Yom Kippur, atau “Hari Raya Pendamaian,” adalah hari paling kudus dalam tahun Yahudi, dan memiliki nilai profetik mengenai Kedatangan Messias yang kedua kali, restorasi nasional Israel, dan penghakiman terakhir atas dunia. Itu juga adalah hari yang mengungkapkan perbuatan Imam Besar dari Yeshua sebagai Kohen Gadol (Imam Besar) menurut aturan Malki-Tzedek (Ibrani 5:10, 6:20).

Istilah Yom Kippur sebenarnya tertulis dalam bentuk jamak dalam Torah, Yom Ha-Kippurim, mungkin karena proses pemurnian itu yang membersihkan banyak pelanggaran-pelanggaran, kejahatan, dan dosa-dosa. Nama itu juga memiliki arti dua pendamaian besar yang diberikan oleh YHWH – pertama, bagi mereka dari antara Goyim (bangsa-bangsa non Yahudi) yang berpaling kepada Yeshua untuk mendapatkan penyucian dan pengampunan dosa, dan kedua bagi bangsa Yahudi lahiriah yang akan menerima Messias Yeshua pada masa Kesusahan Besar, selama Yom Adonai, Hari Besar YHWH pada Akhir Zaman.

Kippurim dapat dibaca juga Yom Ke-Purim, “hari seperti Purim,” yaitu, hari penyelamatan dan keselamatan (seperti dijelaskan dalam Kitab Esther). Sekaligus hari dimana Yeshua mengurbankan diri-Nya sendiri di kayu salib, yang merupakan “Purim” terbesar dari semuanya, karena melalui Dia setiap orang yang percaya kepadanya dibebaskan untuk selamanya dari tangan musuh-musuh mereka.

Torah menyatakan bahwa Yom Kippur merupakan satu-satunya kesempatan dimana Imam Besar boleh masuk ke dalam Ruang Maha Kudus dan memanggil Nama YHWH untuk mempersembahkan kurban darah bagi dosa-dosa seluruh umat. Prinsip “nyawa ganti nyawa” ini adalah dasar sistem pengurbanan dan menandai hari besar syafaat yang dilakukan Imam Besar bagi bangsa Israel.

Dalam tradisi Yudaisme, Yom Kippur – Hari Raya Pendamaian, menandai titik puncak periode sepuluh hari pertobatan yang dinamai “Hari-hari yang Diagungkan,” atau yamim nora’im. Menurut rabbi-rabbi besar tradisi Yahudi, pada Rosh Hashanah nasib orang-orang benar, tsaddikim, dituliskan dalam Kitab Kehidupan, dan nasib orang-orang jahat, resha’im, dituliskan dalam Kitab Kematian. Namun, sebagian besar manusia tidak akan dituliskan dalam salah satu kitab itu, tapi punya waktu sepuluh hari – sampai Yom Kippur – untuk bertobat sebelum memeteraikan nasib mereka. Karena itu muncullah istilah Aseret Yemei Teshuvah – Sepuluh Hari Pertobatan. Kemudian pada Yom Kippur, nama setiap jiwa manusia akan dimeteraikan dalam salah satu dari kedua kitab. Karena alasan ini Yom Kippur benar-benar merupakan puncak dari 40 hari “Masa Pertobatan.”

Karena manusia diciptakan untuk teshuvah, Yom Kippur, atau Hari Raya Pendamaian dianggap hari paling kudus dalam setahun, dan disebut “Yom ha-kadosh.” Pada kalender Ibrani, Erev Yom Kippur dimulai pada petang hari tanggal 9 Tishri dan berlanjut 25 jam melewati hari berikutnya hingga malam tiba. Itu adalah hari yang khidmat ditandai dengan puasa penuh, doa, dan ibadah-ibadah tambahan di sinagoga.

Menurut rabbi-rabbi besar Yahudi, pada tanggal 6 Sivan, tujuh minggu sesudah Eksodus (tepat 49 hari), Musa pertama kali naik ke Gunung Sinai untuk menerima Torah (Shavuot). Empat puluh hari kemudian, pada tanggal 17 Tammuz, Loh-loh Pertama dipecahkan. Musa kemudian bersyafaat bagi Israel selama empat puluh hari lagi sampai dia dipanggil kembali untuk naik ke atas Gunung Sinai pada tanggal 1 Elul dan menerima pewahyuan Nama YHWH (Keluaran 34:4-8). Sesudah ini, Musa diberikan Loh-loh Kedua dan kembali ke perkemahan pada tanggal 10 Tishri, yang akhirnya dinamai Yom Kippur. Wajah Musa bersinar dengan cahaya dalam ketakjuban akan datangnya Perjanjian Baru, yang dilambangkan didalam ritual-ritual Hari Raya Pendamaian (Keluaran 34:10).

Ini memberikan penjelasan mengapa orang-orang Yahudi Orthodox memulai “Masa Teshuvah” (pertobatan) dimulai pada 1 Elul dan dilanjutkan hingga 10 Tishri – selama 40 hari sama seperti ketika Musa ada di atas Gunung Sinai untuk menerima loh-loh yang kedua. Disini kita juga menemukan kutipan pertama akan adanya Kitab Kehidupan (baca Rosh Hashanah), ketika Musa meminta, “supaya namanya dihapuskan dari “Kitab yang Engkau tuliskan” jika Elohim tidak mau mengampuni umat-Nya.

Keluaran 32:32-33 (TB) Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu — dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.” Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: “Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku.

Kesediaan Musa untuk “dihapuskan dari Kitab yang dituliskan Elohim” demi bangsa Israel merupakan gambaran besar tentang peranan Yeshua Messias kita sebagai Perantara.

Ibrani 9:15 (ILT) Dan karena itulah Dia menjadi pengantara dari suatu perjanjian yang baru, sehingga, melalui kematian yang telah terjadi untuk penebusan akibat pelanggaran-pelanggaran di bawah perjanjian yang pertama, mereka yang telah dipanggil, boleh menerima janji warisan yang kekal.

Arti kata Kippur

Hari Raya Pendamaian adalah frase bahasa Indonesia untuk Yom Kippur. Shoresh (akar kata) untuk kata “Kippur” adalah “kafar,” yang merupakan turunan dari kata “kofer,” yang artinya “harga nyawa” atau “tebusan.” Kata ini sejajar dengan kata “tebusan” (Mazmur 49:7) yang artinya “memperdamaikan dengan mempersembahkan suatu pengganti.” Mayoritas besar penggunaan kata ini didalam Tanakh (Kitab Suci Ibrani) berhubungan dengan “melakukan pendamaian” dengan ritual-ritual imamat pemercikan darah kurban untuk menyingkirkan dosa atau kecemaran (tahora). Darah kehidupan binatang kurban dibutuhkan sebagai pengganti  darah kehidupan orang yang berdosa (ungkapan simbolis nyawa yang tak berdosa diberikan sebagai pengganti nyawa orang berdosa).

