-anak perempuan telah diperanakkan bagi mereka, lalu anak-anak Elohim melihat anak-anak perempuan manusia, bahwa mereka elok. Maka mereka mengambil istri-istri bagi mereka semua yang telah mereka pilih. Pada hari-hari itu, para raksasa (Nephilim) telah ada di bumi, bahkan juga sesudahnya, ketika anak-anak Elohim menghampiri anak-anak perempuan manusia dan mereka telah melahirkan baginya; mereka adalah orang-orang perkasa yang ada sejak lama, orang-orang yang ternama.

Mengapa Tuhan mengirim penghakiman Air Bah pada zaman Nuh? Jauh lebih dari sekadar sebuah isu sejarah, peristiwa-peristiwa khusus yang membawa kepada penghakiman Air Bah adalah prasyarat utama untuk memahami implikasi-implikasi profetik dari nubuat Tuhan kita mengenai hari-hari menjelang Kedatangan-Nya kembali.

Peristiwa-peristiwa aneh tercatat dalam Kejadian 6 dipahami oleh sumber-sumber rabbi kuno, juga para penerjemah Alkitab Septuaginta, mengacu kepada Malaikat yang Jatuh memperanakkan keturunan hibrid aneh dengan perempuan manusia – yang dikenal sebagai “Nephilim.” Demikian juga itu dipahami oleh para bapa gereja mula-mula. Peristiwa-peristiwa aneh ini juga digemakan dalam legenda-legenda dan mitologi-mitologi setiap kebudayaan kuno di seluruh bumi: bangsa Sumeria, Yunani kuno, Mesir kuno, Hindu, penduduk asli Kepulauan Pasifik Selatan, orang-orang Indian Amerika, dan bisa dikatakan hampir semua lainnya.

Fallen-angel-sethite

Namun, banyak siswa-siswa Alkitab telah diajari bahwa bagian dalam Kejadian 6 ini sebenarnya mengacu kepada kegagalan untuk menjaga garis keturunan Seth yang “setia” terpisah dari garis keturunan Kain yang “duniawi”. Kemudian dilanjutkan dengan pemahaman bahwa setelah Kain membunuh Habel, garis keturunan Seth tetap terpisah dan setia, namun garis keturunan Kain berubah menjadi fasik dan pemberontak. “Anak-anak Elohim” dianggap mengacu kepada kepemimpinan dalam garis keturunan Seth; “anak-anak perempuan manusia” dianggap terbatas pada garis keturunan Kain. Perkawinan yang diakibatkannya seolah-olah mengaburkan pemisahan yang disimpulkan di antara mereka. (Mengapa anak-anak keturunan yang dihasilkan oleh mereka disebut “Nephilim” tetap tidak ada penjelasan yang jelas.)

Karena Tuhan Yeshua bernubuat, “Seperti pada hari-hari zaman Nuh, demikian juga pada hari-hari kedatangan Anak Manusia,” menjadi penting untuk memahami apa yang terjadi pada hari-hari tersebut.

Matius 24:37 (AYT) Sama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, begitu pula kedatangan Anak Manusia akan terjadi.

Asal-usul Teori Keturunan Seth

Terjadi pada abad ke-5 M bahwa interpretasi “malaikat” dari Kejadian 6 semakin dipandang sebagai sesuatu yang memalukan saat diserang oleh para kritikus. (Lebih jauh, pemujaan terhadap para malaikat mulai terjadi di dalam gereja. Demikian juga, selibat telah menjadi peraturan gereja. Pandangan “Malaikat yang Jatuh” terhadap Kejadian 6 dikhawatirkan mempengaruhi pandangan-pandangan ini.)

Celsus dan Julian si Murtad memakai kepercayaan tradisional akan “Malaikat” dalam Kejadian 6 ini untuk menyerang Kekristenan. Julius Africanus beralih kepada interpretasi “Keturunan Seth” untuk mendapatkan posisi yang lebih aman. Cyril Alexandria juga menolak pandangan orthodoks akan “Malaikat” ini dengan interpretasi “garis keturunan Seth”. Augustinus juga menganut teori Keturunan Seth dan karenanya, pandangan ini semakin berakar dan mendominasi sampai memasuki Abad Pertengahan.

John Calvin pada abad ke-17 meneruskan tradisi yang dimulai oleh Augustinus bahwa anak-anak Elohim adalah anak-anak Seth. Calvin menyatakan dalam penjelasannya:

Prinsipnya harus disimpan dalam ingatan, bahwa dunia ini seolah terbagi menjadi dua bagian; karena keluarga Seth menghargai pemujaan yang murni dan benar terhadap Tuhan, yang dari padanya yang lain-lainnya telah jatuh. Jadi, meskipun semua umat manusia telah dibentuk untuk penyembahan terhadap Tuhan, dan karena itu agama yang sungguh-sungguh seharusnya ada dimana-mana untuk berkuasa; namun karena sebagian besar telah melacurkan dirinya sendiri, baik kepada penghinaan sepenuhnya terhadap Tuhan, atau kepada takhayul yang rusak; adalah sepatutnya bahwa sebagian kecil yang telah diadopsi Tuhan, melalui hak istimewa, bagi diri-Nya sendiri, harus tetap terpisah dari yang lain-lainnya. Karena itulah, rasa tidak tahu berterimakasih pada anak-anak keturunan Seth, untuk bercampur dengan anak-anak Kain, dan dengan ras-ras najis lainnya; karena mereka secara sukarela menghilangkan dari diri mereka sendiri kasih karuna Tuhan yang tak ternilai harganya.

Calvin menggambarkan bahwa dunia pada saat itu jahat, namun ia memaksakan ide bahwa dunia telah “terbagi menjadi dua bagian.” Dari mana kita bisa melihat pemikiran semacam itu ada di dalam Alkitab? Dia juga memperkenalkan filosofi deterministik tentang predestinasi dengan menyatakan bahwa tampaknya anak-anak Seth telah diadopsi melalui “hak istimewa.”

