Markus 11:17 (TB) Lalu Ia (Yeshua) mengajar mereka, kata-Nya: “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!”

Hari-hari ini peristiwa-peristiwa profetik besar sedang terjadi di Gunung Elohim di Yerusalem.

Minggu ini, untuk pertama kalinya sejak Bait Suci Kedua masih berdiri dalam segala kemuliaannya 2000 tahun yang lalu, orang-orang Yahudi bisa berjalan-jalan kembali di Bukit Bait Suci dengan bebas sementara otoritas Muslim menyingkir dari lokasi tersebut, sehingga orang-orang Yahudi dan Kristen harus memperhatikan panggilan untuk berdoa di Gunung Elohim dan membuka pintu-pintu gerbang pembebasan.

Orang-orang Yahudi “tanpa sengaja” kini telah menjadi peziarah utama di Gunung Elohim, sesuatu yang belum terjadi sejak penghancuran Bait Suci Kedua sekitar 2000 tahun yang lalu, sebagai akibat “tindakan keliru” dari para pemimpin Arab sebagai buntut serangan teror mengerikan di Bukit Bait Suci pada hari Jumat, 14 Juli 2017 yang lalu.

“Implikasi profetik global dari pergeseran besar pada situs paling suci ini tidak dapat dipungkiri,” demikian dikatakan Yehudah Glick (Anggota Knesset), seorang pendukung doa universal di Bukit Bait Suci.

“Ini adalah perubahan peta permainan yang sangat besar,” katanya. “Segala sesuatu adalah bagian dari proses geula (penebusan), namun hal-hal yang terjadi di Bukit Bait Suci secara khusus sangatlah istimewa.”

“Jika kita ingin membawa perdamaian dunia, kita harus mulai dari sana.”

Situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Bukit Bait Suci ini terjadi menyusul serangan berdarah yang membasahi batu-batu kudus di Gunung Elohim. Tiga teroris Palestina membunuh dua polisi Druze Israel di dekat Bukit Bait Suci sebelum mereka dikejar masuk ke dalam kompleks itu sendiri dan kemudian dinetralisir.

Pemerintah Israel menanggapi serangan tersebut dengan menutup Bukit Bait Suci bagi umat Muslim untuk pertama kalinya dalam beberapa dasawarsa. Bukit Bait Suci juga ditutup bagi para peziarah Yahudi, yang merupakan prosedur operasi standar menyusul kekerasan orang-orang Arab. Dua hari kemudian, Bukit Bait Suci dibuka kembali dengan penambahan langkah-langkah keamanan bagi orang-orang Muslim, termasuk instalasi detektor-detektor logam dari jenis yang selalu digunakan untuk memeriksa para peziarah Yahudi yang berkunjung ke situs ini. Langkah-langkah ini dilakukan untuk mencegah penyelundupan senjata ke dalam kompleks Bukit Bait Suci. Sampai saat serangan terakhir ini, orang-orang Muslim bebas masuk ke Bukit Bait Suci tanpa menjalani pemeriksaan-pemeriksaan keamanan.

Waqf Islam, organisasi Islam Yordania yang mengendalikan Bukit Bait Suci, segera dan dengan marah menolak penggunaan detektor-detektor ini, dan menyebut tindakan keamanan ini sebagai “agresi Israel“. Mufti Yerusalem Amin al-Husseini menyerukan pemboikotan Muslim terhadap situs tersebut dan perkelahian antar orang-orang Arab pecah saat orang-orang kuat Waqf mencegah orang-orang Muslim untuk naik ke Bukit Bait Suci.

tm-security
Jemaah Muslim Palestina berdoa di dekat detektor-detektor logam yang ditempatkan di luar Bukit Bait Suci di Kota Tua Yerusalem menjelang pembukaan kembali pada hari Minggu, 16 Juli 2017. (Yonatan Sindel/Flash90)

Absennya para penjaga Waqf dan kerumunan besar peziarah Muslim secara tiba-tiba di Bukit Bait Suci ini menyebabkan terjadinya situasi yang aneh dan tidak lazim. Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, orang-orang Yahudi tidak dihalang-halangi oleh para penjaga Waqf yang mencegah mereka untuk berdoa di kompleks Bukit Bait Suci. Meskipun polisi Israel masih diperintahkan untuk menghentikan doa-doa peziarah non-Muslim, banyak orang-orang Yahudi terinspirasi untuk meraih kesempatan langka ini untuk mengucapkan kata-kata doa suci di gunung kudus tersebut. Pengalaman rohani yang mereka alami sungguh menakjubkan.

