Suara yang berbicara dari surga di Gunung Transfigurasi (Gunung Hermon) berhubungan dengan nubuatan Mesianik yang penting. Tahukah Anda tentang apa saja?

Matius 17: (ILT)

  1. Dan setelah enam hari, YESHUA mengajak Petrus dan Yakobus dan Yohanes saudaranya dan membawa mereka naik ke sebuah gunung yang tinggi, secara tersendiri.
  2. Dan Dia diubah-rupakan (Yunani: metamorphoo; transformasi, transfigur, berubah tampilan) di hadapan mereka, dan wajah-Nya bersinar seperti matahari dan jubah-Nya menjadi putih seperti cahaya.
  3. Dan lihatlah, tampaklah kepada mereka Musa dan Elia sedang bercakap-cakap dengan-Nya.
  4. Dan sambil menanggapi, Petrus berkata kepada YESHUA, “Tuhan, adalah baik bagi kita untuk berada di sini. Jika Engkau mau, kami akan membuatkan tiga kemah di sini, satu untuk Engkau, dan satu untuk Musa, dan satu untuk Elia.”
  5. Sementara dia sedang berbicara, tampaklah segumpal awan yang terang menaungi mereka, dan perhatikanlah, suatu suara dari awan itu, yang mengatakan, “Inilah Putra-Ku Yang Terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!”

Pada zaman kita sangat jarang atau bahkan tidak pernah terjadi terdengar suara berbicara dari surga, namun tampaknya, peristiwa itu lebih sering terjadi pada zaman para Rasul. Literatur Talmud mencatat beberapa anekdot “suara dari surga” yang berbicara pada akhir Zaman Bait Suci Kedua.

Istilah Ibrani untuk suara surgawi, bat kol, secara harfiah artinya “anak perempuan dari suara,” suatu cara untuk menggambarkan gema atau gaung. Talmud menggunakan istilah tersebut untuk merujuk kepada suara yang terdengar dari seorang pembicara yang tak kelihatan. Rasul Paulus mendengar suatu suara dari surga berbicara kepadanya seperti juga yang terjadi kepada penulis kitab Wahyu.

Kisah 26:14-15 (ILT) Dan ketika kami semuanya rebah ke tanah, aku mendengar suatu suara yang berbicara kepadaku dan yang berkata dalam bahasa Ibrani: Saul, Saul, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu untuk menendang ke tongkat runcing! Maka aku berkata: Siapakah Engkau, Tuan? Dan Dia berkata: Akulah YESHUA, yang sedang engkau aniaya.

Kitab Injil mencatat tiga peristiwa yang berhubungan dengan suara yang berbicara dari surga: suara di sungai Yordan, suara di pintu gerbang kemenangan (Yohanes 12:29), dan suara di atas gunung Transfigurasi.

Yohanes 12:28 (ILT) “Bapa, muliakanlah Nama-Mu!” Lalu, suatu suara datang dari surga, “Aku pun telah memuliakan dan Aku akan memuliakan lagi.”

Suara dari surga yang berbicara pada peristiwa di Gunung Transfigurasi mengulang pesan yang sama yang di dengar Sang Rabbi pada saat pembaptisan-Nya di sungai Yordan. Dalam kejadian itu, suara tersebut ditujukan kepada Yeshua secara langsung, yang mengatakan, “Engkau adalah Putra-Ku …”

Lukas 3:21-22 (ILT) Dan terjadilah, pada waktu seluruh orang banyak itu dibaptis, YESHUA pun dibaptis, dan ketika berdoa, langit pun terbuka, dan Roh Kudus turun ke atas-Nya dalam wujud lahiriah seperti seekor burung merpati dan terdengarlah suara dari langit yang berkata, “Engkaulah Putra-Ku Yang Terkasih, kepada-Mu Aku berkenan.”

Di atas gunung yang tinggi, suara itu ditujukan kepada para murid, “Inilah Putra-Ku yang Terkasih …”, dan pesan itu datang dengan perintah tambahan, “Dengarkanlah Dia!”

Matius 17:5 (ILT) Sementara dia sedang berbicara, tampaklah segumpal awan yang terang menaungi mereka, dan perhatikanlah, suatu suara dari awan itu, yang mengatakan, “Inilah Putra-Ku Yang Terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!”

Deklarasi misterius “Inilah Putra-Ku yang terkasih” menyinggung langsung Mazmur 2 dimana YAHWEH mengatakan kepada Yang Diurapi-Nya (Mesias), “Engkau adalah Putra-Ku. Pada hari ini Aku telah memperanakkan Engkau” (Mazmur 2:7). Para rabbi-rabbi bijak menganggap Mazmur 2 sebagai mazmur tentang Mesias, dan mereka sering menggunakan mazmur tersebut untuk memberikan teks-teks bukti tentang Mesias.

2Petrus 1:17 (ILT) Sebab, ketika menerima kehormatan dan kemuliaan dari Elohim Bapa, ada suatu suara seperti ini yang disampaikan kepada-Nya dengan kemuliaan yang dahsyat, “Inilah Putra-Ku, yang terkasih, kepada-Nya Aku berkenan!”