Kemudian, untuk mendukung pandangannya, dia harus menjelaskan tentang para raksasa (Nephilim) yang disebutkan dalam Kejadian 6:4 yang merupakan hasil perkawinan anak-anak Elohim (yang dia katakan anak-anak Seth) dan anak-anak perempuan Adam (yang dia katakan anak-anak perempuan Kain).

Musa tidak benar-benar mengatakan, bahwa mereka bertubuh luar biasa besar, tapi hanya bahwa mereka itu kuat. Di tempat lain, saya akui, kata yang sama menunjukkan perawakan yang besar, yang luar biasa bagi mereka yang menjelajahi tanah Kanaan, (Bilangan 13:33). Tapi Musa tidak membedakan mereka yang dia katakan di tempat ini, dari orang-orang lainnya, sebanyak oleh ukuran tubuh mereka, sama seperti oleh perampokan-perampokan mereka dan keinginan mereka untuk menguasai wilayah.

Calvin mengecilkan fakta bahwa hasil penyatuan antara anak-anak Elohim dan anak-anak perempuan manusia adalah orang-orang yang berukuran luar biasa besar. Dia hanya menegaskan bahwa mereka “raksasa” atau “kenamaan” dalam hal kejahatan mereka. Interpretasi Calvin tidak berdasar dan dia tidak sepenuhnya jujur ​​di sini karena kata (Nephilim) yang digunakan di kedua tempat itu sama persis.

Penolakannya terhadap siapakah anak-anak Elohim benar-benar telah menciptakan kebingungan besar yang telah mengaburkan interpretasi teks tersebut secara potensial bagi jutaan orang selama berabad-abad.

Masih banyak diajarkan secara luas sampai hari ini di antara banyak sekolah Alkitab, yang menganggap pandangan “Malaikat yang Jatuh” secara literal ini meresahkan. Ada banyak pengajar-pengajar Alkitab terkemuka yang masih membela pandangan teori Keturunan Seth.

Masalah-masalah Dalam Pandangan Keturunan Seth

Selain mengaburkan pemahaman penuh tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam bab-bab awal Kitab Kejadian, pandangan ini juga mengaburkan setiap kesempatan untuk memahami implikasi-implikasi profetik dari kiasan Alkitab tentang “Hari-hari Zaman Nuh.”

Lukas 17:26 (AYT) Dan, seperti yang telah terjadi pada hari-hari di zaman Nuh, demikianlah juga nanti pada hari-hari Anak Manusia.

Daniel 2:43 (KJV) And whereas thou sawest iron mixed with miry clay, they shall mingle themselves with the seed of men: but they shall not cleave one to another, even as iron is not mixed with clay. 

Daniel 2:43 (KJV) Dan sebagaimana engkau melihat besi bercampur dengan tanah liat, mereka akan menyatukan diri mereka dengan benih/keturunan manusia: tapi mereka tidak akan melekat satu sama lain, sama seperti besi tidak bercampur dengan tanah liat.

Beberapa dari banyaknya masalah dalam “Teori Keturunan Seth” antara lain:

1. Teks itu Sendiri

Tindakan pembebasan-pembebasan interpretasi substansial harus diambil terhadap teks literal untuk mendukung pandangan teori “Keturunan Seth”. (Dalam analisis data, sering dikatakan bahwa “jika Anda menyiksa data dengan hebat, dia pasti akan mengakui apa pun yang Anda inginkan.”)

Istilah yang diterjemahkan “Anak-anak Elohim” adalah, dalam bahasa Ibrani, B’nai HaElohim, “Anak-anak Elohim,” yang merupakan istilah yang secara konsisten digunakan dalam Perjanjian Lama untuk para malaikat, dan tidak pernah digunakan untuk orang-orang percaya di masa Perjanjian Lama. Perhatikan istilah yang digunakan oleh Ayub, di mana mereka ini sudah ada sebelum Penciptaan bumi.

Ayub 1:6 (ILT) Pada suatu hari, ketika anak-anak Elohim (Ibrani: benei ha’Elohim) datang menghadap YAHWEH, dan Satan pun datang di antara mereka.

Ayub 2:1 (ILT) Dan suatu hari, ketika anak-anak Elohim (Ibrani: benei ha’Elohim) datang menghadap YAHWEH, dan Satan pun datang di antara mereka menghadap YAHWEH.

Ayub 38:7 (ILT) ketika bintang fajar bernyanyi bersama-sama, dan semua anak Elohim (Ibrani: benei Elohim) bersorak-sorai dengan sukacita?

Tuhan Yeshua juga menyatakan hal yang sama:

Lukas 20:36 (ILT) Sebab mereka tidak dapat mati lagi, karena mereka itu seperti malaikat, dan mereka adalah anak-anak Elohim, karena menjadi anak-anak kebangkitan.

Hal ini sangat dipahami oleh sumber-sumber rabbi kuno, oleh para penerjemah Alkitab Septuaginta di abad ke-3 sebelum Kristus, dan oleh para bapa gereja mula-mula. Usaha-usaha terkemudian untuk memakai istilah “anak-anak Elohim” ini terhadap “kepemimpinan ilahi” dari garis Keturunan Seth merupakan tindakan yang tidak memiliki dasar-dasar Alkitabiah.

Interpretasi “anak-anak lelaki Seth dan anak-anak perempuan Kain” memaksakan dan mengaburkan makna gramatikal yang dimaksudkan penulis Kitab Kejadian untuk menerangkan antitesis antara Anak-anak Elohim dengan anak-anak perempuan Adam. Usaha-usaha untuk menghubungkan pandangan lain terhadap teks ini bermunculan selama abad-abad awal pemahaman teks Ibrani di antara para rabbi maupun sarjana gereja mula-mula. Antitesis leksikografi jelas dimaksudkan untuk menetapkan perbedaan kontras antara “para malaikat” dengan para perempuan Bumi.

