Dan Dia memberikan kepada Mosheh, sementara Dia selesai untuk berbicara dengan »dia di Gunung Sinai, dua loh kesaksian, loh-loh batu yang ditulis dengan jari Elohim – Kel. 31:18.

SEPULUH PERINTAH adalah seperangkat imperatif (hukum-hukum) spiritual khusus yang ditulis oleh YHVH sendiri di atas dua loh batu (luchot) yang dibawa Mosheh dari Gunung Sinai (Kel. 31:18). Dalam Alkitab, hukum-hukum ini disebut aseret hadevarim () “sepuluh kata-kata” atau “sepuluh ucapan” (lihat Kel. 34:28, Ul. 4:13 dan Ul. 10: 4). Dalam tulisan-tulisan kerabbian, mereka biasanya disebut sebagai Aseret haDiberot, dan dalam tulisan-tulisan teologis Kristen mereka disebut Dekalog (Dasa Titah) (dari kata Yunani deca [10] dan logoi [kata-kata]).

Latar belakang dari Torah

Sebagaimana dicatat dalam Torah, Eksodus dari Mitrayim terjadi pada pertengahan bulan Nisan, segera setelah Paskah pertama. Bangsa Yisra’el melakukan perjalanan selama 44 hari hingga bulan baru ketiga (yaitu, hari pertama bulan Sivan [Kel. 19:1]), ketika mereka berkemah di seberang Gunung Sinai, tempat di mana Mosheh awalnya ditugaskan. Mosheh kemudian mendaki gunung itu dan YHVH memerintahkan dia untuk memberitahu para pemimpin bahwa jika mereka mau menaati YHVH dan menjaga perjanjian-Nya, maka mereka akan menjadi “kerajaan para imam” dan “bangsa yang kudus” dari YHVH (Kel. 19:5-6). Setelah menyampaikan pesan ini, umat itu menanggapi dengan memproklamirkan, kol asher memberkati Adonai na’aseh (“semua yang YHVH ucapkan, kami akan melakukan”). Mosheh kemudian kembali ke gunung dan diberitahu untuk memerintahkan umat itu untuk menguduskan diri mereka sebelum YHVH turun ke atas gunung dalam tiga hari. Umat itu harus menjauhkan diri dari kenikmatan-kenikmatan duniawi dan untuk tidak menjamah (di bawah ancaman hukuman mati) batas-batas gunung. “Dan mereka akan bersiap untuk hari ketiga, karena dalam hari ketiga YHVH akan turun di mata seluruh umat itu di atas gunung Sinai.”

Pada pagi hari hari ketiga (yang sebenarnya adalah hari ke-6 Sivan, 49 hari setelah Eksodus, dan belakangan diperingati sebagai Shavu’ot [Talmud, Shabbat 86b]), orang Yisra’el berkumpul di kaki Gunung Sinai, di mana YHVH turun di tengah-tengah guntur, kilat, kepulan asap, api, dan tiupan besar shofar. Mosheh kemudian naik, tetapi YHVH menyuruhnya turun kembali dan memperingatkan umat itu – termasuk para imam – untuk tidak menginjakkan kaki di gunung supaya jangan mereka dilalap oleh murka Elohim.

YHVH kemudian mulai mengucapkan Sepuluh Perintah kepada umat itu, sehingga semua orang Yisra’el mendengar. Namun, orang-orang Yisra’el yang ketakutan mulai memohon kepada Mosheh untuk menjadi mediator mereka supaya jangan mereka mati di hadapan Hadirat Elohim (Rambam mengatakan bahwa setelah perintah kedua terdengar, umat itu mulai jatuh kembali dalam ketakutan). Umat itu kemudian berdiri jauh-jauh, sementara Mosheh sendirian datang mendekat kepada kegelapan pekat di mana Elohim berada (Kel. 20:18-21).

