Update: Pertikaian di Bukit Bait Suci

Polisi Israel akhirnya membongkar detektor-detektor logam di pintu-pintu masuk ke kompleks Bukit Bait Suci sepanjang malam Senin dan Selasa, 24-25 Juli, kurang dari dua minggu setelah peralatan itu dipasang di sana menyusul pembunuhan dua perwira polisi Druz Israel di dekat lokasi tersebut pada 14 Juli.

Sesudah pertemuan yang berlangsung sampai Senin malam, Kantor Perdana Menteri Israel mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa Kabinet Keamanan telah “menerima rekomendasi dari semua badan keamanan untuk menggabungkan tindakan-tindakan pengamanan berdasarkan teknologi canggih dan tindakan-tindakan lainnya, ketimbang detektor-detektor logam untuk menjamin keamanan pengunjung dan peziarah di Kota Tua dan di Bukit Bait Suci.”

Sebelumnya, pada hari Jumat, 21 Juli, seorang warga Palestina memasuki sebuah rumah di komunitas Neve Tzuf, Halamish, dan membantai tiga anggota keluarga Salomon, mengklaim bahwa dia bertindak sebagai reaksi terhadap “penajisan” masjid. Pada hari Minggu, seorang Palestina menikam seorang pria di Petah Tikvah, mengatakan bahwa dia telah melakukannya “untuk Al-Aqsa.”

Beberapa jam sebelum pertemuan kabinet, Netanyahu mengadakan percakapan telepon dengan Raja Yordania Abdullah, penjaga tempat suci umat Islam, untuk memfasilitasi kembalinya para staf kedutaan besarnya di Amman ke Israel, setelah insiden di mana seorang penjaga keamanan diserang, dan menembak mati penyerangnya dan seorang pria lain.

Pada hari Kamis, diadakan pertemuan antara Waqf (lembaga Islam) dengan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas dan Mufti Yerusalem Muhammad Ahmad Hussein yang mengatakan bahwa ibadah Muslim dapat dilanjutkan di Al-Aqsa.

Bentrokan antara orang-orang Palestina dan pasukan keamanan Israel terjadi hampir setiap hari sejak tindakan pengamanan dilakukan. Sepanjang ‘Hari Kemarahan’ yang terjadi pada hari Jumat, 21 Juli, empat orang Palestina tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan pada hari kemarahan, salah satunya akibat sebuah bom yang akan dia lemparkan kepada pasukan Israel meledak di tangannya sendiri.

Kepala polisi Yerusalem Yoram Halevy mengatakan polisi akan terus memeriksa orang-orang yang dicurigai bila perlu dan memperingatkan bahwa setiap orang yang mencoba memanfaatkan situasi tersebut akan menghadapi respons yang berat.

Palestina Merayakan Kemenangan Dengan Membuat Kerusuhan di Bukit Bait Suci

Sesudah 13 hari akhirnya larangan masuk bagi orang-orang Muslim di Bukit Bait Suci dicabut oleh Waqf. Kerusuhan segera terjadi pada hari Kamis di lokasi suci karena ribuan orang Palestina menyerang Polisi Israel di dalam dan di sekitar lokasi. Perusuh Palestina juga melemparkan batu ke atas orang-orang Yahudi yang sedang berdoa di Pelataran Tembok Barat yang berdekatan.

Pasukan keamanan Israel menanggapi dengan tindakan pengendalian massa yang meliputi peluru karet dan gas air mata. 11 orang Palestina dilaporkan terluka dalam bentrokan tersebut, dan 10 polisi Israel dilaporkan terluka.

Pada sholat Jumat, biasanya ribuan jemaah Muslim datang ke lokasi tersebut. Polisi Israel membatasi akses hanya khusus bagi wanita dan laki-laki berusia di atas 50 tahun.

The RedCresent Ambulance Service melaporkan sekitar 90 orang Palestina terluka dan lima tewas akibat konfrontasi kekerasan dengan polisi Israel selama dua minggu terakhir.