Kata-kata “kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 17: 5; 2 Petrus 1:17) secara langsung menyinggung Nyanyian Hamba Mesias Yesaya 42:1: “Lihatlah hamba-Ku, Aku akan menopang Dia, Yang Terpilih, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan. Aku menaruh Roh-Ku atas Dia… ”

“Kepada-Nyalah Aku berkenan” adalah ungkapan bahasa Yunani yang setara dengan idiom Ibrani, ” yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan.” Dengan menyinggung Yesaya 42:1, yang pertama dari Nyanyian-nyanyian Hamba, suara dari surga mengidentifikasi Yeshua dari Nazaret sebagai subyek dari seluruh nubuatan-nubuatan Yesaya tentang “Hamba YAHWEH” yang mencapai puncak pada Hamba Yang Menderita Yesaya 53.

Suara yang ditujukan kepada para murid untuk “mendengarkan Dia,” menyinggung nubuatan nabi Musa. Dalam Kitab Ulangan 18 Musa mengatakan kepada orang Israel bahwa pada suatu hari YAHWEH akan membangkitkan seorang nabi seperti dia (Musa) dari antara orang-orang Yahudi. Torah berkata, “Kamu harus mendengarkan dia” (Ulangan 18:15). Suara surgawi mengidentifikasi Yeshua sebagai nabi seperti Musa yang kepada-Nya kita harus mendengarkan.

Ulangan 18:15 (ILT) “YAHWEH, Elohimmu, akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antaramu, dari saudara-saudaramu, seorang yang seperti aku, kamu harus mendengarkan dia,

Ulangan 18:18-19 (ILT) “Aku (YAHWEH) akan membangkitkan seorang nabi bagi mereka dari antara saudara-saudara mereka seperti engkau (Musa), dan Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan dia akan mengatakan kepada mereka semua yang akan Aku perintahkan kepadanya. Dan akan terjadi, setiap orang yang tidak mendengarkan firman-Ku, yang akan dia katakan dalam Nama-Ku, Aku akan menuntut pertanggungjawabannya.

Elia dan Musa

Di puncak Gunung Transfigurasi, Elia dan Musa menampakkan diri; dan mereka menyampaikan pesan dari surga kepada Yeshua” (Markus 9:4). Apa arti pentingnya? Torah membutuhkan dua orang saksi untuk meneguhkan suatu hal. Kemungkinan, Musa dan Elia berfungsi sebagai dua saksi yang dipersyaratkan. Nabi Maleakhi menyebutkan kedua nama tersebut saat menubuatkan kedatangan Hari YAHWEH yang besar itu:

Maleakhi 4:4-5 (ILT) “Ingatlah akan torah Musa, hamba-Ku, yang telah Aku perintahkan di Horeb untuk semua orang Israel, yaitu ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum.” “Lihatlah Aku mengutus Nabi Elia kepadamu sebelum datangnya hari YAHWEH yang besar dan mengerikan itu.

Kemungkinan Musa dan Elia mewakili kesaksian dari Torah dan Para Nabi. Musa sebagai penulis Torah dan Elia bertindak sebagai tipikal nabi klasik. Tuhan Yeshua sering merujuk kepada kesaksian ganda baik dari Torah maupun Para Nabi. Misalnya: “Dan Dia menjelaskan kepada mereka hal-hal mengenai diri-Nya di dalam seluruh kitab-kitab yang dimulai dari Musa dan dari seluruh Para Nabi” (Lukas 24:27).

Musa dan Elia keduanya mendaki Gunung Sinai, dan keduanya mendengar Elohim berbicara dari surga di puncak gunung. Baik Musa dan Elia memiliki peranan Akhir Zaman. Elia akan datang sebagai pendahulu Mesias, dan Mesias akan datang seperti nabi seperti Musa. Satu pandangan bahkan mengaitkan Musa dan Elia sebagai pembawa kabar kedatangan Mesias:

Yang Kudus, diberkatilah Dia, berkata kepada Musa: “Musa, demi hidupmu, sama seperti engkau telah menyerahkan jiwamu bagi orang Israel di dunia ini, maka di masa yang akan datang, ketika Aku mendatangkan kepada mereka nabi Elia, engkau berdua akan datang sebagai kesatuan. (Deuteronomy Rabbah 3:17).

Tradisi apokaliptik dari orang-orang percaya awal sepertinya mengharapkan kedatangan Musa dan Elia pada Masa Kesengsaraan sakit bersalin mesianik. Dua saksi yang mengemban kuasa Musa dan Elia akan memberitakan Kedatangan Kembali Mesias dalam Wahyu 11.

Wahyu 11:3-4 (ILT) Dan Aku akan menetapkan kepada kedua saksi-Ku dan mereka akan bernubuat selama seribu dua ratus enam puluh hari (42 bulan atau 3,5 tahun) dengan mengenakan pakaian kabung. Mereka inilah dua pohon zaitun dan dua kaki pelita yang berdiri di hadapan Elohim seluruh bumi.