Sebagai mediator perjanjian, Mosheh selanjutnya melaporkan kepada orang Yisra’el semua kata-kata YHVH dan semua mishpatim (keputusan-keputusan), dan umat itu menanggapi serempak,כָּל־הַדְּבָרִים אֲשֶׁר־דִּבֶּר יְהוָה נַעֲשֶֽׂה kol hadevarim asher diber Adonai na’eseh: “semua kata-kata yang telah diucapkan YHVH, kami akan melakukan” (Kel. 24:3). Dia kemudian menuliskan kata-kata perjanjian (sefer habrit), membangun sebuah mezbah di kaki Gunung Sinai dengan dua belas pilar (satu untuk masing-masing suku Yisra’el), dan memerintahkan kurban-kurban kepada YHVH untuk dibuat. Dia kemudian mengambil darah kurban dari persembahan-persembahan, menyiramkan setengahnya ke atas mezbah, dan membacakan perjanjian kepada umat itu. Umat itu meratifikasi perjanjian dengan kata-kata כֹּל אֲשֶׁר־דִּבֶּר יְהוָה נַעֲשֶׂה וְנִשְׁמָֽע kol asher diber Adonai na’aseh v’nishma: “semua yang dikatakan YHVH akan kami lakukan dan taati” (Kel. 24:7). Setelah mendengar ratifikasi mereka, Mosheh mengambil setengah lainnya dari darah kurban dan memercikkannya ke atas umat itu dengan berkata, “Lihat! Darah perjanjian yang YHVH potong dengan kalian atas semua kata-kata ini”.

Selanjutnya, Mosheh dan 70 tua-tua Yisra’el mendaki Gunung Sinai untuk makan “perjamuan peneguhan perjanjian” antara Yisra’el dan YHVH. Di sanalah para tua-tua menyaksikan kemuliaan Elohei Yisra’el yang luar biasa, di bawah kaki-Nya ada “seperti buatan ubin safir, dan seperti surga itu sendiri untuk kemurnian” (Kel. 24:9-10).

Setelah kembali dari gunung dengan para tua-tua, YHVH memerintahkan Mosheh untuk kembali ke atas untuk menerima luchot ha’even (loh-loh batu) yang diinskripsi dengan Sepuluh Perintah dan untuk mempelajari hukum-hukum lain dari Torah itu (Kel. 24:12), termasuk perintah-perintah untuk membuat mishkan (tabernakel). Mosheh naik kembali ke gunung, yang masih tertutup oleh awan api yang bersinar. Pada hari ketujuh di sana, dia mendengar Suara YHVH memanggil kepadanya dari tengah-tengah awan kemuliaan, dan kemudian masuk ke dalam Hadirat YHVH. Dia tinggal di atas gunung selama total 40 hari dan 40 malam sementara orang Yisra’el menunggu dia di perkemahan di bawah.

Midrash Tentang Loh-loh

Menurut midrash Yahudi, loh-loh batu terbuat dari safir biru sebagai simbol surga dan tahta Elohim, yang ditulisi oleh “jari Elohim” (Kel. 31:18). Huruf-huruf Ibrani dikatakan melubangi sepenuhnya menembus batu (Kel. 32:15), yang merupakan mujizat, karena bagian dalam dari beberapa huruf Ibrani (seperti ס Samekh dan ם Mem final) “melayang” pada tempatnya. Selain itu, meskipun huruf-huruf itu melubangi sepenuhnya menembus batu, kedua sisi tampak secara normal (yaitu, “belakang” loh tampak identik dengan bagian depan – Shabbos 104a).

Tradisi Yahudi mengklaim bahwa aksara Ibrani yang digunakan adalah Ketav Ashurit (aksara Ibrani klasik yang digunakan dalam Kitab Suci hari ini), dan bukan Ketav Ivri yang lebih tua (yang belakangan ditulis (oleh Elohim) pada set loh-loh kedua yang Mosheh pahat setelah dia menghancurkan set aslinya). Midrash lain mengatakan bahwa loh-loh “menopang beratnya sendiri,” memungkinkan Mosheh untuk membawa mereka turun gunung.