Menanggapi kekerasan Muslim Palestina karena Bukit Bait Suci, Dr. Mordechai Kedar, pengajar senior di Departemen Arab di Universitas Bar-Ilan, yang pernah bekerja sebagai intelijen militer yang mengkhususkan diri pada pendekatan politik Arab, media massa Arab, kelompok-kelompok Muslim dan arena domestik Syria, menuliskan:

Dalam salah satu gelombong kekerasan Muslim sebelumnya di Yerusalem, Sheikh Ichrima Zabri, yang kemudian menjadi Mufti Yerusalem, menyatakan: “Kami adalah pemilik di sini!”

Dia mengacu kepada Bukit Bait Suci.

Deklarasi tersebut secara akurat merangkum permasalahan di seluruh Yerusalem dan khususnya di Bukit Bait Suci. Mereka percaya bahwa Islam, bukan Yudaisme, adalah pemilik Yerusalem dan Bukit Bait Suci.

Inilah yang berada di balik penolakan Muslim Palestina untuk melewati detektor logam yang ditempatkan oleh polisi di pintu masuk Bukit Bait Suci. Mengijinkan Israel meminta umat Islam untuk diperiksa bersama-sama dengan orang-orang lain yang naik ke Gunung itu membuktikan bahwa Israel dan Yahudi adalah pemiliknya. Muslim Palestina tidak mau menerima ini – mereka percaya bahwa Yudaisme adalah “agama palsu” (Din Bat’l) dan hanya Islam adalah “agama yang benar” (Din Chak). Orang Yahudi hanya boleh hidup di bawah perlindungan Islam sebagai “dzimmi,” dengan hak-hak yang terbatas, yang jelas tidak termasuk keberadaan tentara dan pasukan polisi dengan kekuatan untuk mengatur umat Islam apa yang harus mereka dilakukan.

Panggilan Berdoa di Bukit Bait Suci

Dalam menghadapi kerusuhan Muslim yang sedang berlangsung di sekitar Bukit Bait Suci, beberapa puluh rabbi Religius Nasional pada hari Kamis menyerukan panggilan bagi orang-orang Yahudi untuk naik ke tempat paling kudus dalam Yudaisme.

“Merupakan suatu kebajikan besar untuk naik, dan untuk bangkit, ke gunung kudus untuk mencari tuntunan bagi Zion dan untuk memperkuat kedudukan kita di tempat kudus ini,” tulis para rabbi.

Seruan tersebut dipimpin oleh Rabbi Kepala Hebron, Rabbi Dov Lior, kepala Yeshivat Birkat Moshe di Ma’ale Adumim, Rabbi Nachum Rabinowitz, Ketua Hakim Rabbinate, Yisrael Rozen, dan 37 rabbi terkemuka lainnya. Para rabbi menambahkan bahwa setiap orang Yahudi yang pergi ke Bukit Bait Suci harus mematuhi hukum agama yang berkaitan dengan situs tersebut. Ini termasuk berendam dalam ritual mandi (mikveh), tidak memakai sepatu kulit, dan menahan diri dari memasuki area-area yang dilarang oleh hukum Yahudi.

Kerusuhan Palestina di Bukit Bait Suci dalam Bible Code

Menyusul serangan teroris Palestina yang membantai tiga anggota keluarga di komunitas Samale Halamish pada Jumat malam lalu, Rabbi Matityahu Glazerson, pakar Bible Code menemukan pesan tersembunyi yang mengungkapkan aspek-aspek yang lebih dalam dari semua rangkaian peristiwa mengerikan tersebut.

“Teroris jelas-jelas berhubungan dengan Amalek karena yang mereka inginkan hanyalah pembunuhan massal Yahudi,” kata Rabbi Glazerson.

Dalam Kitab Ulangan, rabi menemukan “Halamish“, nama kota tempat orang-orang Yahudi terbunuh, bersebelahan dengan kata “tevach“, pembantaian. Di bagian bawah tabel kode yang menyebutkan serangan teror itu ditemukan ayat dalam Ulangan yang berbicara tentang Amalek.