Jika teks itu dimaksudkan untuk memberikan perbedaan kontras antara “anak-anak lelaki Seth dengan anak-anak perempuan Kain,” mengapa tidak dikatakan secara langsung? Seth bukan Tuhan, dan Kain bukan Adam. (Mengapa bukan “anak-anak lelaki Kain” dan “anak-anak perempuan Seth?” Tidak ada dasar untuk membatasi teks tersebut terhadap salah satu subset keturunan Adam. Lebih jauh, tidak ada disebutkan anak-anak perempuan Elohim.)

Dan bagaimana interpretasi teori “Keturunan Seth” berkontribusi terhadap penyebab nyata terjadinya penghukuman Air Bah, yang merupakan pendorong utama dalam teks tersebut? Seluruh pandangan “Teori Seth” dibangun dengan serangkaian asumsi-asumsi tanpa dasar-dasar dukungan Kitab Suci.

Istilah Alkitab “Anak-anak Elohim” (yaitu, yang berasal dari Sang Pencipta sendiri), terbatas pada penciptaan langsung oleh tangan Ilahi, dan bukan kepada mereka yang dilahirkan dari tatanan mereka sendiri.

Anak-anak Elohim bahkan diperbandingkan secara kontras dengan anak-anak Adam dalam Mazmur 82.

Mazmur 82:1,2,6,7 (ILT) Mazmur Asaf. Elohim berdiri di tengah-tengah jemaat Elohim; Dia menghakimi di tengah para ilah (Ibrani: elohim). 2. Berapa lama lagi engkau mengadili dengan tidak adil, dan mengangkat wajah orang-orang fasik? Sela. 6. Aku telah berfirman, “Kamu adalah elohim, dan kamu semua adalah anak-anak Yang Mahatinggi. 7. Namun kamu akan mati sebagai manusia (Ibrani: Adam), dan sebagai salah seorang pembesar, kamu akan tewas.”

Dan Elohim memperingatkan bahwa jika mereka terus melakukan kejahatan seperti disebutkan dalam ayat 2, mereka akan mati seperti Adam (manusia). Ketika Tuhan Yeshua mengutip ayat ini (Yohanes 10:34) pada waktu menjawab orang-orang Yahudi yang hendak merajamnya, Dia tidak menyebutkan tentang kepada tatanan makhluk-makhluk manakah Elohim menujukan firman-Nya dalam Mazmur ini, namun Firman Tuhan tidak dilanggar, entahkah makhluk-makhluk yang dimaksud itu adalah malaikat atau manusia.

Di dalam silsilah Lukas tentang Yeshua, hanya Adam seorang diri saja yang disebut “anak Elohim”, sedangkan Seth disebut anak Adam.

Lukas 3:38 (ILT) anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Elohim.

Keseluruhan drama Alkitab berhubungan dengan tragedi bahwa umat manusia ini merupakan ras yang telah jatuh, ketika imortalitas (keabadian) Adam yang mula-mula telah hilang. Dan Kristus melalui kedatangan-Nya yang pertama ke dunia, secara supranatural memberikan kepada semua orang yang menerima Dia kuasa untuk menjadi anak-anak Elohim.

Yohanes 1:11-12 (IMB) Dia datang kepada umat kepunyaan-Nya, tetapi mereka tidak menerima Dia. Namun, semua orang yang menerima Dia, diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Elohim, yaitu mereka yang percaya dalam Nama-Nya,

Dilahirkan kembali dari Roh Elohim, sebagai ciptaan yang sama sekali baru, pada waktu kebangkitan mereka sendiri, mereka akan dikenakan pakaian buatan Elohim sendiri dan dalam segala hal, menjadi sama dengan para malaikat.

Lukas 20:36 (ILT) Sebab mereka tidak dapat mati lagi, karena mereka itu seperti malaikat, dan mereka adalah anak-anak Elohim, karena menjadi anak-anak kebangkitan.

2Korintus 5:1-4 (ILT) Sebab kami tahu, bahwa manakala rumah (Yunani: oikia; rumah, tempat kediaman) tabernakel duniawi (tubuh jasmani) kita ini dibongkar, kita mempunyai suatu bangunan dari Elohim, yaitu sebuah rumah (Yunani: oikia) yang kekal (tubuh surgawi) di surga, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. Sebab juga, di sini kita mengeluh karena rindu mengenakan tempat kediaman (Yunani: oiketerion; rumah, tubuh, tempat tinggal) kita yang dari surga, jika demikian, dengan berpakaian maka kita tidak akan didapati telanjang. Sebab juga, selagi berada di dalam tabernakel (tubuh jasmani) ini kita mengeluh karena dibebani, sebab kita tidak ingin bertelanjang melainkan berpakaian, supaya yang bisa mati dapat ditelan oleh kehidupan.

Istilah Yunani “oiketerion“, berhubungan dengan tubuh surgawi yang sangat dirindukan orang-orang percaya untuk dikenakan, adalah istilah yang sama persis yang digunakan terhadap tubuh-tubuh surgawi yang dilepaskan atau ditanggalkan oleh para malaikat yang jatuh.

Yudas 1:6 (ILT) Juga para malaikat, mereka yang tidak menjaga asal-usul (Yunani: arche; permulaan, asal-usul, kedudukan awal, prinsip/asas/dasar, tatanan, tempat kedudukan, penguasa, memerintah) mereka sendiri, malah telah meninggalkan kediamannya (Yunani: oiketerion; tempat tinggal, tubuh [surgawinya]) sendiri, Dia telah menahan mereka dengan belenggu abadi di bawah kekelaman, sampai pada penghakiman pada hari yang besar.

Istilah “oiketerion” (tubuh, tempat kediaman) ini hanya muncul 2 kali dalam keseluruhan Alkitab, yaitu untuk menggambarkan tubuh surgawi. Yang satu menggambarkan para malaikat yang menanggalkan tubuh surgawi mereka, dan yang satunya menggambarkan orang-orang percaya yang akan dikenakan tubuh surgawi pada waktu kebangkitan.