Dosa Anak Lembu Emas (egel maseikhah)

Namun, sebelum Mosheh muncul kembali dari puncak gunung, umat itu mengajak Aharon membuat anak lembu tuangan (egel maseikhah) yang mulai mereka sembah (Kel. 32:1-6). YHVH memberitahu Mosheh tentang penyembahan berhala mereka dan mengancam akan menghancurkan orang Yisra’el, tetapi Mosheh menengahi demi mereka. Sementara dia bergegas menuruni gunung, dengan loh-loh di tangan, dia melihat umat itu menari-nari di sekitar berhala itu. Loh-loh itu kemudian menjadi berat dan hancur ke tanah (Kel. 32:19). Mosheh kemudian menghancurkan anak lembu tuangan itu dan memimpin orang-orang Levi (satu-satunya suku yang tidak menyumbangkan emas untuk penciptaan berhala itu) dalam membunuh 3.000 orang dari para pemimpin gerombolan. Keesokan harinya dia kembali kepada Elohim dan berkata, “Dan sekarang, jika Engkau akan menanggung dosa mereka, dan jika tidak, mohon hapuskanlah aku dari gulungan kitab-Mu yang Engkau tulis.” Meskipun syafaat Mosheh, Elohim mengirimkan tulah ke atas orang Yisra’el.

Beberapa waktu kemudian, Mosheh diperintahkan untuk menyiapkan satu set loh-loh baru untuk sekali lagi naik ke gunung, di mana Elohim berkemurahan akan memulihkan perjanjian. Set loh-loh kedua ini diukir dari safir oleh Mosheh sendiri (bukan oleh Elohim) sebagai seuah pendamaian bagi dosa Yisra’el dengan Anak Lembu Emas.

Menurut tradisi kerabbian, Mosheh mengukir loh-loh baru selama bulan Elul, selama 40 hari yang ketiga di Gunung Sinai (lihat komentar Rashi, di bawah). Menurut tradisi ini, Mosheh naik pada Rosh Chodesh Elul dan turun pada 10 Tishri, pada akhir Yom Kippur, ketika pertobatan dan pemulihan umat itu telah genap. Oleh karena itu bulan Elul melambangkan waktu dosa nasional dan pengampunan yang diperoleh melalui teshuvah (pertobatan) di hadapan YHVH.

Rashi menulis tentang peristiwa ini:

Pada 6 Sivan, Mosheh naik ke gunung …. Pada 17 Tammuz, loh-loh dihancurkan (40 hari yang pertama). Pada hari ke-18 ia membakar Anak Lembu [Emas] dan menghakimi para pelanggar. Pada hari ke-19 dia naik selama empat puluh hari dan memohon belas kasihan (40 hari yang kedua). Pada 1 Elul dia naik untuk menerima Loh-loh Kedua, dan ada di sana selama empat puluh hari (40 hari yang ketiga). Pada 10 Tishrei Elohim memulihkan niat baik-Nya kepada orang-orang Yahudi dengan senang hati dan dengan sepenuh hati, berfirman kepada Mosheh, “Aku telah mengampuni, seperti yang engkau minta”, dan memberi dia Loh-loh Kedua.

Pemahaman tradisional tentang waktu peristiwa-peristiwa ini menjelaskan mengapa:

  • Hari Raya Shavu’ot (Pentakosta) dirayakan sebagai Z’man Mattan Torateinu – waktu untuk memperingati pemberian Torah
  • 17 Tammuz diperingati sebagai waktu tragedi nasional
  • Bulan Elul adalah masa selichot
  • 10 Tishri menandai Hari Penebusan (Yom Kippur).

Menurut Talmud, tulisan yang dipakai Elohim untuk menuliskan Sepuluh Perintah adalah ketav Ivri (tulisan yang lebih tua), bukan ketav Ashurit (tulisan ilahi yang belakangan dipulihkan kembali oleh Ezra kepada Yisra’el). Talmud Yerushalmi menjelaskan bahwa ע Ayin-lah yang secara ajaib melayang di dalam loh-loh, ketimbang ם Mem final dan ס Samekh.