Rabbi Jeremy Gimpel, salah satu pendiri Land of Israel Network, terdorong oleh seruan untuk berdoa. Rabu dini hari, dia memulai persiapannya dengan mandi di sebuah mikveh (ritual mandi), mengungkapkan bahwa hari itu adalah sangat penting karena orang-orang Yahudi sekarang hanya tiga minggu menjelang Tisha B’Av (tanggal 9 Av), sebuah hari puasa perkabungan memperingati penghancuran Bait Suci pertama dan kedua.

Ketika dia sampai di Bukit Bait Suci, dia melihat situs itu penuh dengan polisi Israel yang bersiap menghadapi ancaman kerumunan massa Muslim yang bermusuhan yang mengepungnya. Terlepas dari situasi yang tegang itu, Rabbi Gimpel digerakkan oleh atmosfir kesucian yang murni dan merasa terdorong untuk bersujud di atas batu-batu itu seperti yang diharuskan pada hari-hari zaman Bait Suci. Polisi Israel menjalankan perintah dan segera membawa Rabbi Gimpel dari situs tersebut.

Meskipun demikian, Rabbi Gimpel begitu terinspirasi.

“Sesuatu yang monumental sedang terjadi di sana sekarang,” kata Rabbi Gimpel. “Orang-orang Palestina mengubah status quo dengan membunuh polisi Israel, tapi sekarang, inilah saatnya bagi kita untuk melakukan bagian kita. Setiap orang Israel sedang memandang ke arah Bait Suci, menunggu untuk menyaksikan apa yang terjadi.”

Dia menggambarkan rasa takjub yang dia rasakan karena bisa memenuhi perintah kuno Alkitab untuk bersujud di hadapan hadirat Elohim,

“Pikirkan berapa banyak doa-doa yang naik ke Shamayim (surga), diarahkan ke tempat ini (Bait Suci), dua ribu tahun, tiga kali sehari, dari semua orang-orang Yahudi yang hidup, empat kali (doa) pada waktu Shabbat, jutaan demi jutaan doa.”

“Dan sekarang, akhirnya orang-orang Yahudi, hanya tiga minggu menuju Tisha B’Av, hanya beberapa kaki dari Bait Suci, hanya beberapa kaki dari Kodesh haKodeshim (Ruang Maha Kudus). Kita secara literal menghidupi doa-doa semua bapa-bapa kita, dan bapa-bapa leluhur kita.”

“Doa-doa bapa leluhur kita dijawab melalui kita. Kita adalah jawaban. Ya, Anda dianugerahi untuk kembali ke Zion, untuk kembali ke Kota Kudus. Dan kita sekarang hanya beberapa meter dari Kodesh haKodeshim (Ruang Maha Kudus). Semua bapa leluhur kita, dan bapa leluhur mereka. Di sini, kita telah tiba secara fisik dan sebagai jawaban dari doa.”

“Bersujud di atas batu-batu adalah perintah Torah, persis seperti di zaman Bait Suci, dan dengan suatu cara yang tidak dapat kita lakukan ketika para penjaga Waqf berada di sini,” kata Rabbi Gimpel. “Saya tidak tahan. Saya merasa seperti setiap doa, setiap mitzvah (perintah Torah) yang dilakukan di Bukit Bait Suci membuka pintu gerbang menuju geula (pembebasan) sedikit lagi.”

Seperti yang dinyatakan Rabi Gimpel, potensi situasi untuk terbukanya Bukit Bait Suci bagi orang-orang Yahudi sangat besar. Hal ini menjadi semakin jelas ketika Anggota Knesset Avi Dichter (Likud) pada hari Selasa mengumumkan kedaulatan Israel atas Bukit Bait Suci.

“Israel berdaulat atas Bukit Bait Suci, titik. Fakta bahwa Waqf berdaulat atas Bukit Bait Suci berakhir pada hari Jumat yang lalu,” kata Avi Dichter, ketua Komite Pertahanan dan Urusan Luar Negeri Knesset dan mantan kepala Badan Keamanan Israel (Shin Bet), di radio publik Israel.