Simbolisme ini semakin jelas dengan tindakan orang-orang berdosa yang meletakkan tangan mereka di atas kepala kurban binatang (semichah) dan mengakui dosa-dosanya di atas kepala binatang itu (Imamat 16:21; 1:4; 4:4, dsb.) yang kemudian dibunuh atau dilepaskan sebagai “kambing hitam” pembawa dosa. Akar kata “Kippur” juga muncul dalam istilah “Kapporet” (yaitu “Tutup Pendamaian,” namun lebih tepat disebut tempat pendamaian). Kapporet adalah penutup emas peti kudus (tabut perjanjian) di dalam Ruang Maha Kudus dari Tabernakel (atau Bait Suci) dimana darah kurban dipersembahkan.

Pesan dari kitab pusat Torah (Imamat) adalah karena Elohim itu kudus, kita juga harus kudus didalam hidup kita, dan ini artinya pertama-tama menyadari perbedaan antara kudus dan cemar, tahir dan najis.

“Kamu harus membedakan antara yang kudus (ha-kadosh) dan yang cemar (ha-chol), dan antara yang najis (ha-tamei) dan yang tahir (ha-tahor) (Imamat 10:10, Yehezkiel 44:23).

Imamat 10:10 (ILT)  dan untuk memisahkan antara yang kudus dan yang cemar serta antara yang najis dan yang tahir,

Sama seperti Elohim memisahkan terang dari kegelapan (Kejadian 1:4), demikian kita dipanggil untuk membedakan antara dimensi kudus dan cemar, kudus dan tidak kudus, tahir dan najis. Bahkan, Torah menyatakan, “Elohim menyebut terang itu siang, dan gelap itu malam,” dan karena itu menghubungkan Nama-Nya dengan terang dan bukan dengan kegelapan (Kejadian 1:5).

Kejadian 1:4-5 (ILT)  Dan Elohim melihat bahwa terang itu baik, dan Elohim memisahkan antara terang dengan gelap. Dan untuk terang Elohim menyebutnya siang, dan untuk gelap Dia menyebutnya malam. Dan jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

Kata “kurban” dalam bahasa Ibrani adalah “korban,” yang berasal dari akar kata “karov,” yang artinya “mendekat” atau “datang mendekat.” Di dalam tabernakel, korbanot adalah berbagai tindakan ritual yang dipersembahkan di atas mezbah  untuk menyucikan pendosa yang najis supaya dia dapat datang mendekat kepada Elohim yang Kudus. Karena ini, Elohim menetapkan pengurbanan darah sebagai sarana pembersih untuk menyucikan dari dampak-dampak pencemaran dan dosa (Imamat 17:11; Ibrani 9:22). Kita dapat melihat proses pentahiran dengan memahami kasus metzora (atau kusta) seperti digambarkan dalam Imamat 14 dalam suatu ritual yang menyerupai ritual Yom Kippur yang dilaksanakan Imam Besar.

Pelaksanaan Torah

Peranan Imam Besar

Setiap tahun pada tanggal 10 Tishri Kohen Gadol (Imam Besar) akan menjalankan ritual khusus untuk menyucikan kecemaran dari Tabernakel (mishkan) atau Bait Suci (Beit Ha-Mikdash), demikian juga halnya dengan umat Israel (lihat detailnya di Imamat 16). Secara umum, sebagai tambahan persembahan-persembahan rutin harian, dia akan membawa seekor lembu jantan dan dua ekor kambing sebagai persembahan khusus. Lembu jantan akan dipersembahkan untuk menyucikan mishkan/tabernakel dari pencemaran karena perbuatan-perbuatan kesalahan para imam dan keluarga mereka (Imamat 16:6). Dia akan memercikkan darah lembu jantan di dalam tirai Ruang Maha Kudus di atas kapporet (yaitu tutup Tabut Perjanjian).

Kemudian dia akan membuang undi dan memilih salah satu dari dua ekor kambing untuk menjadi persembahan penghapus dosa bagi umat Israel (kambing ini disebut L’Adonai – “bagi YHWH”). Dia kemudian memasuki Ruang Maha Kudus memercikkan darah kambing di atas kapporet. Kemudian akhirnya, Imam Besar akan menumpangkan kedua tangannya ke atas kepala kambing kedua (yang diperuntukkan “bagi Azazel”), sementara mengakui seluruh pelanggaran umat Israel. Kambing ini kemudian dibuang ke padang belantara, membawa bersamanya “seluruh dosa-dosa bangsa Israel ke suatu negeri yang tidak berpenghuni” (Imamat 16:22). Menurut Talmud, tali merah diikatkan di leher kambing hitam ini dan dilaporkan tali itu berubah menjadi putih sementara kambing ini dibawa pergi dari kota. Namun, selama empat puluh tahun terakhir sebelum Bait Suci dihancurkan (pada tahun 70 M), tali merah ini tidak berubah warna.

Peranan Umat

Sementara Imam Besar menjalankan tugas-tugas ini, umat Israel akan berpuasa sambil menanti-nantikan hasil akhir ritual-ritual ini. Sesudah menyelesaikan tugas-tugasnya, pakaian-pakaian Imam Besar dipenuhi darah (Imamat 6:27). Hanya sesudah inilah YHWH menerima kurban (menurut salah satu midrash, sementara Imam Besar menggantungkan pakaian-pakaiannya, mujizat terjadi dan pakaian-pakaiannya berubah dari merah penuh noda darah menjadi putih; lihat Yesaya 1:18).

Imamat 6:27 (TB)  Setiap orang yang kena kepada daging korban itu menjadi kudus, dan bila darahnya ada yang tepercik kepada sesuatu pakaian, haruslah engkau mencuci pakaian itu di suatu tempat yang kudus.

Yesaya 1:18 (ILT3)  “Datanglah sekarang, dan biarlah kita beperkara bersama! YAHWEH berfirman, Sekalipun dosa-dosamu seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju, sekalipun memerah seperti lembayung, akan menjadi putih seperti bulu domba.

Dalam tiga perikop terpisah dalam Torah, bangsa Yahudi diberitahukan bahwa “hari kesepuluh bulan ketujuh (Tishri) adalah Hari Raya Pendamaian. Itu harus menjadi peristiwa kudus bagimu: engkau harus merendahkan jiwamu” (Imamat 16:29-34, Imamat 23:26-32, Bilangan 29:7-11). Ini satu-satunya Hari Raya didalam setahun dimana secara jelas diperintahkan puasa oleh YHWH. Ini juga merupakan “Shabbat Shabbaton,” atau satu hari perhentian penuh dari segala jenis pekerjaan rutin.

