Suatu pergerakan baru yang menandai semakin banyaknya orang-orang Kristen yang bergerak kembali kepada akar Kristen-Yahudi mereka, menyerukan kepada orang-orang Kristen untuk beralih dari kalender Gregorian berganti kepada kalender Ibrani. Namun meskipun pergerakan seperti itu dapat membawa dua agama Abrahamic menjadi semakin dekat, ini juga dapat menjadi sumber konflik. Tahun yang yang sedang berlangsung sekarang ini merupakan sebuah ekspresi kapan Messias diharapkan akan datang, suatu pertanyaan religius yang telah diperdebatkan selama ribuan tahun.

Pastor Mark Blitz merupakan salah satu pendukung bagi orang-orang Kristen untuk beralih dari kalender Gregorian berganti menjadi kalender Ibrani yang digunakan orang Yahudi, dan telah menulis buku best seller tentang hal ini. El Shaddai Ministries yang digembalakannya mempunyai 40.000 orang follower dan websitenya mendapatkan jutaan hits dari 40 negara di seluruh dunia tiap tahun. Ketertarikan dasarnya terhadap kalender Ibrani berasal dari kekaguman akan Perayaan-perayaan Kitab Suci, namun hal ini menimbulkan kesulitan bagi interpretasi Kristiani.

“Setiap bulan punya nilai pentingnya sendiri. Masalahnya adalah kebanyakan orang Kristen menuai pada musim menanam, dan menanam pada musim menuai, karena mereka tidak tahu hari apa itu,” kata Pastor Blitz memberikan contoh praktis tentang kebingungan ini.

Pesach (Passover) dalam hari raya Ibrani adalah ketika Yeshua mati disalibkan, sedangkan Paskah (Easter) bagi orang Kristen adalah ketika Dia dibangkitkan. Tahun 2016 ini, Paskah (Easter) orang Kristen dirayakan satu bulan sebelum Pesach (Passover) Yahudi. Bagaimana mungkin Anda merayakan Kebangkitan sebelum Kematian?”

Paskah (Easter) Kristen tahun 2016 ini dirayakan pada hari Minggu tanggal 27 Maret 2016, sedangkan Pesach (Passover) Yahudi dirayakan pada petang hari tanggal 14 Nisan 5776, yang jatuh pada hari Jumat tanggal 22 April 2016.

Dia memberikan alasan kuat untuk menggunakan kalender Ibrani. “Ini kalender Elohim, dan bukan kalender manusia,” kata Pastor Blitz berdasarkan ayat-ayat Kitab Suci.

Kejadian 1:14 (ILT) Dan Elohim berfirman, “Biarlah ada benda-benda penerang pada cakrawala di langit untuk memisahkan antara siang dengan malam, dan mereka ada untuk tanda-tanda dan untuk musim-musim (Ibr. Modeim; waktu yang ditetapkan, perayaan yang ditetapkan, perkumpulan raya) dan untuk hari-hari dan tahun-tahun (Ibr. Shaneh; pembagian waktu, ukuran waktu).

Dia memahami dasar dari kalender Ibrani adalah lunisolar, gabungan antara tahun matahari (solar) dan bulan (lunar). Bulan Ibrani dimulai dengan penampakan bulan baru. Satu bulan tambahan ditambahkan tujuh kali dalam siklus 19 tahun, untuk memastikan supaya hari-hari Perayaan tetap terjadi pada musim-musim yang semestinya.

Beralih ke kalender Ibrani bukan persoalan sederhana. Dari permulaan tahun (Rosh Hashanah, bukan 1 Januari) hingga permulaan hari, kalender ini benar-benar berbeda. Orang Yahudi mengawali hari mereka pada saat petang hari, didasarkan pada ayat dalam Kitab Kejadian.

Kejadian 1:5 (ILT) Dan untuk terang Elohim menyebutnya siang, dan untuk gelap Dia menyebutnya malam. Dan jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

Bahkan minggu-minggu kalendernya pun berbeda. Minggu Yahudi berpusat pada Shabbat, yang dimulai Jumat petang dan berlangsung hingga Sabtu petang. Orang Kristen merayakan Shabbat mereka pada hari Minggu (Sunday: Hari Matahari; berasal dari tradisi penyembahan Dewa Matahari kuno). Dalam dunia bisnis modern, ini artinya minggu kerja orang-orang Israel dimulai pada hari Minggu, biasanya terpotong hari Jumat, sementara seluruh dunia lain memulai minggu kerja mereka pada Senin pagi.