Tapi bukan hanya orang-orang Yahudi saja yang memiliki kepentingan dalam bagaimana situasi ini berkembang. Jane Kiel, blogger asal dari Denmark yang mengelola website Jerusalem Jane, adalah seorang pendukung Kristiani terhadap Kota Suci dan sering berkunjung ke Bukit Bait Suci. Video-videonya mendokumentasikan sikap tidak hormat yang ditunjukkan oleh para peziarah Muslim, yang makan barbeque, main sepak bola, buang sampah sembarangan, dan bahkan kencing secara terbuka di situs Bukit Bait Suci, yang notabene adalah kompleks yang mereka akui sebagai tempat suci ketiga dalam Islam, Masjid Al-Aqsa.

Jane telah mengantisipasi kesempatan untuk mendaki ke Bukit Bait Suci pada hari Senin tanpa adanya unsur-unsur pengganggu ini.

“Itu adalah pengalaman kekaguman total,” katanya. “Beginilah seharusnya tempat kudus ini. Saya tidak merasakan adanya atmosfer ketakutan atau kebencian atau amarah. Untuk pertama kalinya, saya merasakan seperti bagaimana sesungguhnya Rumah Doa itu.”

Dia berhasil mengucapkan Shema (doa Yahudi untuk menerima kuk surgawi, Ulangan 6:4-9) meskipun polisi Israel mengawasi situs tersebut.

Jane begitu tergerak oleh pengalamannya sehingga dia kembali pada hari Selasa. Tapi kali ini saat dia tiba di pintu gerbang keamanan, seorang penjaga Waqf yang telah memantau pintu masuk mendekatinya dan mengatakan bahwa dia tidak diizinkan untuk masuk. Ini adalah keempat kalinya dia diusir dari Bukit Bait Suci sebagai akibat peranannya sebagai advokat Kristen untuk doa Yahudi.

Dalam peristiwa sebelumnya pada bulan Oktober 2015, Kiel didatangi oleh seorang penjaga Waqf, yang menuduhnya berdoa di dalam masjid. Dia menjawab bahwa dia belum pernah berada di dalam masjid. Penjaga itu menunjukkan kepadanya sebuah video di telepon genggamnya, yang merekam Jane sedang menyanyi di dalam kompleks Bukit Bait Suci. Penjaga Waqf itu menunjukkan seluruh wilayah Bukit Bait Suci dan berkata, “Aku berdoa di sini, aku berdoa di sana. Ini semuanya adalah masjid … Ini hanya untuk umat Muslim.”

Ketika Jane bersikeras bahwa dia adalah seorang Kristen, penjaga itu menjawab dengan cara yang aneh. “Kamu religius. Orang religius yang boleh datang ke sini hanyalah Muslim; bukan Kristen, bukan Yahudi,” sambil meyakinkan dia bahwa mereka mengasihi orang-orang Kristen. “Orang-orang Kristen yang ingin berbagi masjid dengan kami (maksudnya Bukit Bait Suci), adalah masalah besar,” kata penjaga tersebut. Dia kemudian mengaku sebagai polisi Yordania, namun menolak untuk memberikan identifikasi.

Jane Kiel merekam insiden ini dalam videonya.

“Ini bukan hanya pertikaian Yahudi,” kata Jane. “Saya adalah orang Kristen yang berusaha membangunkan orang-orang Kristen untuk bertindak. Mereka harus menjadikan Bukit Bait Suci sebagai tempat perhentian pertama mereka saat mereka datang ke Israel. Ini benar-benar adalah sebuah pertempuran tentang apakah Alkitab itu benar atau tidak.”

Barangkali kesaksian yang paling menyentuh tentang doa Yahudi di Bukit Bait Suci adalah video dari Aedan Sarah O’Connor, seorang pelajar Yahudi Kanada yang belajar di Israel. O’Connor mendaki pada hari Senin dan memposting video dirinya mengucapkan Shema di situs tersebut ke Facebook. Videonya telah disaksikan lebih dari 40.000 kali, membuktikan fakta bahwa orang-orang Yahudi berdoa di Bukit Bait Suci adalah peristiwa penting bagi banyak orang.

“Ini adalah tanah airku, dan tidak ada yang bisa menghentikan aku untuk berdoa di tempat yang paling kudus bagiku,” katanya memproklamirkan.

“Aku ingin semua orang bisa bisa berdoa di sini dengan damai,” kata O’Connor. “Satu-satunya cara untuk memastikan bahwa semua situs-situs suci, Yahudi, Kristen dan Muslim, tetap terbuka bagi semua orang adalah menyerahkan mereka di bawah kedaulatan Israel. Waqf menolak keberadaan detektor-detektor logam. Sangat jelas bahwa mereka ingin Bukit Bait Suci menjadi medan perang, dan bukan tempat berdoa.”