Zakharia 4:11,14 (ILT) Kemudian aku melanjutkan dan berkata kepadanya, “Apakah arti kedua pohon zaitun ini, yang di sisi kanan kaki pelita itu dan di sisi kirinya?” Lalu ia berkata, “Ini adalah kedua orang yang diurapi, yang berdiri di dekat Tuhan seluruh bumi!”

Kemunculan Musa (yang telah mati) dan Elia (yang tidak mati) merupakan kesaksian baik dari orang yang hidup maupun yang mati. Mesias adalah “Tuhan baik atas yang mati maupun atas yang hidup” (Roma 14:9). Musa mati di Gunung Nebo, dan YAHWEH menguburkan dia di tanah Moab. Dalam wujud apakah Musa yang telah mati muncul pada peristiwa transfigurasi? Kebangkitan orang benar belum terjadi, jadi kita tidak dapat mengatakan bahwa Musa muncul dalam tubuh kebangkitannya. Musa hanya bisa tampil sebagai entitas spiritual, tidak bertubuh namun dapat dikenali dalam wujud manusia. Elia, di sisi lain, tidak mengalami kematian tapi naik ke surga dalam angin badai. Karena dia tidak pernah mati, dia sering digambarkan tampil dalam literatur Yahudi dan kisah rakyat Yahudi. Roh YAHWEH dapat “mengangkatnya dan melemparkannya ke atas salah satu gunung” (2 Raja-raja 2:16).

Tidak seorang pun pernah tahu kapan Elia bisa muncul. Keluarga-keluarga Yahudi menyediakan tempat baginya di meja Makan Malam (Seder) Paskah dan menempatkan sebuah kursi kosong baginya pada setiap upacara penyunatan. Dalam literatur rabbi, cerita rakyat Yahudi, dan kisah-kisah dari Chasidim, Elia sering menampakkan diri kepada seorang rabbi atau orang bijak untuk menyampaikan pewahyuan. Demikian juga, ia muncul pada saat transfigurasi. Musa dan Elia tidak muncul hanya sekedar untuk menguatkan Tuhan Yeshua atau mengesankan para murid. Mereka menyampaikan informasi penting dari surga kepada Yeshua.

Sesudah kematian Yohanes Pembaptis, Yeshua berusaha menghindar tampil di hadapan publik di Galilea. Dia membawa murid-murid-Nya ke Phoenicia, Dekapolis, dan Batanea – semuanya berada di luar jangkauan Herodes Antipas. Yeshua melihat bahwa hidup dan misi-Nya mengikuti lintasan yang sama seperti Yohanes. Waktu-Nya sendiri pasti segera datang. Dia tahu bahwa hal itu – apa pun itu – harus terjadi di kota suci Yerusalem. Dia nampaknya belum tahu kapan atau bagaimana, atau arah mana yang harus Dia ambil. Dia membutuhkan lebih banyak informasi. Yeshua, dengan hanya membawa ketiga murid terdekat-Nya – sama seperti pada peristiwa Getsemani (Matius 26:37) – mendaki gunung tinggi untuk mencari pewahyuan tentang jalan yang harus ditempuh-Nya.

Injil Lukas mengatakan bahwa Musa dan Elia datang untuk berbicara kepada Tuhan Yeshua tentang “kepergian-Nya (Yunani: exodos) yang akan Dia genapi di Yerusalem” (Lukas 9:31).

Dalam surat perpisahannya, Simon Petrus menggunakan kata yang sama untuk menggambarkan kematiannya yang akan datang, tepat sebelum menceritakan kesaksian langsung tentang transfigurasi:

2Petrus 1:15 (TB) Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku (Yunani: exodos) itu kamu selalu mengingat semuanya itu.

Dalam kisah transfigurasi, pilihan kata menyiratkan lebih dari sekadar kematian Yeshua yang akan terjadi. Kata Yunani “exodos” menyinggung Kitab Keluaran dari Alkitab Septuaginta dan kisah Eksodus dari Mesir. Musa dan Elia menjelaskan kepada Yeshua bahwa exodos pribadi-Nya akan berlangsung pada Hari Raya Paskah, peringatan tahunan Eksodus. Mereka menjelaskan jalan penderitaan yang harus dilalui-Nya, tetapi mereka juga menjelaskan eksodus-Nya dari kubur dan kenaikan-Nya.

Sesudah percakapan-Nya dengan Musa dan Elia, Tuhan Yeshua kembali ke Galilea tanpa rasa gentar terhadap Herodes Antipas, dan Dia mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem dan kepada eksodus-Nya di sana.

Baca:

Pintu Gerbang Neraka, Pan, dan Gereja Yesus

Rabbi Yahudi Mendapat Penglihatan Nabi Elia: Empat Gerbang Ditutup, Satu Dibuka – Datangnya Masa Kesusahan

Geografi Paranormal Tanah Israel: Pusat Peperangan Gelap Melawan Terang

Koneksi Roswell dan Gunung Hermon: Alien adalah Iblis

Referensi:

Message from Heaven at Mount Transfiguration

The Cloud of Glory and the Transfiguration

Three Sukkot on Mount Transfiguration

Elijah and Moses

Iklan