Sepuluh Perintah dalam Bahasa Ibrani

Yudaisme tradisional mengajarkan bahwa loh-loh pertama, yang berisi lima “kata-kata” pertama atau perintah-perintah, mengidentifikasi kewajiban-kewajiban kita berkenaan dengan hubungan kita dengan YHVH, sedangkan loh kedua, yang berisi lima perintah terakhir, mengidentifikasi kewajiban-kewajiban kita mengenai hubungan kita dengan orang lain.

  1. Akulah YHVH Elohimmu.
  2. Elohim lain tidak akan ada bagimu di hadapan-Ku.
  3. Engkau tidak akan mengangkat » nama YHVH Elohimmu untuk kesia-siaan.
  4. Ingatlah » hari Shabbat untuk menguduskan dia.
  5. Muliakanlah » bapamu dan» ibumu.
  6. Engkau tidak akan membunuh.
  7. Engkau tidak akan melakukan perzinahan.
  8. Engkau tidak akan mencuri.
  9. Engkau tidak akan menjawab kesaksian palsu kepada rekanmu.
  10. Engkau tidak akan mengidamkan.

Perhatikan bahwa penafsiran Yahudi membagi perintah-perintah yang tercantum dalam Keluaran 20 (dan Ulangan 5) dengan satu cara, tradisi Katolik membaginya dengan yang cara lain, sedangkan tradisi Protestan dengan yang lain lagi (lihat tabel di bagian bawah). Kita mengikuti tradisi Yahudi tentang perintah-perintah.

Torah dan Sepuluh Perintah

Menurut tradisi kerabian Yahudi, Sepuluh Perintah terdiri dari “penyaringan” bagian-bagian dari Torah lengkap (tertulis dan lisan) yang disingkapkan kepada Mosheh di Sinai. Mishpatim – isi dari sefer habrit (kitab perjanjian) – sebenarnya adalah penjabaran atau “membongkar” isi Sepuluh Perintah. Dengan kata lain, keseluruhan dari berbagai perintah yang ditemukan dalam Torah dapat dikategorikan ke dalam salah satu dari sepuluh kategori utama ini. Misalnya, perintah untuk tidak melakukan pekerjaan pada hari Shabbat termasuk dalam kategori Perintah Keempat; perintah untuk memelihara kehidupan (pekuah nefesh) termasuk dalam kategori Perintah Keenam, dan seterusnya. Dengan cara ini, tradisi Yahudi melacak kembali keseluruhan berbagai perintah Torah kepada hukum-hukum yang paling mendasar seperti yang diungkapkan dalam Sepuluh Perintah.

Bahkan, orang-orang bijak Yahudi berpendapat bahwa meskipun YHVH memberikan 613 perintah (Taryag mitzvot) kepada orang-orang Yahudi, yang masing-masing dianggap penting, meskipun masing-masing perintah mungkin tidak diaplikasikan kepada setiap orang Yahudi (misalnya, hukum-hukum yang berkaitan dengan perempuan tidak berlaku bagi laki-laki, atau ritual-ritual Bait Suci tidak berlaku bagi orang non-Levi), semua dapat direduksi menjadi prinsip-prinsip yang ditemukan dalam Sepuluh Perintah.

Yang cukup menarik, Alkitab sendiri cenderung menyaring berbagai perintah Torah kepada prinsip-prinsip yang lebih umum yang jumlahnya semakin dan semakin sedikit. Misalnya, dalam Makkot 23b-24a, sebuah diskusi dimulai dari 1) penghitungan 613 perintah yang diidentifikasi dalam Torah menjadi 2) Pengurangan David dari jumlah itu menjadi 11 (Mzm. 15), menjadi 3) Pengurangan Yeshayahu dari jumlah itu menjadi enam (Yes. 33:15-16); menjadi 4) pengurangan Mikhayah menjadi tiga (Mik. 6:8); menjadi 5) pengurangan Yeshayahu lebih lanjut menjadi dua (Yes. 56:1); menjadi 6) satu perintah penting yang diberikan oleh Habakkuk (“Tetapi orang benar akan hidup oleh imannya” – Hab. 2:4). (Sungguh mencerahkan untuk melihat bagaimana Rabbi Sha’ul (Paulus) juga menyaring berbagai mitzvot ini dengan prinsip iman yang sama ini (Rom. 1:17; Gal. 3:11, Ibr. 10:38).