Imamat 16:29-34 (ILT)  Dan bagimu hal ini harus menjadi suatu ketetapan selamanya: pada bulan ketujuh, pada hari kesepuluh dalam bulan itu, kamu harus merendahkan jiwamu, dan kamu tidak boleh melakukan segala pekerjaan, baik penduduk asli maupun pengembara yang menumpang di tengah-tengahmu. Karena pada hari itu ia harus mengadakan penebusan bagimu untuk menahirkan kamu dari segala dosamu, kamu harus menjadi tahir di hadapan YAHWEH. Itulah Sabat perhentian (Ibrani: Shabbat Shabbaton) bagimu, dan kamu harus merendahkan jiwamu; suatu ketetapan selamanya. Dan imam yang akan dia urapi, dan yang akan dia lantik kemampuan tangannya untuk bertindak sebagai imam ganti ayahnya, harus mengadakan penebusan dan mengenakan baju lenan, baju kekudusan. Dan dia harus mengadakan penebusan bagi ruang mahakudus dan bagi kemah pertemuan, bahkan bagi mezbah dia harus mengadakan penebusan, dan dia harus mengadakan penebusan atas para imam dan atas setiap orang dalam jemaat itu.Dan inilah yang menjadi suatu ketetapan selamanya bagimu, untuk mengadakan penebusan atas bani Israel dari segala dosa mereka sekali dalam setahun.” Dan dia melakukan seperti yang telah YAHWEH perintahkan kepada Musa.

Urutan hari-hari raya ini berhubungan dengan waktu persiapan (bulan Elul) dan aktivitas disekitar Rosh Hashanah yang mencapai puncaknya pada Yom Kippur. Pertama-tama Elohim memerintahkan supaya kita bertobat, atau kembali kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh hati, dan kemudian Dia menyediakan sarana rekonsiliasi atau pendamaian dengan Diri-Nya.

Pelaksanaan Yom Kippur Masa Kini

Meskipun aslinya difokuskan pada peranan Kohen Gadol (Imam Besar) dan penyucian Tempat Kudus, sejak kehancuran Bait Suci pada 70 M, tradisi Rabbinic menyatakan bahwa setiap individu Yahudi harus berfokus kepada avodah pribadinya, atau pelayanannya kepada YHWH. Karenanya, sebagian besar doa-doa Yom Kippur berisi tentang pertobatan pribadi dan kembali kepada Elohim.

Lima Perendahan Diri (ennuim)

Menurut halakhah (hukum Yahudi), seseorang harus berpuasa dari lima bentuk kesenangan, semuanya berdasarkan pengertian dari Imamat 23:27:

  1. Makan dan minum
  2. Membasuh dan mandi
  3. Memakai lotion atau parfum
  4. Mengenakan sepatu kulit
  5. Hubungan pernikahan

Dengan berpuasa dan berdoa sepanjang hari, dikatakan bahwa seseorang menyerupai para malaikat. Dengan meninggalkan kesenangan-kesenangan sensual kehidupan dan berpantang terhadap melakhah (perbuatan tidak suci), dikatakan bahwa seseorang hidup selama 25 jam sama seperti jika dia mati (banyak orang memakai kittel (jubah putih penguburan) dan pakaian putih, untuk mengingatkan mereka akan nasib mereka yang mortal/fana di hadapan Elohim).

Shabbat Shabbaton

Torah menyebut Yom Kippur sebagai “shabbat shabbaton,” satu waktu dimana seluruh perbuatan yang tidak suci (melakhah) ditinggalkan supaya jiwa dapat berfokus kepada kekudusan YHWH. Penyebutan pertama kata “shabbat shabbaton” ini ditemukan dalam Keluaran 16:23, mengenai larangan mengumpulkan manna di padang gurung selama hari ketujuh. Larangan ini akhirnya dimasukkan kedalam hukum hari Shabbat (Keluaran 31:15; 35:2). Kata ini juga muncul berkenaan dengan Rosh Hashanah (Imamat 23:24), Yom Kippur (Imamat 16:31; 23:32), dua hari Sukkot (Imamat 23:39), dua hari Pesakh (Imamat 23:7-8) dan hari Shavuot (Bilangan 28:26). Menurut rabbi-rabbi besar Israel, melakukan segala bentuk pekerjaan (selain pekerjaan untuk menyelamatkan nyawa) pada hari Shabbat khusus, hukumannya adalah mati.

Jika hari-hari ini dijumlahkan, akan didapati tujuh hari yang dinyatakan “istirahat penuh” di hadapan YHWH, dan rabbi-rabbi besar mengidentifikasi Yom Kippur sebagai Shabbat dari hari-hari Shabbat khusus ini, yaitu, Yom ha-kadosh, “hari kudus.” Bahkan Talmud menuliskan bahwa “tujuh hari sebelum Yom Kippur, mereka memisahkan Imam Besar,” sesuai dengan pengasingan Harun dan anak-anaknya sebelum pentahbisan Tabernakel.

Imamat 8:33 (TB)  Janganlah kamu pergi dari depan pintu Kemah Pertemuan selama tujuh hari, sampai kepada genapnya perayaan pentahbisan, karena perayaan pentahbisan akan berlangsung tujuh hari lamanya.

Rabbi-rabbi besar mengatakan bahwa Yom Kippur adalah satu-satunya hari dimana Satan tidak dapat mengajukan tuduhan atau dakwaan kepada Israel, karena angka gematria dari “satan” adalah 364, menunjukkan bahwa sang pendakwa ini mendakwa Israel 364 hari dalam setahun, tapi pada hari ke-365 – Yom Kippur – dia tidak berdaya, sama seperti bagaimana itu akan terjadi di dalam Dunia Yang Akan Datang (Maharsha di Yoma 2a).

Perlu dicatat bahwa mereka yang percaya didalam keselamatan Elohim memahami bahwa “perhentian” akhir kita diberikan kepada kita didalam Yeshua, Imam Besar kita menurut peraturan Malki-Tzedek, yang mempersembahkan darah-Nya sendiri untuk mengadakan pendamaian bagi jiwa-jiwa kita di hadapan Bapa di dalam Ruang Maha Kudus yang dibangun bukan oleh tangan-tangan manusia – di kayu salib…

Ritual Kapparot

Diantara orang-orang Yahudi Ultra Orthodox terdapat aminhag (tradisi) yang disebut kapparot, yang biasanya dilaksanakan sebelum Erev Yom Kippur. Ini semacam ritual “kambing hitam” dimana dosa-dosa seseorang secara simbolis dipindahkan kepada seekor ayam jantan atau betina. Pertama-tama, banyak ayat-ayat dari Mazmur dan Kitab Ayub dikutip. Kemudian ayam hidup diayunkan di sekeliling kepala tiga kali sementara pernyataan ini diucapkan, “Unggas ini akan mengambil tempatku, ia akan menjadi pendamaianku, penebusanku. Ia akan mati, dan aku akan masuk kedalam kebaikan, umur panjang dan damai sejahtera.”

