Sebuah langkah besar telah dilaksanakan untuk mengembalikan pelayanan Bait Suci. Sesudah studi intensif ke dalam detail-detail praktek, seekor lembu betina muda yang sebenarnya, meskipun bukan lembu betina merah, telah dibakar dalam tata cara Alkitab untuk pemurnian ritual orang-orang Yahudi, yang merupakan syarat mutlak untuk dapat dilaksanakannya pelayanan Bait Suci Ketiga.

Pasal 19 dari Kitab Bilangan memberikan deskripsi mendalam tentang mitzvah (perintah Torah) dari pembakaran lembu betina merah dan tata cara pencampuran dengan air untuk tujuan pemercikkan pada orang-orang Yahudi sebagai sarana pemurnian ritual dari kontak dengan mayat. Terlepas dari deskripsi Alkitab, mitzvah lembu betina merah dianggap yang paling membingungkan dari semua perintah Alkitab. Lembu betina merah sangatlah penting untuk pemulihan pelayanan Bait Suci.

Kembalinya mitzvah lembu betina merah digambarkan oleh Nabi Yehezkiel sebagai sebuah tahapan dalam penebusan terakhir.

Yeh 36:25 Kemudian Aku akan memercikkan air yang jernih atasmu, dan kamu akan menjadi tahir, Aku akan membersihkan kamu dari segala kenajisanmu dan dari segala berhalamu.

Pembakaran lembu betina merah bukanlah sebuah pengurbanan, sehingga ia harus dibakar di area di luar Bait Suci, di Bukit Zaitun. Menurut tradisi Yahudi, sudah ada sembilan lembu betina merah sejak mitzvah diberikan di Gunung Sinai, dan lembu betina merah kesepuluh akan digunakan pada zaman Mesias. Lembu betina betina merah terakhir yang tercatat, dipersiapkan oleh imam besar Ishmael Ben Piavi sekitar tahun 60 M dan abunya cukup untuk tiga ratus tahun selanjutnya.

Pertengahan bulan Agustus ini, Profesor Zohar Amar, seorang profesor di Departemen Studi Tanah Israel di Universitas Bar-Ilan, melaporkan pada Konferensi Temple Institute mengenai studinya ke dalam detail-detail praktek untuk mendirikan kembali mitzvah (perintah Torah) mengenai lembu betina merah. Profesor Amar telah terlibat dalam berbagai bidang penelitian yang menghubungkan Torah dan ilmu pengetahuan. Pendekatannya adalah memanfaatkan teknik penelitian kontemporer untuk pengetahuan dalam Studi Yahudi.

“Pembakaran lembu betina muda merah adalah perintah Alkitab yang dilaksanakan hingga akhir periode Bait Suci Kedua,” Profesor Amar mengatakan dalam konferensi itu. “Ini adalah upacara langka yang dilakukan sekali dalam beberapa generasi, dan abunya digunakan untuk menyiapkan air kudus yang memberikan pemurnian ritual. Sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa praktek pemurnian dengan menggunakan abu lembu betina merah berlanjut hingga awal abad keempat Masehi.”

“Detail-detail pembakaran lembu betina muda dan metode mempersiapkan abu ditemukan secara luas dalam sumber-sumber dari periode Mishnaik; sampai saat ini, subjek ini baru dipelajari secara teoritis,” kata Profesor Amar, menjelaskan bahwa ia melakukan penelitiannya dalam kerja sama dengan Temple Institute. “Eksperimen simulasi pembakaran lembu betina merah dilakukan untuk menyelidiki beberapa pertanyaan penelitian, seperti: Berapa banyak kayu yang dibutuhkan untuk membakar seekor lembu betina merah untuk sepenuhnya menjadi abu dan berapa banyak abu yang tersisa setelah pembakaran? Bagaimana mungkin abu dari membakar seekor lembu betina muda, seperti yang diperlihatkan dalam sumber-sumber kuno, dapat memasok keperluan-keperluan ritual selama bertahun-tahun?”