Perintah Terbesar

Pada periode Bait Suci awal, Sepuluh Perintah dibacakan tepat sebelum Shema sebagai bagian dari seder (urutan) ibadah, dan ini tampaknya benar, karena Shema merangkum keseluruhan perintah untuk menjadi kewajiban untuk mengasihi.

Yeshua menyetujui, dan menyatakan juga bahwa tuntutan-tuntutan Torah Elohim ditemukan dalam praktek kasih:

Dan seorang dari mereka, seorang ahli torah, bertanya sambil mencobai Dia dan berkata, “Guru, manakah perintah terbesar di dalam Torah?” Dan Yesus berkata kepadanya, “Kasihilah YHVH, Elohimmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Inilah perintah yang pertama dan yang terbesar. Dan yang kedua, yang sama dengan itu: Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh isi Torah dan Kitab Para Nabi” (Mat. 22:35-40).

“Oleh karena itu, segala apa saja yang kamu inginkan agar manusia lakukan kepadamu, demikian jugalah kamu lakukan kepada mereka, karena inilah isi Torah dan Kitab Para Nabi” (Mat. 7:12).

Dan tampaklah seorang ahli torah berdiri untuk mencobai Dia dan mengatakan, “Guru, dengan berbuat apa aku dapat mewarisi hidup yang kekal?” Dan Dia berkata kepadanya, “Apa yang telah tertulis di dalam Torah? Bagaimana kamu membacanya?” Dan sambil menjawab, dia berkata, “Kasihilah YHVH, Elohimmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap pikiranmu; dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Dan, Dia berkata kepadanya, “Engkau telah menjawab dengan benar, lakukanlah itu, maka kamu akan hidup” (Luk. 10:26-28).

Otoritas kerasulan dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru juga menegaskan hal ini:

Terhadap seorang pun janganlah berhutang apa saja kecuali mengasihi seorang terhadap yang lain, karena dia yang mengasihi orang lain telah menggenapi Torah. Sebab, “Jangan berzina, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan bersaksi dusta, jangan mengingini,” dan seandainya ada suatu perintah yang lain, ia sudah disimpulkan dalam firman ini, “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Kasih tidak berbuat yang jahat kepada sesama, karena itu kasih adalah penggenapan torah. (Rom. 13:8-10)

Sebab seluruh torah digenapi dalam satu perkataan, yaitu: “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri!” (Gal. 5:14)

Sebab, inilah berita yang telah kamu dengarkan dari semula, bahwa kita seharusnya mengasihi seorang terhadap yang lain. (1 Yoh. 3:11)

Esensi Sepuluh Perintah

Kasih adalah ide sentral dari keseluruhan Torah sejati. Meskipun ada sedikit perbedaan bahasa antara versi Sepuluh Perintah dari Keluaran dan Ulangan, keduanya dimulai dengan “AKULAH” (אָנֹכִי anokhi) dan keduanya diakhiri dengan “[untuk] sesamamu” (לְרֵעֶךָ lere’ekha). Menggabungkan keduanya secara bersama-sama dapat dikatakan “Aku adalah sesamamu,” menunjukkan bahwa YHVH sendiri dapat ditemukan di dalam sesamamu. Ketika kita mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri (אָהַבְתָּ לְרֵעֲךָ כָּמוֹךָ ahaveta le’re’akha kamokha), kita pada dasarnya mendemonstrasikan kasih kita kepada YHVH. Kita harus belajar untuk mengabaikan klaim-klaim ego kita dan berpegang teguh pada pemikiran chesed (kebaikan). Jadi, siapakah sesama Anda? Anda sendiri – kepada setiap jiwa lain yang mungkin Anda temui hari ini …