Ulangan 25:17,18 (ILT) –Ingatlah apa yang orang Amalek lakukan kepadamu pada waktu perjalananmu keluar dari Mesir–bagaimana mereka mendatangi engkau di jalan dan menyerang barisan belakangmu, yaitu semua orangmu yang lemah di garis belakang, ketika engkau letih dan lesu, dan orang Amalek itu tidak takut kepada Elohim.

Amalek adalah musuh bebuyutan Israel ketika bangsa tersebut menyerang Bani Israel pada waktu Eksodus. Serangan mereka menargetkan bagian belakang perkemahan tempat orang-orang tua dan orang-orang yang paling lemah berjalan, sama dengan serangan teror di Halamish di mana seorang pemuda Palestina berusia 19 tahun membunuh seorang kakek berusia 70 tahun dan melukai istrinya yang berumur 60 tahun hingga sekarat.

Rabbi Glazerson menemukan huruf ‘mem’ pada kata “Amalek” dalam ayat ini juga membentuk sebuah kode yang mengeja kata “Abu Mazen“, nama lain dari Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, yang menyerukan “Hari Kemarahan” Palestina minggu lalu sebagai respon terhadap Israel yang memasang detektor logam di Bukit Bait Suci. Dalam sebuah posting Facebook yang ditulis beberapa saat sebelum berangkat, teroris Halamish itu menyebut konflik ini sebagai motif serangannya.

Di dalam tabel kode ini ditemukan kata “m’chabel” (teroris) yang berhubungan dengan kata “orang Ishmael“. Orang-orang Arab dianggap sebagai keturunan Ishmael, anak Hagar, hamba perempuan Abraham. Ishmael dinubuatkan Alkitab akan menjadi tokoh antagonis terhadap saudara-saudaranya sendiri, yakni anak-anak keturunan Abraham lainnya, Ishak dan Yakub.

Kejadian 16:12 (ILT) Dan dia akan menjadi manusia keledai liar, tangannya melawan setiap orang dan tangan setiap orang melawan dia; dan dia akan tinggal berhadap-hadapan dengan semua saudaranya.”

Rabbi Glazerson juga mengutip tulisan Rabbi Moses ben Maimon, otoritas Torah Sephardic Abad Pertengahan yang dikenal dengan nama ‘Rambam’. Orang-orang Yahudi pada zaman Rambam menderita penganiayaan mengerikan di tangan umat Islam.

“Tidak pernah muncul bangsa lain yang melawan Israel yang lebih antagonistik,” tulis Rambam. Dia mengajar bahwa Raja Daud telah mengetahui hal ini melalui nubuat bahwa kesusahan-kesusahan terburuk akan datang kepada bangsa Israel berasal dari keturunan Ishmael.

Mazmur 120:5-7 (ILT) Celakalah aku karena aku bermukim di Mesekh; aku tinggal bersama tenda orang Kedar! Sedemikian lama jiwaku sendiri tinggal bersama orang yang membenci perdamaian. Aku suka perdamaian, tapi ketika aku berbicara, mereka ingin perang.

Kedar adalah putra kedua Ishmael dan nenek moyang suku-suku yang menetap di Arabia.

Referensi:

Muslims riot on Temple Mount, throw rocks down at Western Wall Plaza

Red Crescent: Dozens injured in clashes, riots on Temple Mount

NEARLY 100 INJURED IN CLASHES AS PALESTINIANS RETURN TO TEMPLE MOUNT

Arabs riot on Temple Mount after metal detectors removed

Terror at Halamish: When a family’s Shabbat celebration turned into a bloody massacre

Bible Codes Connect Palestinians and Islam With Amalek in Jerusalem Conflict

Palestinians Celebrate Victory By Desecrating Temple Mount With Violent Riots [WATCH]

Muslims Return to Temple Mount After Police Dismantle All Security Measures

Prominent Rabbis Call For Jews to Ascend Temple Mount

Shabbat Massacre May Portend Painful Birthings of Messiah on Eve of Tisha B’Av

“Islamist-Fascist” Imam Uses Pulpit of California Mosque to Call for Killing Jews: VIDEO

Who is the Real Owner Here?

 

Iklan