Ayam ini kemudian dibawa ke seorang shochet (jagal kosher) untuk disembelih dan diberikan kepada orang-orang miskin untuk makanan Erev Yom Kippur mereka (seudah ha-mafseket). Mereka yang mempelajari Torah memahami perlunya kurban darah – prinsip “nyawa ganti nyawa” berlaku didalam sistem pengurbanan Torah.

Menurut Encyclopedia Judaica, tradisi ini disebutkan oleh sarjana-sarjana Yahudi pada abad ke-9. Mereka menjelaskan bahwa karena kata Ibrani “gever” memiliki arti “manusia” atau “ayam jantan,” penghukuman unggas ini dapat menggantikan bagi seseorang. Belakangan, pengaruh luas kabbalist abad pertengahan, Rabbi Isaac Luria (1574-1532) mendukung ritual ini, dan karenanya banyak pengikut Kabbalistik melanjutkan tradisi ini sampai sekarang.

Diperkirakan, pengurbanan ayam ini dimaksudkan untuk menggantikan kurban-kurban  yang dipersembahkan di Bait Suci.

Perlunya kurban darah – prinsip “nyawa ganti nyawa” – merupakan jantung sistem pengurbanan Torah. Karena itu, ritual kapparot merupakan pemahaman jelas dari otoritas Imamat 17:11, ayat kunci kurban pendamaian pengganti yang diberikan didalam Torah,

Imamat 17:11 (TB)  Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.

Seseorang yang mempelajari dan percaya kepada Torah yang tertulis memahami dengan jelas perlunya darah pendamaian.

Sebagian orang juga menjalankan Erev Yom Kippur dengan melakukan mikveh – ritual pembasuhan – untuk mentahirkan diri mereka sebelum tibanya Hari Kudus. Tradisi Yahudi juga menyatakan bahwa pengampunan dapat diperoleh dari Elohim hanya atas dosa-dosa yang dilakukan kepada Elohim (misalnya, melanggar hukum-hukum-Nya). Dosa-dosa yang diperbuat terhadap sesama harus diakui dan diperdamaiakan dengan pihak yang dirugikan – dan kemudian pengampunan dapat diperoleh juga dari Elohim (Matius 5:23-24). Proses memulihkan hubungan dengan pihak yang dirugikan disebut mechilah. Rekonsiliasi seringkali dilakukan selama bulan Elul dan periode Selichot.

Matius 5:23-24 (TB)  Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Erev Yom Kippur

Makan sebelum Yom Kippur

Puasa Yom Kippur dimulai satu jam sebelum matahari terbenam pada tanggal 9 Tishri, dan berlangsung selama 25 jam, hingga satu jam sesudah matahari terbenam pada tanggal 10 Tishri (Imamat 23:32). Tidak seperti hari-hari raya Yahudi yang berlangsung dua hari (karena ketidakpastian kalender), rabbi-rabbi besar hanya menyebutkan puasa berlangsung selama satu hari penuh. Rabbi-rabbi besar menyatakan bahwa “merendahkan diri” (seperti berpuasa) tidak dilakukan untuk menghukum diri sendiri karena dosa-dosa kita, tapi lebih ke arah menolong kita fokus sepenuhnya kepada sisi rohani. Kata Ibrani yang digunakan adalah “merendahkan diri”. Tidak ada ucapan berkat Ibrani yang diucapkan selama puasa, karena berkat tidak diucapkan untuk tidak melakukan apa-apa.

Pada Erev Yom Kippur, makanan khusus (seudah ha-mafseket) biasanya dihidangkan – makan terakhir sebelum matahari terbenam – dan berkat-berkat Erev Yom Kippur tertentu diucapkan. Makan petang ini meliputi ucapan berkat penyalaan lilin hari raya (“Baruch Atah, Adonai Eloheinu, Melekh Ha-olam, asher kidshanu b’mitzvotav vitzivanu l’hadlik ner shel Yom Ha-kippurim”) dan Shehecheyanu. Lilin peringatan (disebut yahrzeit) biasanya dinyalakan bagi orang tua atau kakek nenek yang sudah tiada, dan kaum perempuan biasa memakai pakaian putih, sedangkan pria memakai “kittel” (jubah putih yang biasa digunakan sebagai kain penguburan). Sesudah makan, telah menjadi adat istiadat untuk mengucapkan kepada tiap orang yang hadir Tzom Kal – “puasa yang ringan.” Ucapan umum lainnya adalah “G’mar chatimah tovah” – “Semoga engkau dimeteraikan (dalam Kitab Kehidupan) untuk kebaikan.”

Ibadah Yom Kippur di Sinagoga

Bagian terbesar Yom Kippur dijalankan di sinagoga dengan berdoa dan mendengarkan nyanyian. Bahkan, Yom Kippur merupakan satu-satunya Hari Raya Yahudi yang terdiri dari lima kali ibadah terpisah untuk dihadiri orang-orang Yahudi. Hari ini, pada pokoknya, merupakan permohonan terakhir, kesempatan terakhir untuk mengubah “penghakiman Elohim” dan untuk menunjukkan pertobatan dan melakukan perbaikan.

Ingat bahwa pada Rosh Hashanah, salah satu tema Hari-hari Yang Diagungkan adalah bahwa Elohim memegang “kitab-kitab” yang di dalamnya Dia menuliskan nama-nama setiap orang, mencatat siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati didalam tahun mendatang. Kitab-kitab ini “ditulis” pada Rosh Hashanah, tapi perbuatan-perbuatan seseorang selama Hari-hari Yang Diagungkan dapat mengubah ketetapan Elohim. Perbuatan-perbuatan yang dapat mengubah ketetapan Elohim adalah teshuvah (pertobatan), tefillah (doa) dan tzedakah (sedekah, perbuatan baik). Kitab-kitab ini “ditutup dan dimeteraikan” pada Yom Kippur

Seperti pada Rosh Hashanah, parokhet satin putih (tirai yang menghiasi tabut di sinagoga, meniru tirai yang memisahkan tempat kudus dari Ruang Maha Maha Kudus di Bait Suci), digantungkan di tempat dimana biasanya kain beludru berat digunakan pada waktu-waktu yang lain.