“Salah satu model yang digunakan untuk membangun program eksperimental adalah ritual kremasi yang dilakukan hingga hari ini di India dan Nepal,” Profesor Amar menjelaskan. “Desain seluruh eksperimen memakan waktu berbulan-bulan, dan implementasinya sendiri dilakukan jauh dari pandangan publik dan media. Hanya sesudah menganalisis hasilnya barulah dimungkinkan untuk mempublikasikannya. Dalam perjalanan eksperimen, semua spesifikasi yang disebutkan dalam sumber-sumber kuno direkonstruksi, dimulai dengan penggalian sebuah ‘pemerasan anggur’; sebuah lubang persegi, di mana tumpukan kayu bakar dibangun dari kayu kering dari pohon pinus, ek, dan pohon ara.”

“Untuk tujuan eksperimen, seekor lembu betina muda yang matang dipilih dari ras Baladi yang lazim di Israel kuno,” kata Profesor Amar, menekankan bahwa lembu betina yang digunakan dalam eksperimen itu tidak merah. “Proses pembakaran berlangsung sekitar sembilan jam, dan abu lembu betina muda bersama kayu yang digunakan untuk membakarnya menghasilkan beberapa puluh kilogram abu. Didapati bahwa jumlah abu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan air ritual hanya sejumlah sedikit yang ditaburkan di atas air. Berdasarkan jumlah abu yang diperoleh, peneliti mengusulkan model teoretis untuk menghitung berapa banyak percikan air yang bisa dihasilkan oleh jumlah ini. Ini adalah studi terobosan signifikansi historis karena belum ada investigasi ke dalam implementasi praktis dari hukum lembu betina merah sejak penghancuran Bait Suci.”

Eksperimen ini dirancang untuk memeriksa jumlah abu yang dihasilkan, dan apakah itu akan cukup untuk memurnikan setiap orang Israel yang hidup hari ini.

Berat dan Ukuran

Menurut penelitian Profesor Amar, jumlah rata-rata abu yang dihasilkan dari pinus Yerusalem adalah sekitar 5,2 persen dari berat kayu, 6,7 persen untuk pohon badam, 8,5 persen untuk pohon ara, 8,4 persen untuk pohon cemara, dan 5,4 persen untuk pohon kenari. Profesor Amar mengkonfirmasi Mishna (hukum lisan) yang menyatakan bahwa kayu dengan kualitas terbaik untuk membakar lembu betina merah berasal dari pohon ara yang umum di zaman Bait Suci.

“Kayunya berserat dan mudah terbakar,” Profesor Amar menjelaskan. “Itu kemudian membakar kayu lainnya di dalam tumpukan. Abu yang dihasilkan cukup halus dan membutuhkan sedikit pengayakan setelah pembakaran.”

Profesor Amar menekankan pentingnya kayu.

“Api yang terus-menerus dan intens dibutuhkan karena lembu betina merah harus terbakar habis, tulang-tulang dan seluruhnya,” katanya. “Dalam hal ini, ini mirip dengan tradisi kremasi di Nepal dan India yang telah dilakukan selama ribuan tahun, bahkan sampai hari ini.”

Penelitiannya menyimpulkan bahwa untuk membakar seekor lembu betina muda seberat 100 kilogram, diperlukan setengah ton kayu. Pembakaran dilakukan di ruang terbuka dan api mencapai suhu 800-1000 derajat Celcius. Pada akhir proses, sangat sedikit material organik yang tersisa dan bahkan tulang-tulangnya berubah menjadi bubuk. Pada akhirnya, sekitar 2-4 kilogram abu tersisa dari tubuh lembu betina muda, atau sekitar 5,3 persen dari tubuh aslinya.

Menurut Profesor Amar, setengah ton sapi akan membutuhkan 5,2 ton kayu, atau lima kilogram kayu untuk setiap kilogram daging.