Upaya untuk menginterpretasikan istilah “Anak-anak Elohim” dalam arti yang lebih luas tidak memiliki dasar-dasar tekstual dan mengaburkan ketepatan penggunaan maknanya. Ini terbukti merupakan asumsi-asumsi yang bertentangan dengan keseragaman penggunaan istilah Alkitab tersebut.

2. Anak-anak Perempuan Kain

Istilah “Anak-anak perempuan Adam” juga tidak menunjukkan batasan hanya terhadap garis keturunan Kain saja, namun jelas dimaksudkan keseluruhan umat manusia. Anak-anak perempuan ini adalah anak-anak perempuan yang dilahirkan bagi manusia, seperti yang terdapat dalam kalimat pembuka ini:

Kejadian 6:1-2 (ILT) Dan terjadilah, ketika manusia (Ibrani: Adam) di muka bumi mulai berlipat ganda, dan anak-anak perempuan telah diperanakkan bagi mereka [bagi manusia], lalu anak-anak Elohim melihat anak-anak perempuan manusia (Ibrani: Adam), bahwa mereka elok. Maka mereka mengambil istri-istri bagi mereka semua yang telah mereka pilih.

Sangat jelas dari teks bahwa anak-anak perempuan ini tidak terbatas kepada keluarga atau subset tertentu, namun, dari (semua) Benoth Adam, “anak-anak perempuan Adam.” Tidak ada pengecualian nyata terhadap anak-anak perempuan Seth. Atau, apakah mereka ini begitu buruk rupa, sama sekali tanpa pesona, yang begitu kontras dengan anak-anak perempuan Kain? Dari teks ini sangat jelas bahwa semua keturunan perempuan Adam tampaknya terlibat, “bahwa anak-anak perempuan manusia (Adam) itu cantik-cantik”. (Lalu bagaimana dengan “anak-anak lelaki Adam?” Di manakah posisi mereka, menggunakan dikotomi yang dibuat-buat ini?)

Lebih jauh, garis keturunan Kain belum tentu terkenal karena kefasikannya. Dari studi terhadap penamaan anak-anak Kain, banyak di antaranya menggunakan nama Elohim, jadi belum jelas bahwa mereka semua pastilah orang-orang yang fasik.

Kejadian 4:17,18 (ILT) Dan Kain bersetubuh dengan istrinya dan istrinya mengandung dan melahirkan Henokh. … Dan bagi Henokh lahirlah Irad, dan Irad memperanakkan Mehuyael, dan Mehuyael memperanakkan Metusael (artinya: juara Elohim, manusia Elohim, berasal dari Elohim), dan Metusael memperanakkan Lamekh.

3. Yang Diduga Garis Pemisahan

Konsep “garis” terpisah antara anak-anak keturunan Kain dengan anak-anak keturunan Seth itu sendiri semata-mata hanyalah dugaan dan bertentangan dengan Kitab Suci. Pemisahan bangsa-bangsa dan ras-ras jelas-jelas merupakan hasil intervensi berikutnya dari Elohim dalam Kejadian 11, pada peristiwa Menara Babel lima pasal kemudian.

Kejadian 11:6 (ILT) Dan YAHWEH berfirman, “Lihatlah, bangsa ini satu, dan bahasa pun satu untuk semua mereka.”

Tidak ada indikasi bahwa garis keturunan Seth dan garis keturunan Kain menjaga diri mereka tetap terpisah satu sama lain, dan bahkan tidak ada instruksi untuk itu. Perintah untuk tetap terpisah baru diberikan belakangan kepada Ishak dan Yakub. Kejadian 6:12 menegaskan bahwa semua manusia telah merusak jalan-Nya di atas bumi.

4. Yang Diduga Keturunan Seth yang Saleh

Tidak ada bukti-bukti, baik secara nyata ataupun tersirat, bahwa garis keturunan Seth itu saleh. Hanya satu orang yang diangkat (“rapture”) dari penghakiman yang terjadi (Henokh) dan hanya delapan orang yang diberikan perlindungan di dalam bahtera. Tidak ada seorang pun di luar keluarga dekat Nuh yang layak diselamatkan. Bahkan, teks tersebut menyiratkan bahwa mereka ini berbeda dari semua yang lainnya. (Tidak ada bukti bahwa istri-istri anak-anak Nuh berasal dari garis keturunan Seth.) Meski demikian, Gaebelein mengamati bahwa, “Istilah ‘Anak-anak Elohim’ tidak pernah dipakai dalam Perjanjian Lama terhadap orang-orang percaya,” yang kedudukannya sebagai anak laki-laki “jelas-jelas merupakan pewahyuan Perjanjian Baru.” (A.C. Gaebelein, The Annotated Bible (Penteteuch), hal. 29)

“Anak-anak Elohim” melihat anak-anak perempuan manusia bahwa mereka cantik-cantik dan mengambil mereka sebagai istri-istri dari semua yang mereka pilih. Tampaknya para wanita tersebut tidak punya pilihan dalam masalah ini. Implikasi dominasi atau pemaksaan di sini sulit dipahami sebagai perbuatan yang saleh terhadap perkawinan ini. Bahkan penyebutan bahwa mereka memandang anak-anak perempuan manusia itu menarik, tampak tidak pada tempatnya jika hanya melibatkan nafsu biologis normal. (Apakah anak-anak perempuan Seth buruk parasnya dan begitu tidak menarik?)

Juga harus diungkapkan fakta bahwa anak laki-laki Seth sendiri, yakni Enosh, terdapat bukti-bukti tekstual bahwa, ketimbang reputasi yang saleh, Enosh tampaknya telah memprakarsai penajisan nama Elohim.

Kejadian 4:26 (ILT) Dan bagi Set, seorang anak laki-laki telah dilahirkan baginya juga, dan dia menyebut namanya Enos. Maka orang mulai (Ibrani: chalal; menajiskan) berseru dalam Nama YAHWEH.