Ibadah Kol Nidrei

Ibadah petang dimulai dengan Kol Nidrei (“semua ikrar”), nyanyian berbahasa Aramaic yang mendeklarasikan batalnya semua janji-janji yang dibuat selama tahun yang lalu (Sephardim) atau untuk tahun mendatang (Ashkenazim). Kol Nidrei sebenarnya dianggapi “prosedur resmi,” dan karenanya memerlukan penggunakan berbagai rumusan halakhic (hukum) seperti pengucapan tiga kali sebelum minyan, sebelum matahari terbenam, dan seterusnya. Umumnya tallit (tali sembahyang) hanya dipakai pada ibadah pagi, tapi selama Yom Kippur, tallit dipakai terus sepanjang seluruh ibadah. Aron HaKodesh (tabut Torah) dibiarkan terbuka sementara gulungan-gulungan Torah diusung mengelilingi sinagoga sebelum Kol Nidrei, yang melambangkan bahwa Pintu-pintu Gerbang Pertobatan terbuka.

Ibadah Ma’ariv

Ibadah Ma’ariv (petang) terdiri dari pengucapan Kaddish, Shema, Amidah (doa berdiri), bersamaan dengan pengakuan dosa-dosa dan doa-doa tambahan (selichot) yang hanya diucapkan pada malam Yom Kippur. Sebagai tambahan, puisi-puisi liturgis (piyyutim) juga diucapkan. Sebagian besar ibadah ini dilalui dengan pembacaan dari machzor (buku doa Hari Raya Besar).

Ibadah Ma’ariv dinyanyikan dalam gaya berbeda dan ditambahkan kepada Amidah, termasuk Vidduy, atau pengakuan. Kewajiban Vidduy berasal dari Kitab Suci, “… (Bilangan 5:6-7). Perhatikan pengakuan yang bersifat personal jamak – menandakan bahwa dosa dari seorang individu juga ditanggung oleh seluruh komunitas. Vidduy diucapkan dalam bentuk jamak karena kita semua bertanggung jawab satu sama lain (Shavo’ut 39a).

Bilangan 5:6-7 (ILT)  “Berbicaralah kepada bani Israel, pria atau wanita, ketika mereka melakukan sesuatu dari dosa-dosa manusia dengan berlaku tidak setia kepada YAHWEH, maka bersalahlah dia. Dan mereka harus mengakui dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Dan dia haruslah membayar kesalahannya secara penuh dan menambahkan seperlima atasnya dan memberikannya kepada orang yang terhadapnya dia telah bersalah.

Doa-doa Vidduy terdiri dari dua bagian utama: Ashamnu (“Kami telah melanggar”), daftar dosa-dosa yang lebih pendek dan umum (“kami telah berbuat khianat, kami telah bertindak agresif, kami telah memfitnah” – kadang-kadang dinyanyikan) dan Al Chet, daftar dosa-dosa yang ditata lebih panjang dan mendetail secara alfabetis (“untuk dosa yang kami perbuat di hadapan-Mu karena terpaksa maupun sadar, dan untuk dosa yang kami perbuat di hadapan-Mu dengan bertindak tanpa berperasaan”).

Ketika Vidduy diucapkan, seseorang harus memukul dadanya pelan seakan berkata, “Engkau (hatiku) menyebabkan aku berdosa” (Mishnah Berurah 603:7). Vidduy diucapkan sepuluh kali sepanjang lima kali ibadah Yom Kippur, menyamai Sepuluh Perintah yang telah dilanggar.

Ibadah Shacharit

Ibadah Shacharit (pagi) tidak sama seperti ibadah-ibadah lain selama hari-hari raya sepanjang tahun Ibrani. Doa-doa pagi tradisional, pengucapan Shema dan Amidah, dan pembacaan Torah semuanya adalah bagian dari ibadah. Selama ibadah pembacaan Torah ada enam aliyot (pembacaan terpisah oleh orang berbeda), lebih banyak satu bagian dibandingkan hari-hari raya lain (meskipun jika Yom Kippur jatuh pada hari Shabbat, ada tujuh aliyot).

Nama Torah untuk Hari Raya Pendamaian adalah Yom Ha-Kippurim, artinya “hari penutupan, pembatalan, pengampunan, rekonsiliasi.” Dibawah sistem penyembahan Imamat, Imam Besar akan memercikkan darah kurban di atas Kapporet – penutup Tabut Perjanjian – untuk “membersihkan” (yaitu kapparah) dosa-dosa tahun yang lalu. Perhatikan bahwa Yom Kippur adalah satu-satunya peristiwa ketika Imam Besar dapat memasuki Ruang Maha Kudus dan memanggil Nama kudus YHWH untuk mempersembahkan darah kurban bagi dosa-dosa bangsa Yahudi. Prinsip “nyawa ganti nyawa” ini adalah dasar sistem pengurbanan dan menandai hari besar syafaat yang dilakukan Imam Besar demi bangsa Israel.

Ibadah Yizkor

Bagian Yizkor pada Yom Kippur berfungsi sebagai ibadah peringatan bagi anggota keluarga yang telah meninggal. Secara tradisional itu diucapkan sesudah pembacaan Torah pada ibadah Shacharit, meskipun beberapa komunitas Yahudi melakukannya pada awal siang hari.

Ibadah Musaf

Ibadah Musaf (tambahan) segera dilakukan mengikuti ibadah pagi dan dibagi menjadi dua bagian: pengulangan Amidah (oleh pembaca doa) dan ibadah “Avodah”, yang menceritakan kembali pelayanan imam-imam pada Yom Kippur pada zaman dahulu. Di empat bagian ibadah, sebagian orang mungkin membungkukkan diri mereka (selama penceritaan kembali Imam Besar dan pengakuan-pengakuan mereka). Sesudah ini, bagian ibadah dikhususnya untuk menceritakan kembali bagaimana rabbi-rabbi besar Yahudi awal yang menjadi martir karena dibunuh selama pemerintahan Kaisar Romawi Hadrian. Ibadah Musaf berakhir dengan birkat kohanim, yakni ucapan “doa ucapan syukur Harun.”

Ibadah Minchah

Ibadah Minchah (siang) meliputi ibadah pembacaan Torah (Imamat 18), pengulangan kembali Amidah, dan pengucapan puisi “Avinu Malkenu.” Sebagai tambahan, karena ibadah ini berpusat pada pentingnya teshuvah (pertobatan) dan doa, keseluruhan Kitab Yunus diucapkan sebagai bagian Haftarah dari pembacaan Torah.