Tahun-tahun juga dibagi-bagi menurut berbagai titik-titik referensi. Tahun-tahun Kristen disusun dalam dasar sepuluh, yang disebut dekade dan abad-abad, sementara orang-orang Yahudi di tanah Israel mengukur tahun-tahun dengan dasar tujuh, dengan tujuh tahun Shmittah (tahun Shabbat) yang menyusun satu Yobel setiap 50 tahun.

Kalender Gregorian adalah produk Gereja Roma Katholik. Disusun oleh Paus Gregory XIII tahun 1582 dengan dekrit paus dan digunakan oleh sebagian besar negara-negara Barat, itu merupakan kalender matahari (solar) yang terdiri dari 365 hari, dengan satu hari tambahan setiap empat tahun (tahun kabisat). Ini memastikan bulan-bulan sesuai dengan musim-musim tertentu. Tidak ada hubungannya antara tanggal dengan fase-fase bulan.

Tahun kalender juga merupakan perbedaan yang semakin mendalam. Kalender Gregorian dimulai pada tahun ketika Yesus dilahirkan, sedangkan kalender Yahudi dihitung mulai tahun Penciptaan (Anno Mundi), meskipun itu dipahami tidak secara literal oleh sebagian besar orang Yahudi, yang menginterpretasikan bahwa hari-hari pertama Penciptaan kemungkinan berlangsung selama jutaan tahun.

Dalam sebuah artikel yang membandingkan kalender Ibrani dan kalender Kristen, Dr. David Reagan dari Lamb and Lion Ministries mengungkap implikasi untuk tahun Ibrani 5776, relevan baik bagi orang Kristen maupun Yahudi dengan Kedatangan Messias. Chazal Yahudi (rabbi-rabbi bijak) mengajarkan bahwa kemungkinan paling akhir akan hari kedatangan Messias adalah pada penghujung tahun 6000, berdasarkan enam hari Penciptaan yang diikuti dengan Shabbat. Konsep ini, yang awalnya diterima dalam Apocrypha Kristen, akhirnya menghilang karena ajaran-ajaran Roma Katholik yang amillenial, namun Dr. Reagan menyebut terjadinya penerimaan kembali akan konsep ini.

“Titik baliknya terjadi pada Perang Dunia I. Itu menghancurkan konsep postmillenialisme yang diterima sebagian besar umat Protestan,” jelas Dr. Reagan.

Postmillenialisme adalah kepercayaan bahwa Kedatangan Yeshua yang Kedua akan terjadi sesudah suatu Zaman Keemasan dimana etika-etika Kristen tumbuh subur, berkebalikan dengan premillenialisme yang menempatkan Kedatangan Kedua sebelum Zaman Keemasan (Kerajaan seribu tahun) yang dinubuatkan ini.

Namun Pastor Blitz memberikan alasan tambahan yang lebih sederhana untuk mengikuti kalender Ibrani, “Tahun 5777, tahun depan ini, merupakan kesempatan yang “sangat menguntungkan” bagi Messias, jadi itu tahun yang aku ikuti.”

Tahun baru Yahudi, Rosh Hashanah 5777 (Hari Raya Peniupan Sangkakala), akan jatuh pada tanggal 3 Oktober 2016 (1 Tishrei 5777).

Rosh Hashanah

Perayaan Rosh Hashanah – nama itu artinya “Kepala Tahun” – dilaksanakan selama dua hari, dimulai pada 1 Tishrei, hari pertama tahun Yahudi. Itu adalah peringatan penciptaan Adam dan Hawa, manusia dan perempuan pertama, dan perbuatan-perbuatan pertama mereka sebagai realisasi peranan manusia di dalam dunia ciptaan Elohim.