Kejadian 4:26 secara luas dianggap sebagai terjemahan yang keliru. Yang benar: “Maka mulailah orang menajiskan nama YAHWEH.” Ini disetujui Targum Onkelos yang dihormati; Targum Jonathan Ben Uzziel; juga sumber-sumber rabbi yang terhormat seperti Kimchi, Rashi, dkk. Juga, Jerome. Juga, Maimonides yang terkenal, Commentary on the Mishnah, 1168 M.

Jadi, jika garis keturunan Seth begitu saleh, mengapa mereka binasa dalam Air Bah?

5. Keturunan Yang Tidak Wajar

Kekeliruan paling fatal dalam argumen pandangan teori “Keturunan Seth” adalah munculnya Nephilim sebagai hasil perkawinan yang tidak wajar ini. (Membelokkan terjemahan menjadi “para raksasa” tidak menyelesaikan permasalahan.) Adalah anak-anak keturunan dari penyatuan aneh dalam Kejadian 6:4 inilah yang tampaknya disebut sebagai penyebab utama Air Bah.

Kejadian 6:4 (ILT) Pada hari-hari itu, para raksasa (Ibrani: Nephilim) telah ada di bumi, bahkan juga sesudahnya, ketika (Ibrani: asher) anak-anak Elohim menghampiri anak-anak perempuan manusia dan mereka telah melahirkan baginya; mereka [yakni Nephilim] adalah orang-orang perkasa yang ada sejak lama, orang-orang yang ternama.

Kata Ibrani “asher” (H834) adalah kata kunci yang dipertanyakan. Itu adalah kata yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “when” (ketika). Dari kamus Konkordansi Strong, kata “asher” juga punya arti-arti lain yang sama validnya, yakni: which (1800), whom (291), because (105), where (101), who (95), whose (88), when (85), what (80), wherein (77), whither (76), wherewith (67), whatsoever (32), how (31), whereof (23), whithersoever (22), whosoever (21), …

Dalam Alkitab Terjemahan Bahasa Indonesia, kata penghubung “asher” paling banyak diterjemahkan: yang (4021), seperti (114), karena (170), …

Di sini kita melihat bahwa salah satu arti dari kata penghubung “asher” yang paling banyak digunakan adalah “karena“. Dan bila diterapkan pada ayat di atas:

Kejadian 6:4 (ILT) Pada hari-hari itu, para raksasa (Ibrani: Nephilim) telah ada di bumi, bahkan juga sesudahnya, karena (Ibrani: asher) anak-anak Elohim menghampiri anak-anak perempuan manusia dan mereka telah melahirkan baginya; mereka adalah orang-orang perkasa yang ada sejak lama, orang-orang yang ternama.

Secara tekstual, kata “asher” ini mengkonfirmasi bahwa keberadaan Nephilim (para raksasa) di bumi adalah akibat [baca: hasil] perkawinan aneh antara anak-anak Elohim dengan anak-anak perempuan manusia. Nephilim berasal dari akar kata “naphal” yang artinya: “ditinggalkan“, “dilahirkan“, “dicampakkan ke bawah“, “rusak“, “cacat“, “jatuh“, “inferior“, “dibunuh“, “binasa“, “buangan“, “dibuang”, “buronan”, “pelarian”.

Perkawinan oleh para orang tua yang berbeda pandangan agama tidak mungkin menghasilkan keturunan yang tidak wajar. Orang-orang percaya yang kawin dengan orang-orang fasik mungkin bisa menghasilkan “monster-monster” (anak-anak pemberontak), tapi mustahil menghasilkan manusia raksasa super, atau makhluk abnormal! Adalah perkawinan yang tidak wajar dan makhluk-makhluk abnormal yang dihasilkan dari perkawinan campuran inilah yang menjadi alasan utama penghakiman Air Bah, yang bisa dilihat dari ayat 12 Kejadian 6:

Kejadian 6:12 (ILT) Maka Elohim menilik bumi, dan lihatlah, itu telah rusak, karena segala makhluk (Ibrani: basar) telah merusak jalan hidupnya (Ibrani: derek) di bumi.

Penulis Kitab Kejadian menggunakan kata “basar” untuk menerangkan bahwa segala makhluk hidup yang ada di atas muka bumi telah rusak jalan hidupnya, atau tatanan mereka. “Basar” memiliki arti: daging, tubuh, segala makhluk hidup, binatang, umat manusia; kata “basar” paling banyak diterjemahkan “daging”. Ini menunjukkan, bahwa kerusakan di bumi itu lebih dari sekedar kerusakan “moral” dan “spiritual” manusia, tapi sudah mencakup kerusakan fisik (tubuh daging) dari segala makhluk hidup. Penulis Kejadian bisa menggunakan kata “iysh” (diterjemahkan: manusia laki-laki) atau “Adam” (diterjemahkan: umat manusia), jika memang yang dimaksudkan hanyalah kerusakan “moral” dan “spiritual” umat manusia, yang menjadi jahat.

Ini yang mendasari mengapa Elohim melenyapkan mulai dari manusia sampai hewan, sampai binatang merayap dan sampai burung-burung di udara; atau dengan kata lain “segala makhluk hidup” (basar; daging).

Kejadian 6:7 (ILT) Dan YAHWEH berfirman, “Aku akan melenyapkan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, dari manusia sampai hewan, sampai yang merayap dan sampai burung-burung di udara, karena Aku menyesal bahwa Aku telah menjadikan mereka.”

Hal ini kemudian dikontraskan dengan Nuh. Ketiadaan pencampuran genetika apa pun dalam kasus Nuh didokumentasikan dalam Kejadian 6:9:

Kejadian 6:9 (IMB) Inilah silsilah Nuh. Nuh adalah seorang yang benar, ia tidak bercela (Ibrani: tamiym) di antara orang-orang yang hidup sezaman dengannya. Nuh hidup berjalan dengan Elohim.