Ibadah Ne’ilah

Menurut tradisi Yahudi, pada Rosh Hashanah nasib orang benar (tsaddikim) dituliskan dalam Kitab Kehidupan, dan nasib orang jahat (resha’im) dituliskan dalam Kitab Kematian. Namun, banyak orang (mungkin sebagian besar manusia) tidak akan dituliskan didalam salah satu kitab, namun punya waktu sepuluh hari – sampai Yom Kippur – untuk bertobat sebelum memeteraikan nasib mereka. Kemudian pada Yom Kippur, permohonan terakhir dinaikkan kepada Elohim supaya dituliskan didalam Kitab Kehidupan.

Kata ne’ilah berasal dari kata yang artinya “penutupan” atau “penguncian” [pintu-pintu gerbang Surga (atau pintu-pintu gerbang Bait Suci)]. Permohonan supaya nama-nama seseorang “dimeteraikan” didalam Kitab Kehidupan dilakukan pada waktu ini. Ibadah penutupan memiliki nuansa yang mendesak tentang hal ini, dan diakhiri dengan pembacaan bergantian Shema, dengan kalimat “barukh shem kavod malkhuto l’olam va-ed” diucapkan keras-keras tiga kali, dan kalimat “Adonai hu ha-Elohim” (YHWH Dialah Elohim) diulang tujuh kali oleh seluruh jemaat (1Raja 18:39).

1 Raja-Raja 18:39 (ILT)  Dan seluruh rakyat melihatnya, maka sujudlah mereka serta berkata, “YAHWEH, Dialah Elohim; YAHWEH, Dialah Elohim!”

Pada masa Bait Suci Kedua, Imam Besar akan mengucapkan nama kudus “YHWH” tiga kali selama avodah Yom Kippur. Pada masing-masing pengakuan, ketika Imam Besar mengucapkan Nama itu, seluruh jemaat akan bersujud dan mengucapkan keras-keras, “Baruch shem K’vod malchuto l’olam va’ed” – Diberkatilah Nama kemuliaan ke-Raja-an, untuk selamanya dan seterusnya.

Deklarasi ini kemudian diikuti oleh tiupan shofar terakhir yang panjang (yaitu Tekiah Gadolah), “shofar besar,” untuk mengingatkan kita bagaimana shofar dibunyikan untuk memproklamasikan Tahun Yobel, tahun pembebasan di seluruh negeri (Imamat 25:9-10).

Jemaat kemudian menyerukan “L’shanah haba’ah b’Yerushalayim!” Sesudah ibadah selesai, beberapa sinagoga menjalankan juga ritual Havdalah.

Pada waktu ini, orang-orang biasanya lega bahwa mereka telah “melewati” Hari-hari Yang Diagungkan, dan suasana perayaan akan tercipta, secara tradisional umumnya waktu untuk bercengkerama dan menunjukkan kasih sayang kepada sesama akan mengikuti perayaan hari raya ini. Karena hari raya selanjutnya, Sukkot, hanya berselang lima hari, biasanya segera dimulai perencanaan membangun sukkah (pondok) untuk hari raya yang akan datang.

Yom Kippur dan Perjanjian Baru

Salah satu peranan Messias kita Yeshua (Yesus Kristus) adalah sebagai Kohen HaGadol (Imam Besar) yang mempersembahkan kapparah (pendamaian) yang sesungguhnya bagi dosa-dosa kita dengan mempersembahkan darah-Nya sendiri di dalam Ruang Maha Kudus Surgawi yang bukan buatan tangan manusia.

Seperti tertulis dalam Kitab Ibrani:

Ibrani 3:1-2 (ILT)  Oleh karena itu hai saudara-saudara yang kudus, yang menjadi mitra panggilan surgawi, pandanglah rasul dan imam besar pengakuan kita, HaMashiakh YESHUA, yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana juga Musa dalam keseluruhan bait-Nya.

Pentingnya Kurban Darah

Pentingnya kurban darah (pendamaian pengganti) ditekankan sangat kuat didalam Kitab Suci, karena itu yang mendasari arti pendamaian yang diberikan melalui sistem pengurbanan. Bahkan prinsip ini diabadikan didalam teks pusat pengurbanan itu sendiri:

Imamat 17:11 (ILT)  Sebab, kehidupan tubuh ada di dalam darah, dan Aku telah memberikan darahnya kepadamu di atas mezbah itu untuk mengadakan penebusan bagi kehidupanmu, sebab darah itulah yang mengadakan penebusan bagi kehidupan.

Kurban darah dituntut oleh YHWH karena hal dosa. Imamat 17:11 sesuai dengan pengajaran Perjanjian Baru seperti yang tertulis dalam:

Ibrani 9:22 (ILT)  Dan hampir segala sesuatu disucikan dengan darah menurut torah; dan tanpa penumpahan darah, pengampunan tidak terjadi.

Dalam Talmud (Yoma 51) tertulis hal  yang sama, “Tidak ada pendamaian tanpa darah.” Pencurahan darah pengganti, prinsip “nyawa ganti nyawa,” adalah esensi dari pendamaian sesungguhnya dengan YHWH Elohim.

Yeshua mempersembahkan tubuh-Nya sendiri untuk menjadi Kurban yang sempurna bagi dosa-dosa. Oleh darah-Nya yang tercurah, kita diberikan pendamaian total di hadapan YHWH.

2 Korintus 5:21 (ILT)  Sebab, Dia yang tidak mengenal dosa, demi kita seolah Dia telah berbuat dosa, supaya kita dapat menjadi yang benar bagi Elohim di dalam Dia.

Sistem pengurbanan hewan dalam Imamat, termasuk ritual Yom Kippur yang begitu terperinci, dimaksudkan sebagai bayangan dari Pengurbanan Yeshua yang sesungguhnya untuk memperdamaikan kita dengan Elohim. B’rit Yeshanah (Perjanjian Lama) memberikan bayangan dari isi yang dinyatakan didalam B’rit Chadashah (Perjanjian Baru). Jika perjanjian lama sudah cukup untuk menyediakan solusi permanen terhadap problem dosa-dosa kita, tidak akan diperlukan perjanjian baru untuk menyempurnakannya.

Ibrani 8:7 (ILT)  Sebab jika yang pertama itu tidaklah bercacat, maka tidak akan dicari lagi sebuah tempat untuk yang kedua.

Dibawah perjanjian lama, kurban-kurban hanyalah “menutupi” dosa-dosa, tetapi dibawah perjanjian baru, dosa-dosa ini dibuang sepenuhnya (Ibrani 7:27, 9:12, 9:25-28). Tidak diperlukan lagi kurban-kurban yang terus-menerus, karena Yeshua menyediakan kurban satu kali untuk selamanya bagi seluruh dosa-dosa kita (Ibrani 9:11-14; 9:24-28; 10:11-20).