Rosh Hashanah sekaligus menegaskan hubungan spesial antara Elohim dengan umat manusia: ketergantungan kita kepada Elohim sebagai Pencipta dan Pemelihara kita, dan ketergantungan Elohim atas kita sebagai pihak yang menjadikan hadirat-Nya dikenal dan dirasakan di dalam dunia-Nya. Setiap tahun pada Rosh Hashanah, “seluruh penduduk dunia berjalan lewat di hadapan Elohim seperti kawanan domba,” dan ditetapkan dalam pengadilan Ilahi “siapa yang boleh hidup, dan siapa yang harus mati… siapa yang akan dimiskinkan, dan siapa yang harus diperkaya; siapa yang harus jatuh dan siapa akan bangkit.” Tapi ini juga hari dimana kita memproklamirkan Elohim sebagai Raja Alam Semesta. Tradisi mistis Yahudi, Kabbalisme mengajarkan bahwa kelangsungan keberadaan alam semesta itu tergantung atas pembaharuan kehendak Ilahi untuk sebuah dunia ketika kita menerima Elohim sebagai raja setiap tahun pada Rosh Hashanah.

Pusat perayaan Rosh Hashanah adalah peniupan shofar, sangkakala tanduk domba jantan, yang juga mewakili tiupan sangkakala dari rakyat atas pentahbisan Raja mereka. Teriakan shofar juga adalah suatu panggilan untuk pertobatan, karena Rosh Hashanah juga peringatan dosa pertama manusia dan pertobatannya, dan menjadi yang pertama dari “Sepuluh Hari Pertobatan” yang akan mencapai titik kulminasi pada Yom Kippur, Hari Raya Pendamaian. Arti penting lain dari shofar adalah mengingat kembali Ishak yang diikat, yang juga terjadi pada Rosh Hashanah, dimana seekor domba jantan menggantikan posisi Ishak sebagai persembahan kepada Elohim; memperingati kesediaan Abraham mengurbankan puteranya, dan memohon supaya jasa perbuatannya akan selalu mendampingi sementara umat berdoa untuk sebuah tahun kehidupan, kesehatan, dan kemakmuran. Keseluruhan, akan diperdengarkan seratus tiupan shofar sepanjang pelayanan-pelayanan perayaan Rosh Hashanah.

Pelaksanaan tambahan perayaan Rosh Hashanah meliputi:

  • Makan sepotong apel yang dicelup dalam madu, melambangkan keinginan akan tahun yang manis, dan makanan-makanan khusus lain yang melambangkan berkat-berkat tahun baru.
  • Saling memberkati satu sama lain dengan kata-kata, “Leshanah tovah tikateiv veteichateim,” “Semoga engkau diukirkan dan dimeteraikan untuk tahun yang baik.”
  • Tashlich, doa khusus yang diucapkan di dekat air (lautan, sungai, kolam, dsb.), dalam ingatan akan ayat, “Dan Engkau akan mencampakkan dosa-dosa mereka ke dalam dasar-dasar lautan.”

Mikha 7:18-20 Siapakah Elohim yang seperti Engkau, yang menyingkirkan kesalahan dan mengabaikan pelanggaran atas milik-Nya yang tersisa? Dia tidak akan mengukuhkan murka-Nya selamanya karena Dia suka akan kemurahan hati. Dia akan kembali, Dia akan menunjukkan belas kasihan kepada kita, Dia akan menginjak-injak kesalahan-kesalahan kita; dan Engkau akan melemparkan semua dosa mereka ke dalam tubir laut. Engkau akan menunjukkan kesetiaan kepada Yakub, kebaikan kepada Abraham; yang Engkau telah bersumpah kepada leluhur kami sejak zaman dahulu kala.”

Dan sama seperti setiap hari-raya utama Yahudi, sesudah penyalaan lilin dan doa-doa, mereka mengucapkan kiddush (ucapan doa berkat pengudusan atas anggur) dan mengucap berkat pada challah (roti).

Baca juga:

Rabbi Besar Israel Mengatakan 2016 “Waktu yang Baik” Untuk Kedatangan Messias

Kitab Yobel

Sanhedrin telah Menetapkan Imam Besar untuk Persiapan Bait Suci Ke-3

Referensi:

What Does the Jewish Calendar Reveal About the Coming of the Messiah?

The Jewish Calendar

What Is Rosh Hashanah?

Iklan