Hari Peringatan Pemberian Torah

Orang-orang bijak Talmud mengidentifikasi Shavu’ot sebagai Z’man Mattan Torateinu, waktu yang memperingati pemberian Torah di Gunung Sinai. Menurut orang-orang bijak ini, Paskah mengingat penyembelihan Anak Domba Paskah, hari pertama Roti Tidak Beragi mengingat Eksodus dari Mitrayim, hari ketujuh Roti Tidak Beragi mengingat penyeberangan Laut Merah, menghitung omer mengingatkan hari-hari sebelum pemberian Torah di Sinai, yang terjadi pada 6 Sivan, 50 hari setelah Eksodus. Karena itu Shavu’ot diperingati sebagai hari peringatan pemberian Torah.

Karena setiap orang Yahudi dikatakan “hadir” di Sinai ketika perjanjian diberikan, pada Shavu’ot, orang-orang Yahudi meneguhkan kembali komitmen mereka kepada perjanjian Mosheh dan jalan hidup orang Yahudi. Selama kebaktian-kebaktian sinagoge, Sepuluh Perintah diucapkan dan setiap orang meratifikasinya dengan kol asher-dibber Adonai na’aseh v’nishma (Kel. 24:7b):

Karena anak-anak dianggap sebagai warisan dari YHVH, merupakan hal lazim untuk seremoni-seremoni konfirmasi Yahudi diadakan di sinagoga. Pada saat ini, orang-orang dewasa muda berkomitmen kembali kepada Talmud Torah (studi Torah) dan keputusan untuk hidup sebagai seorang Yahudi.

Megillat Rut (Kitab Rut), dibaca di sinagoga pada saat ini, karena peristiwa-peristiwa yang diceritakan terjadi selama masa penuaian jelai, dan Rut adalah gambaran kesediaan untuk menerima gaya hidup Yahudi (Rut adalah seorang Moab, non-Yahudi yang masuk dalam iman Yahudi). Menurut Talmud, Raja David, cicit laki-laki Rut, mati pada Shavu’ot.

Hari Peringatan Kelahiran Gereja

Di Yisra’el kuno, Shavu’ot adalah hari raya pertanian sekaligus waktu untuk memperingati Mattan Torah, pemberian Torah di Gunung Sinai. Secara historis, sebagai salah satu dari tiga hari raya ziarah, orang-orang Yahudi dari seluruh dunia akan datang ke Yerusalem untuk merayakan dan meneguhkan kembali komitmen mereka kepada perjanjian Mosheh.

Dan demikian itu adalah tradisi ketika Elohim menyampaikan Substansi yang mana hari raya Shavu’ot hanyalah “tipikal dan bayangan.” Karena Brit Chadashah (Perjanjian Baru) menyingkapkan bahwa Shavu’ot adalah klimaks dari rencana Elohim untuk pembebasan kita melalui Yeshua, Anak Domba Elohim yang sejati (Seh Elohim). Hitungan mundur menuju Shavu’ot mewakili pemberian yang dinanti-nantikan dari Perjanjian Baru kepada umat manusia, karena pada hari inilah Ruach HaQodesh (Roh Kudus) diberikan untuk membentuk Gereja Elohim.

Dengan jamahan ironi ilahi, tepat pada hari ketika orang-orang Yahudi dari seluruh dunia berkumpul di Yerusalem untuk meneguhkan kembali komitmen mereka kepada perjanjian Mosheh, Roh Kudus turun ke atas Yisra’el untuk menawarkan janji Perjanjian Baru bagi semua orang yang akan percaya (lihat Kis. 2:1-42). Perjanjian baru ini menjadikan Torah substansi hati, ditulis oleh Roh Elohim, dan menghasilkan kehidupan yang berbuah dalam pujian Elohim.

Sama seperti kebangkitan Yeshua mewakili Buah Sulung dari mereka yang telah mati (1 Kor. 15:20) dan menggenapi ritual profetik mengayunkan omer pada hari raya Buah Sulung, demikian juga pemberian Roh Kudus kepada gereja menggenapi persembahan ayunan dari roti-roti gandum pada hari raya Shavu’ot.