Silsilah keluarga Nuh secara khusus tidak bercacat. Istilah yang digunakan, tamiym, digunakan untuk noda, cacat, kecemaran fisik. (Bandingkan Keluaran 12:5, 29; Imamat 1:3, 10; 3:1, 6; 4:3, 23; 5:15, 18, 25; 22:19, 21; 23:12; Bilangan 6:14; dll. Lebih dari 60 referensi, yang umumnya mengacu pada persembahan-persembahan yang bebas dari noda, cacat, kecemaran fisik.)

Mengapa anak-anak keturunan mereka secara khusus digelari “perkasa” dan “orang-orang yang kenamaan?” Deskripsi yang menggambarkan anak-anak keturunan mereka ini tidak akan disebut demikian jika para ayah mereka ini hanyalah manusia laki-laki normal, bahkan sekalipun saleh.

Permasalahan selanjutnya adalah bahwa keturunan mereka hanyalah laki-laki; tidak disebutkan “wanita-wanita yang kenamaan”. (Apakah terjadi cacat kromosom di antara keturunan Seth? Apakah hanya terdapat kromosom “Y” dalam garis keturunan ini?)

Setiap gamet manusia memiliki 23 pasang kromosom: pria memiliki kromosom “Y” (lebih pendek) dan “X” (lebih panjang); sedangkan wanita, hanya kromosom “X”. Jenis kelamin sel telur yang telah dibuahi ditentukan oleh sel sperma yang membuahi sel telur: “X+Y” menghasilkan anak laki-laki; “X+X” menghasilkan anak perempuan. Jadi, pria memiliki kromosom penentu jenis kelamin.

Jika benar perkawinan antara “anak-anak Seth yang saleh” dengan “anak-anak Kain yang fasik” menghasilkan keturunan orang-orang raksasa, orang-orang yang gagah perkasa, orang-orang yang kenamaan, maka bumi ini sekarang sudah pasti hancur karena dipenuhi raksasa-raksasa ganas yang penuh kekerasan, dan Elohim mungkin perlu berkali-kali mengirimkan Air Bah untuk setiap kali membersihkan bumi ini dari anak-anak raksasa hasil perkawinan “orang benar dengan orang fasik.”

6. Konfirmasi Perjanjian Baru

“Dari perkataan dua atau tiga orang saksi, setiap perkara dapat diteguhkan” (Ulangan 19:15; Matius 18:16; 26:50; 2Korintus 13:1).

Dalam masalah-masalah Alkitabiah, adalah hal penting untuk selalu membandingkan ayat Kitab Suci dengan ayat Kitab Suci. Konfirmasi Perjanjian Baru yang tercatat dalam surat Yudas dan 2Petrus mustahil untuk diabaikan begitu saja.

2Petrus 2:4-5 (ILT) Sebab, jika Elohim tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang telah berdosa, sebaliknya, Dia telah menyerahkan ke dalam belenggu-belenggu kegelapan dengan melemparkannya ke dalam Tartarus [neraka] untuk ditahan sampai penghakiman; dan tidak menyayangkan dunia purba, kecuali memelihara kedelapan orang Nuh, pemberita kebenaran, ketika mengirim air bah atas dunia orang-orang fasik;

Penjelasan Rasul Petrus di sini bahkan menetapkan garis waktu terjadinya peristiwa kejatuhan para malaikat ini sampai pada hari-hari zaman Banjir Nuh.

Bahkan kosa kata yang dipakai Petrus pun provokatif. Petrus menggunakan istilah Tartarus, yang di sini diterjemahkan “neraka“. Inilah satu-satunya tempat dimana istilah Yunani ini muncul dalam keseluruhan Alkitab. Tartarus adalah istilah Yunani untuk “tempat kediaman yang gelap dari mereka yang terkutuk (celaka, sengsara)“; “jurang kegelapan di dunia yang tak kelihatan.” Seperti yang digunakan dalam Iliad Homer, ini adalah “… jauh di bawah hades [neraka] seperti bumi di bawah langit.” (Homer, Iliad, viii 16.)

Dalam mitologi Yunani, beberapa demigod (makhluk setengah dewa), dewa-dewa Chronos dan dewa-dewa Titan yang memberontak, dikatakan telah melakukan pemberontakan melawan ayah mereka, Uranus, dan setelah melalui peperangan yang berkepanjangan (Gigantomachy), mereka dikalahkan oleh Zeus dan dilemparkan ke dalam Tartarus, jurang neraka yang paling dalam.

Surat Yudas juga menyinggung peristiwa-peristiwa aneh ketika para malaikat ini melakukan intrusi asing ke dalam proses reproduksi manusia:

Yudas 1:6-7 (ILT) Juga para malaikat, mereka yang tidak menjaga asal-usul mereka sendiri, malah telah meninggalkan kediamannya (Yunani: oiketerion; tubuh [surgawi]) sendiri, Dia telah menahan mereka dengan belenggu abadi di bawah kekelaman, sampai pada penghakiman pada hari yang besar. Seperti halnya Sodom dan Gomora serta kota-kota di sekitarnya yang dengan gaya (Yunani: tropos; cara, gaya, kelakuan, jalan, tata cara, seperti, tingkah laku, sikap) yang serupa dengannya, yang menyerahkan diri kepada percabulan dan mengumbar kedagingan (Yunani: sarx) yang aneh (Yunani: heteros), mereka dipertontonkan sebagai contoh orang-orang yang menjalani hukuman api yang kekal.

Istilah-istilah “mengumbar kedagingan yang aneh,” tidak menjaga “asal-usul mereka sendiri,” telah “meninggalkan kediaman mereka sendiri,” dan “menyerahkan diri mereka kepada percabulan,” tampak jelas menggambarkan peristiwa intrusi asing pada Kejadian 6.

Istilah untuk “tempat kediaman,” oiketerion, mengacu pada tubuh-tubuh surgawi mereka yang telah mereka tanggalkan. [Kata ini hanya digunakan satu kali lagi pada 2Korintus 5:2, yang berbicara tentang tubuh surgawi yang akan dikenakan oleh orang-orang percaya pada waktu kebangkitan!]