Sebagai akibat doa-doa Yahudi, polisi Yerusalem menutup Bukit Bait Suci bagi non-Muslim pada hari Rabu, meskipun akhirnya dibuka kembali hari itu juga. Kepala Polisi Yoram Halevi mengatakan dalam sebuah pernyataan,

“Polisi Israel bertindak dalam serangkaian keseimbangan untuk menegakkan hukum dan peraturan di situs tersebut dan tidak akan membiarkan siapapun melanggar hukum dengan cara apapun.”

Secara politis, situasi saat ini rapuh. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Minggu bahwa sementara dia tidak bermaksud untuk mengubah status quo, yang melarang orang-orang non-Muslim untuk berdoa di situs Bukit Bait Suci, demikian juga dia tidak akan menyingkirkan detektor-detektor logam, dan ini menciptakan realitas yang tidak pasti di lapangan.

Banyak orang-orang Yahudi dan Kristen di seluruh dunia sedang memperhatikan dengan seksama apa yang sedang terjadi, dan berdoa sungguh-sungguh supaya sebagai hasil akhir dari perubahan monumental ini, kedaulatan Yahudi akan berdiri di Gunung Elohim sekali lagi dan untuk selamanya. Sudah pasti bahwa jika Israel memegang kontrol atas tempat kudus tersebut, sebuah langkah luar biasa yang tidak dapat dilukiskan akan diambil menuju penggenapan profetik peranan Bait Suci sebagai tempat yang damai – pembangunan Bait Suci Ke-3 – yang sepertinya tidak mungkin terjadi di bawah pemerintahan Muslim di sana.

“Tanpa kompromi, Bukit Bait Suci harus menjadi Rumah Doa universal,” kata Rabbi Yehudah Glick, “dan tidak boleh menjadi tempat kekerasan.”

Yesaya 56:7 (ILT) maka Aku akan membawanya ke gunung-Ku yang kudus, dan membuat mereka bersukacita di dalam rumah doa-Ku. Persembahan bakaran mereka dan kurban-kurban mereka akan diterima di atas mezbah-Ku, karena rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.”

Baca sebelumnya:

Israel Mengambil Alih Kontrol Atas Bukit Bait Suci

Catatan:

Ada hubungan menarik terhadap tanggal pengambil-alihan Israel terhadap Bukit Bait Suci pada hari Jumat, 14 Juli 2017. Dari tanggal itu sampai kepada Hari Raya Yom Teru’ah (Rosh Hashanah, Tahun Baru Yahudi 5778) pada tanggal 23 September 2017, peristiwa munculnya Tanda Besar di Langit, tepat 70 hari.

Tahun 2017 ini juga bertepatan dengan 50 tahun perayaan pembebasan Yerusalem (Yobel Yerusalem) sejak tahun 1967. Yobel adalah Tahun Pembebasan. Apakah Bukit Bait Suci akan dibebaskan bagi Israel dalam tahun ini? Kita saat ini berada pada tahun solar ke-70 sejak kelahiran kembali Israel dan 12 Mei 2017 tepat 70 tahun profetik sejak Israel terbentuk kembali pada tanggal 14 Mei 1948.

 

Referensi:

PA’s Abbas Urges Jared Kushner to Pressure Israel Into Removing Metal Detectors

Temple Mount Crisis: Police Brace for Violence as Cabinet Decides to Keep Metal Detectors in Place

Holy Temple Mount Desecrated With Murder

World Looks Breathlessly to Temple Mount as Portal for Messianic Change Swings Open

Danish Christian Ejected From Temple Mount Because She Might Pray

Temple Mount Closed to Jews After Visitors “Violate” Rule Against Non-Muslim Prayer

Jerusalem Jane

Netanyahu: No Change in Temple Mount Status Quo Despite Attack

Islamic Waqf Boycotts Temple Mount After Israel Tightens Security

Islamic Waqf Boycott Leads to Prophetic Sightings of Prayer on Temple Mount

‘Apocalyptic’ Conflict Raging Over Temple Mount, Al Aqsa

In Wake of Waqf Defection, Israel to Reestablish Jewish Sovereignty on Temple Mount, Says MK

Iklan