Membangun Pembakaran

Masih ada beberapa elemen yang harus diverifikasi sebelum ritual yang sebenarnya dapat dilakukan. Temple Institute masih menyelidiki lokasi tepatnya di mana lembu betina merah dibakar. Untuk tujuan eksperimen, parit digali pada batuan dasar, panjang 4,2 meter, lebar 2 meter, dan kedalaman 90 sentimeter. Pembakaran dibangun dengan cara yang dijelaskan dalam Torah lisan sebagai “menara dengan jendela-jendela”.

Untuk eksperimen pembakaran, Profesor Amar menggunakan balok-balok kayu dengan diameter sekitar 20 sentimeter. Cara di mana balok-balok ditumpuk memungkinkan api untuk sepenuhnya meliputi balok-balok sementara juga memungkinkan udara untuk masuk. Panjang balok sekitar 1,9 meter. Menara yang sesungguhnya dibangun menggunakan pinus, sesuai Torah lisan. Bagian dalamnya diisi dengan tiga lapisan: di bagian bawah ada ranting-ranting dan daun-daun pinus untuk memfasilitasi pengapian awal. Di atasnya ditempatkan batang-batang pohon ara kering yang relatif tebal. Di atasnya ditempatkan batang-batang pohon ek yang terbakar intens untuk jangka waktu yang lama.

red-heifer-burn

Seekor sapi dengan berat 270 kilogram digunakan untuk eksperimen dan disembelih secara ritual berdekatan dengan tumpukan kayu yang disiapkan. Darah yang dibutuhkan untuk ritual dikumpulkan di tangan seorang Kohen (imam). Lembu betina muda itu diangkat ke atas tumpukan kayu oleh 12 orang menggunakan usungan.

Eksperimen itu dilakukan sesuai dengan detail-detail ritual yang paling ketat dengan kepala lembu betina ke arah selatan dan kakinya menghadap ke barat. Ketika eksperimen dimulai, api menyebar dengan cepat dan dalam waktu satu jam, perut sapi itu runtuh. Pada titik ini, kayu aras, hisop, dan wol yang diwarnai merah ditambahkan ke tumpukan kayu, sesuai dengan perintah-perintah Alkitab.

Setelah dua jam, api mencapai suhu 940 derajat. Api membakar selama 9 jam, tetapi beberapa hari dibiarkan berlalu sebelum abu telah menjadi cukup dingin untuk memungkinkan mereka dikumpulkan.

Selain lembu, 1,4 ton kayu digunakan dalam eksperimen. Ini menghasilkan total 66 kilogram abu, atau sekitar 4 persen dari bahan aslinya. Profesor Amar memperkirakan bahwa abu dari hewan yang sebenarnya mewakili 11 kilogram total abu.

Miliaran Orang Yahudi Dapat Dimurnikan

Tahap eksperimen selanjutnya adalah menentukan berapa banyak orang yang dapat dimurnikan dengan jumlah abu sebanyak ini. Untuk ritual pemurnian, sejumput kecil abu ditaburkan di atas tong-tong berisi air dari mata air. Profesor Amar memutuskan bahwa untuk memfasilitasi proses ini, peralatan-peralatan harus digunakan untuk menggiling abu menjadi bubuk halus.

Untuk satu tong berisi 250 liter air dengan bukaan 60 sentimeter, Profesor Amar menentukan bahwa 0,2 – 0,3 gram abu sudah cukup. Ini sekitar satu gram abu per seribu liter air.

Pemurnian ritual hanya membutuhkan satu tetes untuk dipercikkan kepada setiap orang atau objek. Untuk tujuan eksperimen, Profesor Amar menggunakan berkas tiga cabang hisop biasa yang dicelupkan ke dalam satu sentimeter air. Dia kemudian memercikkan air ke dalam wadah sepuluh kali. Dengan menggunakan metode ini, ia menentukan bahwa satu percikan membutuhkan sepersepuluh dari satu milimeter air.

Atas dasar ini, Profesor Amar dapat menentukan bahwa 66 kilogram abu akan cukup untuk setidaknya 660 miliar pemercikan.