Dalam ayat ini, Rasul Yudas secara spesifik memperbandingkan orang-orang Sodom dan Gomora dengan para malaikat yang menyerahkan diri (menanggalkan tubuh surgawi (oiketerion) mereka) untuk melakukan percabulan dan mengumbar nafsu “kedagingan yang aneh” (Yunani: sarkos heteras). Kata “yang aneh” menggunakan bahasa Yunani “heteros” (G2087), yang artinya: yang lain, bukan dari spesies yang sama, bukan dari sifat alami yang sama, bentuk yang lain, kelas yang lain, jenis yang lain, berbeda, aneh. Ini memberikan indikasi yang sangat spesifik tentang terjadinya percabulan atau hubungan daging (sarx) secara seksual [yang tidak wajar/tidak alami/aneh], antara para malaikat [yang jatuh] itu dengan spesies, jenis, kelas, bentuk lahiriah yang berbeda dari mereka (dalam kasus ini, Yudas membawa kita untuk mengingat peristiwa Kejadian 6:2,4; yaitu perkawinan/percabulan antara “anak-anak Elohim” dengan “anak-anak perempuan Adam”).

Dari catatan Kitab Suci, kita tahu bahwa orang-orang lelaki Sodom hendak melakukan hubungan seks dengan kedua malaikat yang menginap di rumah Lot.

Kejadian 19:5 (ILT) Dan mereka [seluruh laki-laki Sodom] berseru kepada Lot dan berkata kepadanya, “Di manakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami dapat menggauli mereka.”

Meskipun usaha mereka gagal, perbandingan kedua peristiwa ini memiliki ukuran kesetaraan dalam hal tindakan “percabulan” atau “hubungan daging (sarx) yang aneh” antar dua jenis, spesies, kelas, bentuk lahiriah makhluk yang berbeda, yakni manusia dan malaikat.

  • Catatan samping: Kita juga tahu dari teks Kitab Suci, bahwa kedua malaikat ini mengambil wujud tubuh lahiriah manusia laki-laki (Ibrani: iysh), dimana mereka bisa menggandeng tangan Lot, tangan istrinya, dan tangan kedua anak perempuannya (Kejadian 19:1,10,16-17).

Kejadian 19:15-16 (ILT) Dan ketika fajar menyingsing, maka malaikat-malaikat (Ibrani: malakim) itu mendesak Lot dengan mengatakan, “Bangunlah, ajaklah istrimu dan kedua anak perempuanmu yang ada di sini supaya kamu jangan dibinasakan bersama penghukuman kota ini.” Dan dia berlambat-lambat, dan orang-orang (Ibrani: iysh; laki-laki) itu memegang tangannya dan tangan istrinya, dan tangan kedua anak perempuannya, karena YAHWEH berbelaskasihan kepadanya. Dan mereka membawanya ke luar, dan melepaskannya di luar kota itu.

Istilah-istilah dari Perjanjian Baru di atas secara fatal mengungkap kelemahan teori “Seth” dalam interpretasi Kejadian 6. Jika hubungan seksual antara “anak-anak Elohim” dengan “anak-anak perempuan manusia” hanyalah perkawinan antara anak-anak keturunan Seth dan Kain, mustahil untuk menjelaskan bagian-bagian dari surat Yudas dan 2Petrus ini. Demikian juga alasan mengapa sebagian malaikat yang jatuh dipenjarakan di dalam Tartarus, sedangkan malaikat yang jatuh lainnya (termasuk Satan atau Lucifer) masih bebas berkeliaran di alam surgawi.

7. Implikasi-implikasi Pasca Banjir Besar

Eksistensi anak-anak keturunan Nephilim juga berlanjut sesudah Banjir Besar: “Pada waktu itu orang-orang raksasa (Nephilim) ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya…” Pandangan teori “Seth” gagal menjelaskan secara mendasar kondisi besar yang berlaku “dan juga pada waktu sesudahnya.” Teori Seth tidak memberikan wawasan tentang kehadiran para “raksasa” berikutnya di tanah Kanaan.

Bilangan 13:33 (ILT) Dan di sana kami telah melihat raksasa-raksasa (Ibrani: Nephilim), keturunan Enak (Ibrani: Anak), yang berasal dari para raksasa (Ibrani: Nephilim). Maka di mata kami, kami menjadi seperti belalang, dan demikian pulalah kami di mata mereka.”

Salah satu aspek yang meresahkan dari catatan Perjanjian Lama adalah instruksi Tuhan kepada bangsa Israel, saat memasuki tanah Kanaan, untuk memusnahkan sama sekali setiap laki-laki, perempuan, anak-anak dan bahkan binatang-binatang dari suku-suku tertentu yang mendiami tanah Kanaan. Hal ini sulit untuk dibenarkan tanpa adanya pemahaman tentang “masalah genetika” dari sisa-sisa Nephilim, Rephaim, Zamzumim, Anakim, yang tampaknya menjelaskan permasalahan tersebut.

Inilah masalahnya: Jika Anda membuang pemahaman historis Ibrani yang didokumentasikan dengan baik tentang eksistensi Nephilim sebagai keturunan para malaikat (dan perusakan genetika), pada dasarnya Anda membuat YHWH kelihatan seperti Elohim yang sakit jiwa, yang haus darah, ganas, berpraduga buruk, yang melakukan tindakan-tindakan genosida secara acak dan semena-mena. Mengapa? Karena dengan pandangan teori Seth, Anda tidak memiliki dasar penjelasan yang masuk akal mengapa YHWH di satu pihak mengizinkan orang-orang Israel mengambil kaum perempuan, anak-anak dan kawanan hewan sebagai jarahan perang di beberapa kampanye militer, sementara di kesempatan lain, orang-orang Israel diperintahkan untuk “benar-benar membinasakan” segala sesuatunya – termasuk kaum perempuan, anak-anak dan hewan. Pembacaan Kitab Suci secara cermat di dalam Torah dan bagian lain, di mana bangsa Israel diperintahkan untuk benar-benar menghancurkan segala sesuatu, secara konsisten ditemukan ada dalam konteks pemusnahan Nephilim.