Bahkan, Yeshua ha-Mashiach adalah “pendamaian” atau “penebus” dari dosa-dosa kita. Kata Yunani yang digunakan dalam Roma 3:25, 1Yohanes 2:2, dan 1Yohanes 4:10 “hilasterion” adalah kata yang sama yang digunakan dalam Septuaginta (LXX, Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) untuk kapporet [tutup pendamaian tabut perjanjian] di dalam Ruang Maha Kudus yang dipercikkan darah kurban pada Yom Kippur.

Ibrani 9:24-28 (TB)  Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita.

Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya. Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.

Ibrani 10:14 (TB)  Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.

Yom Kippur, Pengakuan, dan Kitab Kehidupan

Dalam Yudaisme Pasca Bait Suci (yaitu Yudaisme Rabbinical), menjadi tradisi bagi orang-orang Yahudi untuk mengucapkan satu sama lain “g’mar chatimah tovah,” – “semoga engkau dimeteraikan (dalam Kitab Kehidupan) untuk kebaikan” selama Sepuluh Hari yang Diagungkan (yaitu sepuluh hari mulai dari Rosh Hashanah hingga Yom Kippur). Alasan untuk ini adalah menurut tradisi Yahudi “penulisan keputusan Elohim” (mengenai hidup Anda) terjadi pada Rosh Hashanah, namun “pemeteraian keputusan” ini terjadi pada Yom Kippur. Dengan kata lain, Elohim dalam belas kasihan-Nya memberikan kepada seseorang sepuluh hari tambahan untuk melakukan “teshuvah” (pertobatan) sebelum memeteraikan nasibnya… Tetapi itu tergantung orang tersebut – dan teshuvahnya – untuk “menyelamatkan nyawanya” dari ketetapan Elohim untuk kematian. Perbuatan-perbuatan orang tersebut (mitzvot) adalah kuncinya: Teshuvah, doa, dan sedekah/belas kasihan melepaskan dia dari ketetapan kematian.

Orang-orang Yahudi Messianis dan Kristen, atau orang percaya memiliki “pemeteraian” permanen untuk kebaikan oleh kasih karunia dan kasih Elohim yang diberikan kepadanya didalam Yeshua ha-Mashiach (Efesus 1:13, 4:30; 2Korintus 1:21-22). Pernyataan Torah bahwa darah kurban dipersembahkan di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi jiwa-jiwa seseorang (Imamat 17:11) digenapi sepenuhnya didalam “karya darah” Yeshua di atas kayu salib di Moriah.

Roma 5:11 (ILT)  Dan bukan hanya itu, tetapi juga dengan bermegah di dalam Elohim melalui Tuhan kita YESHUA HaMashiakh, sebab melalui Dia kita sekarang menerima pendamaian itu.

Pencurahan darah pengganti, prinsip “nyawa ganti nyawa”, adalah esensi dari pendamaian sesungguhnya dengan Elohim. Peraturan Imamat Lewi hanyalah “jenis dan bayangan” dari substansi sesungguhnya yang memberikan kepada seseorang pendamaian kekal dengan Elohim (Ibrani 8-10). Karena Yeshua, orang percaya memiliki Kohen Gadol (Imam Besar) Perjanjian yang lebih baik, yang didasarkan pada janji-jani yang lebih baik.

Ibrani 8:6 (ILT)  Tetapi, sekarang Dia telah beroleh ibadah yang lebih agung, karena bagaimanapun juga Dia adalah Pengantara dari perjanjian yang lebih baik yang telah disahkan dengan janji-janji yang lebih baik.

Karena alasan ini, sangatlah layak untuk merayakan Yom Kippur dan mengucap syukur kepada YHWH untuk “chatimah tovah” (pemetarian) permanen yang diberikan kepada orang percaya melalui penyelamatan oleh Anak-Nya.

Harus selalu diingat bahwa Torah diekspresikan dalam tanggung jawab seseorang didalam tindakan-tindakan perjanjian dengan Elohim. Penulis Kitab Ibrani menjelaskannya, “Ketika ada perubahan didalam imamat, dibutuhkan juga perubahan didalam Torah” (Ibrani 7:12).

Ibrani 7:12 (ILT)  Sebab ketika keimaman diubah, maka akan terjadi perubahan torah karena kebutuhan.

Imamat Lewi diekspresikan didalam Torah dari Perjanjian Sinai, sedangkan Imamat yang lebih besar dari Yeshua diekspresikan didalam Torah (Hukum) Perjanjian Baru.

Namun bagi orang-orang Yahudi Messianis, ada sedikit ambivalen terhadap hari raya ini. Dan itu berasal dari “apa yang belum genap” dari Perjanjian Baru itu sendiri. Yeshua sudah datang dan mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kapparah (pendamaian/penebus) bagi dosa-dosa kita, Dia telah mengirimkan Ruach HaKodesh (Roh Kudus) untuk menuliskan kebenaran didalam hati kita, Dia telah menjadi Elohim kita dan kita adalah umat-Nya. Namun, Perjanjian Baru belum sepenuhnya tergenapi karena kita masih menunggu kembalinya Yeshua untuk memulihkan Israel dan mendirikan Kerajaan-Nya di atas bumi.

Karena Yom Kippur secara profetik menggambarkan pendamaian bangsa Israel yang dikokohkan melalui avodah (perbuatan) pengurbanan Yeshua sebagai Raja dan Imam Besar Israel yang sesungguhnya, masih ada rasa kerinduan dan kesusahan yang berhubungan dengan hari raya ini yang tidak akan hilang sampai akhirnya “seluruh Israel diselamatkan.” Jadi di satu pihak, orang percaya yang merayakan Yom Kippur itu mengakui Yeshua sebagai Imam Besar Perjanjian Barunya, tapi di pihak lain, dia juga “memiliki kesedihan yang besar dalam hati… ” untuk pembebasan bangsa Yahudi dan pendamaian bagi dosa-dosa mereka (Roma 9:1-5; 10:1-4; 11:1-2, 11-15, 25-27).

Roma 9:1-5 (ILT)  Aku mengatakan kebenaran di dalam HaMashiakh, aku tidak berdusta, karena hati nuraniku bersaksi bersamaku dalam Roh Kudus, bahwa dukacitaku sangat dalam dan kepedihan hatiku tiada henti-hentinya. Sebab aku berharap agar aku sendiri menjadi yang terkutuk dari HaMashiakh ganti saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara daging, yang adalah orang-orang Israel, yang padanya ada hak diadopsi dan kemuliaan dan perjanjian-perjanjian dan pemberian torah dan ibadah dan janji-janji; yang padanya ada para leluhur, dan yang dari mereka turun HaMashiakh secara daging, yang adalah Elohim atas segala sesuatu, yang terberkati sampai selamanya. Amin.