Dia juga mencatat bahwa diizinkan untuk menambahkan kayu. Setiap penambahan satu ton kayu akan memungkinkan tambahan 250 miliar pemercikan.

“Bahkan jika kita mengasumsikan bahwa sebagian dari air akan terbuang atau tidak termanfaatkan sepenuhnya, atau jika sebagian dari abu hilang, dalam hal apa pun, abu dari satu lembu betina merah akan cukup untuk memurnikan sejumlah besar orang,” kata Profesor Amar menyimpulkan. “Ini mengklarifikasi bagaimana abu dari satu lembu betina muda cukup untuk memurnikan beberapa generasi Israel bahkan setelah Bait Suci itu sendiri dicemarkan.”

“Bagi orang-orang yang berjuang dengan sekuat tenaga dalam proyek ini, bukan tidak masuk akal bahwa dalam beberapa tahun, proses pemurnian yang terlupakan ini akan sepenuhnya diperbarui,” kata Profesor Amar menyimpulkan.

Satu Langkah Lebih Dekat

Rabbi Azariah Ariel telah ditugasi mengawasi pencarian seekor lembu betina merah oleh Temple Institute.

“Agar kita dapat melakukan mitzvah ini, kita membutuhkan lembu betina merah yang kosher (halal) untuk dilahirkan,” kata Rabbi Ariel kepada Breaking Israel News. “Ini ada di tangan Elohim. Kami tahu ini langka, tetapi kami bahkan tidak memiliki statistik untuk menebak seberapa langka ini sebenarnya ada di alam. Bahkan peternakan-peternakan yang kami wawancarai tidak tahu betapa langkanya ini.”

“Saya bisa menerima panggilan telepon hari ini bahwa seekor lembu betina merah telah dilahirkan, atau mungkin beberapa tahun lagi,” kata Rabbi Ariel. “Kami sama sekali tidak tahu dan itu sepenuhnya ada di tangan Elohim.”

“Kami masih belum memiliki lembu betina merah yang dapat disertifikasi,” kata Rabbi Ariel. “Kami saat ini sedang memeriksa dua anak lembu dari jenis peranakan Angus yang berusia lima bulan. Agar mereka dapat dianggap lembu betina muda, seperti yang dijelaskan Alkitab, mereka harus berusia dua tahun dan satu hari. Tidak boleh ada cacat, tidak ada lubang di telinga. Jika dua helai rambut tidak merah, lembu betina muda itu tidak layak. Ada masalah Halakhik dengan mereka sekarang karena beberapa helai rambut mungkin bukan warna merah yang tepat, meskipun ini mungkin dapat membaik ketika mereka bertambah tua.”

“Proyek ini tentu banyak mengajar kami,” kata Rabbi Ariel. “Ini adalah hasil penelitian bertahun-tahun terhadap sumber-sumber tertulis. Pasti akan ada lebih banyak uji coba sebelum kita siap untuk ritual. Tetapi ini tentu saja membawa kita lebih dekat untuk mengaktualisasikan kembalinya mitzvah.”

“Tapi dari pihak kami, persyaratan untuk melakukan ritual itu ditetapkan di Gunung Sinai,” kata Rabbi Ariel. “Mitzvot bukanlah pilihan dan kami tidak menunggu mereka melayang turun dari surga. Sebagai orang Yahudi, kami harus melakukan apa yang dapat kami lakukan untuk melakukan apa yang diperintahkan Elohim.”

Temple Institute di Yerusalem telah bekerja selama tiga dekade untuk mendidik publik dan membuat langkah-langkah praktis untuk mempersiapkan Bait Suci Ketiga. Karya Profesor Amar dapat dilihat di situs webnya.

Sumber:

זהר עמר

The Temple Institute

Exclusive: Burning of Heifer Takes Place in Preparation for Third Temple

Sponsored Content: Tersedia Kalender Ibrani tahun 5780 (2019 – 2020) – Tahun Pey

 

Iklan