Tanpa pemahaman akan keturunan hibrid, Anda juga tidak memiliki dasar penjelasan tentang deskripsi-deskripsi bangsa Kanaan yang dituliskan dalam Kitab Suci. Misalnya, Anda akan sulit menemukan jawaban yang masuk akal mengapa para orang tua dengan bangga akan menamai anak-anak mereka yang baru lahir dengan nama-nama seperti “teror” (Heth – Kejadian 10:15) dan “benteng murka” (Hamath – Kejadian 10:18).

Berhubungan seks dengan sepupu sama sekali tidak akan melahirkan raksasa-raksasa Amori yang berukuran sebesar “pohon-pohon aras” (Amos 2:9) yang memiliki “perawakan tinggi” (Bilangan 13:28-33), dan kuat seperti “pohon-pohon raksasa” (Amos 2:9).

Amos 2:9 (ILT) Dan Aku telah membinasakan orang Amori dari hadapan mereka, yang tingginya seperti tinggi pohon-pohon aras, dan dia kuat seperti pohon-pohon raksasa. Dan Aku merusakkan buahnya dari atas, dan akar-akarnya dari bawah.

Pohon aras secara umum tingginya mencapai 15 meter, sedangkan pohon aras Libanon yang terkenal, seringkali menjadi rujukan dalam Alkitab itu tingginya bisa mencapai 35 meter.

8. Implikasi-implikasi Profetik

Alasan lain mengapa pemahaman tentang Kejadian 6 sangat penting adalah bahwa hal itu merupakan prasyarat mutlak untuk memahami (dan mengantisipasi) tipu muslihat Satan (2Korintus 2:11) dan khususnya, daya kerja penyesatan besar yang akan datang atas seluruh penduduk dunia, sebagai tema utama dari nubuatan Akhir Zaman.

2Tesalonika 2:9,11 (KJV) Yakni dia, yang kedatangannya adalah berdasarkan daya kerja (Yunani: energeia) Satan, dengan segala kuasa dan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban palsu, … Dan karena itulah Elohim akan mengirimkan daya kerja (Yunani: energeia) kesesatan kepada mereka supaya mereka percaya pada kebohongan…

Kami akan membahas topik ini pada seri artikel “Kembalinya Nephilim.”

Kesimpulan

Jika seseorang menerima pandangan terintegrasi dari Kitab Suci, maka dia bisa melihat segala sesuatu di dalamnya akan “saling terkait.” Merupakan pandangan para penulis Kitab Suci bahwa pemahaman konsep “Malaikat yang Jatuh”, sekalipun meresahkan, adalah penyajian teks Alkitab yang jelas dan sebenarnya, yang dikonfirmasi oleh banyak referensi-referensi Perjanjian Baru dan juga sangat dipahami baik oleh para rabbi Yahudi dan sarjana Kristen mula-mula. Pandangan teori “Keturunan Seth” merupakan sarana yang nyaman dari rangkaian asumsi-asumsi yang tidak dapat dibenarkan, yang bertentangan dengan catatan-catatan lain dalam Kitab Suci.

Juga harus diungkapkan bahwa kebanyakan ahli Alkitab konservatif menerima pandangan “Malaikat yang Jatuh”. Di antara mereka yang mendukung pandangan “Malaikat” ini adalah: G. H. Pember, M. R. DeHaan, C. H. McIntosh, F. Delitzsch, A. C. Gaebelein, A. W. Pink, Donald Grey Barnhouse, Henry Morris, Merril F. Unger, Arnold Fruchtenbaum, Hal Lindsey, dan Chuck Smith, di antara yang paling dikenal. (The International Standard Bible Encyclopaedia, Wm. B. Eerdmans Publishing Co., Vol V, p.2835-2836.)

Bagi mereka yang menerima deskripsi Alkitab secara serius, argumen-argumen yang mendukung pandangan “Malaikat yang Jatuh” tampak sangat meyakinkan dan membuka cakrawala baru dalam memandang implikasi profetik penggenapan nubuat Akhir Zaman. Bagi mereka yang menuruti kemauan untuk membuat asumsi-asumsi bebas terhadap presentasi teks yang sudah jelas, tidak ada pembelaan yang bisa terbukti final. (Dan bahaya-bahaya yang lebih besar daripada implikasi-implikasi yang menyertai masalah ini menanti mereka!)

Baca:

Kembalinya Nephilim | Serbuan Malaikat Secara Bertubi-tubi?

Kembalinya Nephilim | Keturunan Malaikat yang Jatuh

Kembalinya Nephilim, Pada Hari-hari Sebelum Banjir Besar Memusnahkan Bumi

Kembalinya Nephilim, Ras Raksasa Purbakala ke Dalam Dunia Pasca-Banjir Besar Menghancurkan Bumi

Kembalinya Nephilim, Tanda Khusus Kedatangan Yesus

Hari-hari pada Zaman Nuh adalah Hari-hari pada Zaman Nephilim: Itu Akan Terjadi Kembali

Referensi:

George Hawkins Pember, Earth’s Earliest Ages, first published by Hodder and Stoughton in 1875, and presently available by Kregel Publications, Grand Rapids MI, 1975.

John Fleming, The Fallen Angels and the Heroes of Mythology, Hodges, Foster, and Figgis, Dublin, 1879.

Henry Morris, The Genesis Record, Baker Book House, Grand Rapids MI, 1976.

Merrill F. Unger, Biblical Demonology, Scripture Press, Chicago IL, 1952.

Clarence Larkin, Spirit World, Rev. Clarence Larkin Estate, Philadelphia PA, 1921.

The Sethite Theory: Finally Destroyed – Video

The Sons of Seth and Daughters of Cain Theory Refuted

Demolishing the Sethite Theory with Historical Facts

Refuting the Sethite view (again)

Mischievous Angels or Sethites?

Nephilim

The Watchers and Antediluvian Wisdom

Iklan