 

Shavu’ot menandai hari ketika Elohim masuk ke dalam relasi dengan umat perjanjian-Nya yang asli, orang-orang Yahudi. Selama Shavu’ot pertama di Sinai, Elohim mendirikan perjanjian Mosheh dan memberikan Torah dalam bentuk tertulis, tetapi selama Shavu’ot setelah kebangkitan Yeshua, Elohim mendirikan Perjanjian Baru ketika Dia menuliskan Torah pada hati para pengikut Yeshua.

  • Shavuot di Gunung Sinai kadang-kadang dianggap sebagai hari kelahiran Yudaisme. Shavu’ot di Yerusalem (Gunung Zion) adalah hari di mana gereja dilahirkan ketika Roh Kudus dicurahkan ke atas para pengikut Mashiach.
  • Di Gunung Sinai Sepuluh Hukum dituliskan pada loh-loh batu oleh “jari Elohim” (Kel. 31:18), tetapi di Gunung Zion, Torah dituliskan pada loh-loh hati oleh Roh Elohim (2 Kor. 3:3; Ibr. 8:10).
  • Sama seperti orang Yisra’el diteguhkan sebagai umat pilihan Elohim pada Shavu’ot dengan pemberian Torah, demikian juga Gereja diteguhkan sebagai umat pilihan Elohim pada Shavu’ot setelah kenaikan Mashiach ke surga sebagai Mediator Perjanjian yang Lebih Baik, berdasarkan pada janji-janji yang lebih baik (Ibr. 8:6). 3.000 orang yang ditambahkan kepada gereja pada hari itu adalah buah-buah sulung dari umat Elohim yang ditebus.
  • Dalam tradisi Yahudi, Shavu’ot dibandingkan dengan sebuah pernikahan, karena pada Shavuot perjanjian antara Elohim dan umat Yahudi dimeteraikan di Gunung Sinai. Gereja disebut Kallat Mashiach – Mempelai Perempuan Mesias (Why. 21:2,9), dan kita dengan sangat rindu menantikan perjamuan kawin yang akan datang (Why. 19:9).

Loh-loh Perjanjian Duplikat?

Dalam Mekhilta (koleksi midrash awal tentang Eksodus, yang secara samaran dianggap berasal dari Rabbi Ishmael, 90-135 M), Rabbi Chanina ben Gamaliel dikutip mengatakan: “Bagaimana Sepuluh Perintah diberikan? Lima di satu loh dan lima di loh yang lain. ‘Akulah YHVH’ ditulis melintang dari ‘Engkau tidak akan membunuh’ … tetapi orang-orang bijak mengatakan sepuluh [ditulis] pada satu loh dan sepuluh [ditulis] pada loh yang lain.”

Pendapat awal orang-orang bijak (yaitu, para penafsir pra-Mishnah) menyiratkan bahwa Sepuluh Perintah diberikan dalam bentuk rangkap, praktek yang serupa (tetapi tidak identik) dengan perjanjian-perjanjian di Timur Dekat kuno lainnya yang dibuat antara raja-raja dan pengikut-pengikut mereka (misalnya, perjanjian-perjanjian kekuasaan raja bangsa Het yang mencakup Pembukaan, Prolog Historis, Ketentuan-ketentuan, Kutukan-kutukan dan Berkat-berkat, perjamuan ratifikasi, dsb.). Namun, tidak seperti orang Het, perjanjian yang dibuat dengan Yisra’el dibuat dengan Elohim yang bertindak sebagai Raja, dan konvensi-konvensi budaya pada zaman itu diadopsi untuk mendefinisikan perjanjian-Nya dengan Yisra’el. Karena tidak ada mediator/saksi ilahi lainnya untuk perjanjian ini, kedua loh (yaitu, salinan kontrak) disimpan dalam Tabut Kudus (dan belakangan di Bait Suci) untuk mewakili syarat-syarat perjanjian bagi kedua belah pihak (ini tidak seperti perjanjian kekuasaan raja lainnya yang memberikan satu salinan kepada raja dan salinan lainnya kepada pengikut yang akan menyimpannya di kuil pagan untuk dibaca secara umum pada waktu tertentu).

