Selasa malam, 16 Juli 2019, sebuah gerhana bulan melintasi Israel. Sebuah sumber esoterik Yahudi menubuatkan bahwa gerhana bulan yang melintasi Yerusalem ini, memprediksi kematian mendadak seorang “sultan” diikuti oleh kekacauan dan tragedi besar. Sumber itu, yang ditulis lebih dari seratus tahun yang lalu, telah terbukti akurat di masa lalu, menggambarkan gempa bumi global baru-baru ini di sepanjang Cincin Api.

Rabbi Yosef Berger, rabbi dari Makam Raja Daud di Gunung Zion, secara pribadi menyaksikan gerhana bulan yang melintasi Yerusalem pada Selasa malam.

“Saya berada di Kotel (Tembok Barat) dan melihat bulan purnama perlahan tertutup bayangan,” kata Rabbi Berger kepada Breaking Israel News. “Itu adalah pemandangan yang menakjubkan ketika ia melintasi kubah emas.”

Rabbi mencatat bahwa tokoh-tokoh Alkitab jauh lebih terhubung dengan alam ketimbang manusia modern.

“Seorang manusia modern tidak memahami bagaimana Tuhan muncul di alam, bagaimana Tuhan berbicara kepada kita melalui alam,” kata Rabbi Berger. “Bagi para nabi, ini sangat jelas.”

Rabbi itu mengutip Yalkut Moshe, sebuah buku wawasan kabbalistik yang ditulis pada tahun 1894 oleh Rabbi Moshe ben Yisrael Benyamin di Munkacs, Polandia.

“Jika terjadi gerhana bulan di bulan Tamuz, seorang ‘sultan’ akan mati mendadak dan kesusahan besar akan menyusul,” kata Rabbi Berger mengutip sumber esoterik lainnya. “Ketika gerhana bulan terjadi pada Tamuz, seorang raja ‘luazi’ akan mati mendadak dan kekacauan besar akan mengikuti, menyebabkan masalah besar.”

“Luazi” umumnya diterjemahkan sebagai orang asing, seperti yang terlihat dalam Kitab Mazmur.

Mzm 114:1 Ketika Israel keluar dari Mesir, keluarga Yakub keluar dari bangsa yang berbahasa asing;

“Ini jelas merujuk kepada kesusahan bagi orang non-Yahudi,” kata Rabi Berger, mengutip Talmud. “Kata ‘sultan’ tidak umum digunakan. Ini hanya digunakan mengacu kepada para pemimpin Arab. Dan karena umat Islam menandai bulan-bulan dalam kalender mereka hanya menggunakan acuan Bulan, ini tampaknya menjadi pertanda bagi mereka, mereka yang membangun kubah emas yang bertengger di atas ruang Mahakudus.”

Gerhana bulan Selasa lalu terjadi dua minggu setelah gerhana matahari total melintasi Pasifik Selatan. Gerhana matahari total itu terjadi pada 2 Juli 2019, bertepatan dengan pergantian bulan Ibrani pada Rosh Chodesh Tamuz, bulan baru yang menandai awal bulan Ibrani Tamuz.

Kalender Ibrani 5779-11

Dalam bukunya Davar B’ito, panduan untuk kalender berdasarkan sumber-sumber esoterik Yahudi, Rabbi Mordechai Genut mengupas sumber-sumber Yahudi yang menyatakan bahwa gerhana pada bulan baru Tamuz adalah tanda bahwa gempa-gempa bumi besar akan segera terjadi.

“Akan ada peningkatan nyata dalam gempa-gempa bumi dan erupsi gunung-gunung berapi, bahkan lebih intens daripada yang telah kita lihat pada tahun lalu,” kata Rabbi Genuth. “Sama seperti gerhana adalah konflik antara matahari dan bulan untuk memerintah langit, akan ada konflik serupa di bumi. Ini akan memulai suatu era ketika pemerintah-pemerintah akan berimbang. Beberapa pemerintah yang sekarang nampak kuat akan jatuh, dan yang lain-lainnya akan bangkit menggantikan mereka.”

Prediksi ini terbukti akurat ketika yang satu dari dua gempa bumi besar yang melanda California minggu lalu datang. Pada hari Kamis, 4 Juli 2019, pada malam Rosh Chodesh Tamuz, gempa berkekuatan 6,4 mengguncang California Selatan. Meskipun ini adalah gempa terbesar yang pernah dialami wilayah ini dalam hampir dua dekade, segera menjadi jelas bahwa peristiwa seismik ini hanyalah awal dari berbagai hal yang akan datang. Gempa lain, gempa 7,1 skala Richter, sepuluh kali lebih besar dari gempa sebelumnya, terjadi pada Jumat malam, dan telah memicu terjadinya 16.000 gempa lain di California Selatan.

Dalam blog “The Economic Collapse” pada tanggal 14 Juli 2019 Michael Snyder, seorang penulis tanda-tanda Akhir Zaman mengamati peningkatan frekuensi gempa bumi global hingga 3 kali lipat dari normalnya:

Dalam 48 jam terakhir kita telah melihat gempa-gempa besar meledak seperti petasan di sepanjang Cincin Api. Seperti yang akan Anda lihat di bawah, gempa berkekuatan 6,1 barusan melanda Jepang, gempa berkekuatan 6,6 baru saja melanda Australia dan gempa berkekuatan 7,3 barusan melanda Maluku Utara, Indonesia. Dan tentu saja semua ini terjadi hanya sekitar satu minggu setelah California selatan dilanda dua gempa bumi terbesar yang pernah dialaminya dalam lebih dari dua dekade. Jadi, apakah semua goncangan ini tidak biasa? Beberapa saat yang lalu, saya mengambil data terbaru dari Earthquake Track, dan apa yang saya temukan lebih dari sekadar sedikit mengkhawatirkan. Melihat seluruh dunia, kita memiliki rata-rata 193 gempa berkekuatan 1,5 SR atau lebih besar per hari sejauh ini pada tahun 2019. Itu sangat tinggi, tetapi itu jauh jika dibandingkan dengan apa yang telah kita saksikan selama minggu terakhir. Dalam tujuh hari terakhir, planet kita telah mengalami rata-rata lebih dari 677 gempa berkekuatan 1,5 SR atau lebih besar per hari. Itu berarti jumlah gempa bumi global saat ini lebih dari 3 kali di atas normal.

Terlepas dari apa yang dikatakan oleh sumber-sumber Yahudi kuno di atas, kita perlu lebih memperhatikan apa yang dikatakan Tuhan dan Rabbi kita, Yeshua, dalam Kitab Injil tentang apa yang Dia nubuatkan mengenai terjadinya hal-hal semacam ini sebelum kedatangan-Nya kembali ke bumi, yang disebut sebagai Sakit Bersalin Mesias.

Referensi:

Kalender Alkitab Tahun Ibrani 5780 (Sept 2019 – Sept 2020)

Kalender Alkitab Tahun Ibrani 5779 – Tahun Ayin Tet תשע”ט

Ancient Prophecy of Lunar Eclipse: A “Sultan” Will Die Suddenly

Rabbi Who Prophesied California’s 6.4 Earthquakes Releases New Bombshell Prediction

The Number Of Global Earthquakes Is 3 Times Above Normal – 6.1, 6.6, 7.3 + Dozens More Hit The Ring Of Fire Over The Last 48 Hours

California’s 6.4 Earthquakes Signalling End-of-Days Global Shakeup

 

Iklan