Roma 11:1-2 (ILT)  Oleh karena itu aku berkata, apakah Elohim sama sekali telah menolak umat-Nya? Tidaklah mungkin! Sebab aku juga adalah seorang Israel, dari keturunan Abraham, suku Benyamin. Elohim tidak menolak umat-Nya yang telah Dia kenal sebelumnya.

Sementara itu, kita orang-orang percaya berada dalam suatu periode “anugerah yang misterius” (yemot ha-Mashiach) dimana kita memiliki kesempatan untuk menawarkan syarat-syarat Perjanjian Baru kepada orang-orang dari segala bangsa (Goyim), suku dan bahasa. Kemudian sesudah “kegenapan Goyim” tiba, Elohim akan mengalihkan seluruh perhatian-Nya untuk menggenapi janji-janji-Nya yang diberikan kepada bangsa Yahudi.

Roma 11:25-27 (TB)  Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain (Goyim) telah masuk. Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: “Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub.  Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka.”

Kitab Kehidupan

Sebagian orang-orang Yahudi Messianis menjalankan Yom Kippur (yaitu melakukan puasa 25 jam, pengakuan dosa-dosa, dsb.) dengan tujuan untuk menyamakan identitas mereka dengan bangsa Yahudi, sementara yang lain-lainnya menjalankan itu sebagai waktu khusus untuk pengakuan dosa pribadi dan teshuvah. Bagi orang-orang percaya, menjalankan hal-hal seperti itu tidak memberikan kepada kita “penghakiman yang berkemurahan” di hadapan YHWH untuk menentukan apakah nama-nama kita akan dituliskan dalam Sefer ha-chayim (Kitab Kehidupan), karena pengurbanan Yeshua dan doa syafaat-Nya adalah segala yang kita butuhkan untuk pendamaian dengan Bapa di Surga. Mereka yang menjadi milik Yeshua sudah dituliskan di dalam ‘Kitab Kehidupan Anak Domba” (Filipi 4:3; Wahyu 3:5; 13:8; 17:8; 20:12, 15; 21:27; 22:19).

Wahyu 3:5 (ILT)  Siapa yang menang, ia ini akan dikenakan jubah putih, dan Aku sekali-kali tidak akan menghapus namanya dari Kitab Kehidupan dan Aku akan mengakui namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan malaikat-malaikat-Nya.

Apakah Sefer ha-Chayim itu? Itu adalah kitab dimana Elohim mencatat nama-nama dan kehidupan orang-orang benar (tsaddikim). Menurut Talmud, kitab itu dibuka pada waktu Rosh Hashanah, demikian juga Kitab Kematian, Sefer ha-Metim, dibuka pada saat itu. Dan Elohim memeriksa setiap jiwa manusia untuk melihat apakah teshuvah issh’leimah (genap). Jika seseorang berpaling kepada Elohim dan memperbaiki hubungannya dengan orang-orang yang dia rugikan, dia akan diberikan satu tahun lagi untuk hidup didalam tahun (Yahudi) berikutnya. Di pihak lain, jika dia tidak bertobat, maka ketetapan dapat dikeluarkan sehingga dia akan mati di dalam tahun mendatang…

Dalam tradisi Yahudi, Yom Kippur pada esensinya adalah permohonan terakhir seseorang, kesempatan terakhir untuk mengubah “penghakiman Elohim” dan untuk mendemonstrasikan pertobatan dan melakukan perdamaian dengan orang-orang yang dirugikannya. Kitab-kitab ini “ditulis” pada Rosh Hashanah, namun perbuatan-perbuatan seseorang selama Sepuluh Hari yang Diagungkan dapat mengubah keputusan Elohim. Perbuatan-perbuatan yang dapat mengubah ketetapan Ilahi adalah teshuvah (pertobatan), tefilah (doa) dan tzedakah (perbuatan-perbuatan baik). Kitab-kitab ini kemudian “dimeteraikan” pada Yom Kippur.

Namun sekali lagi penting untuk dipahami, bahwa orang-orang yang telah percaya didalam Yeshua sebagai Pendamaian mereka di hadapan Bapa, akan dinyatakan sebagai tsaddikim dan nama-nama mereka dituliskan (dan dimeteraikan) di dalam Kitab Kehidupan Anak Domba. Hari Penghakiman atas kehidupan dosa-dosa orang tersebut telah menimpa Pribadi Yeshua haMashiach, diberkatilah Dia. Semua orang yang benar-benar menjadi milik Yeshua sudah dituliskan didalam “Kitab Kehidupan Anak Domba” (Filipi 4:3; Wahyu 3:5; 13:8; 17:8; 20:12, 15; 21:27; 22:19). Dan karenanya Yom Kippur merupakan waktu sukacita, karena sudah memperoleh “g’mar chatimah tovah,” “meterai final untuk kebaikan,” didalam Kitab Kehidupan Anak Domba karena Messias Yeshua, Imam Besar Agung kita menurut peraturan Malki-Tzedek.

Vidduy tradisional (doa pengakuan yang terdiri dari dua bagian, ashamnu dan al chet) ditulis menggunakan kata ganti orang pertama jamak, “Kami telah berdosa…” karena “kol Yisrael arevim zeh bazeh” – “Seluruh Israel bertanggung jawab satu sama lain.” Secara tradisi, al chet diucapkan sepuluh kali selama jalannya ibadah-ibadah Yom Kippur (masing-masing untuk Sepuluh Perintah  yang telah dilanggar).

Pengakuan sangatlah penting bagi orang-orang Yahudi Messianis maupun Kristen, karena itu mengingatkan akan kebutuhan kita yang besar atas intervensi Elohim didalam kehidupan kita, dan juga membantu kita berjalan didalam kebenaran.

1 Yohanes 1:9 (ILT)  Jika kita mengaku dosa-dosa kita, Dia adalah setia dan adil, sehingga Dia akan mengampunkan kepada kita dosa-dosa itu dan membersihkan kita dari segala ketidakadilan.

Yakobus 5:16 (TB)  Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

Secara eskatologi (Akhir Zaman), Yom Kippur mewakili restorasi seluruh bangsa Israel sesudah Masa Kesusahan Besar, namun itu juga peringatan akan harga dosa yang luar biasa didalam kehidupan kita. Dosa itu begitu merusak dan hutangnya begitu besar sehingga membutuhkan tidak kurang dari pengubanan Yeshua sendiri dengan tujuan memeteraikan rekonsiliasi kita dengan Elohim. Karena itu seharusnya kita harus gemetar dengan kegentaran di hadapan Elohim dalam ucapan syukur yang penuh hormat karena belas kasihan-Nya kepada kita.

Iklan