Kedua pandangan ini (yakni, 5 pada masing-masing loh / 10 pada masing-masing loh) dipertahankan dalam kompilasi midrash utama tentang Eksodus (Midrash Rabbah), meskipun sebagian besar karya seni sinagoga mewakili pandangan terakhir bahwa dua loh masing-masing memiliki lima perintah yang tertulis di atasnya. Jadi, tradisi Yahudi mengakomodasi kedua pandangan itu, meskipun pandangan yang pertama lebih akurat secara historis.

Perbandingan Sepuluh Perintah

Yahudi

  1. Aku YHVH Elohimmu, yang membuat engkau keluar dari negeri Mitzrayim, dari rumah hamba-hamba.
  2. Elohim lain tidak akan ada bagimu di hadapan-Ku. Engkau tidak akan membuat bagimu patung pahatan dan segala keserupaan yang di surga di atas, dan yang di bumi di bawah, dan yang di dalam air di bawah bumi. Engkau tidak akan bersujud diri kepada mereka, dan engkau tidak akan dibuat melayani mereka, karena Aku YHVH Elohimmu, El yang cemburu, memperhitungkan kebejatan bapa-bapa ke atas anak-anak, ke atas generasi ketiga, dan ke atas generasi keempat, kepada yang membenci Aku. Dan melakukan kebaikan kepada beribu-ribu, kepada yang mengasihi Aku, dan kepada yang menjaga perintah-perintah-Ku.
  3. Engkau tidak akan mengangkat » nama YHVH Elohimmu untuk kesia-siaan, karena YHVH tidak akan membebaskan » dia yang mengangkat » nama-Nya untuk kesia-siaan.
  4. Ingatlah » hari Shabbat untuk menguduskan dia. Enam hari engkau akan melayani, dan engkau akan melakukan semua pekerjaanmu. Dan hari ketujuh adalah Shabbat bagi YHVH Elohimmu, engkau tidak akan melakukan segala pekerjaan, engkau dan anak laki-lakimu dan anak perempuanmu, hambamu, dan hamba-hamba perempuanmu, dan binatangmu, dan pengembaramu yang di dalam gerbang-gerbangmu. Karena enam hari YHVH membuat » langit dan» bumi, » laut dan» semua yang di dalam mereka, dan Dia beristirahat dalam hari ketujuh, atas demikian YHVH memberkati » hari Shabbat, dan Dia menguduskan dia.
  5. Muliakanlah » bapamu dan» ibumu supaya hari-harimu akan dibuat panjang di atas tanah di mana YHVH Elohimmu memberikan kepadamu.
  6. Engkau tidak akan membunuh.
  7. Engkau tidak akan melakukan perzinahan.
  8. Engkau tidak akan mencuri.
  9. Engkau tidak akan menjawab kesaksian palsu kepada rekanmu.
  10. Engkau tidak akan mengidamkan rumah rekanmu, engkau tidak akan mengidamkan istri rekanmu, dan hambanya, dan hamba perempuannya, dan lembu jantannya, dan keledainya, dan semua yang ada bagi rekanmu.

Protestan

  1. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
  2. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.
  3. Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
  4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.
  5. Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
  6. Jangan membunuh.
  7. Jangan berzinah.
  8. Jangan mencuri.
  9. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
  10. Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

Katolik

  1. Akulah TUHAN, Allahmu. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
  2. Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan.
  3. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat.
  4. Hormatilah ayahmu dan ibumu.
  5. Jangan membunuh.
  6. Jangan berzinah.
  7. Jangan mencuri.
  8. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
  9. Jangan mengingini isteri sesamamu.
  10. Jangan mengingini barang-barang sesamamu.

Referensi:

Ten Commandment