Minggu lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengangkat dirinya sendiri sebagai seorang pemimpin dalam Hari-hari Akhir, dengan menyerukan agar umat Islam bersatu demi merebut Yerusalem. Pernyataan Erdogan yang mengejutkan ini bisa jadi merupakan seruan yang menggerakkan dunia Ishmael demi peperangan ketiga dan yang terakhir di Yerusalem sebelum kedatangan Messias.

Pada hari Senin, 8 Mei 2017 saat upacara pembukaan Forum Internasional Waqf Al-Quds (persekutuan Islam) di Istanbul, Erdogan memanggil jutaan umat Islam untuk naik menduduki Gunung Bait Suci, dengan menyerukan, “Setiap hari ketika Yerusalem berada di bawah pendudukan, merupakan penghinaan kepada kita.”

Rabbi Berger, rabbi Makam Raja Daud di Gunung Zion, percaya bahwa seruan Erdogan kepada umat Islam didasarkan pada nubuat Yahudi yang sudah ada sebelum lahirnya Islam.

“Erdogan menggenapi nubuatan sebagai pemimpin dari negaranya,” kata Rabbi Berger, “Sama seperti Firaun di Mesir.”

Rabbi Berger menceritakan sebuah nubuatan yang ditulis dalam Pirkei De Rebbe Eliezer, sebuah kumpulan tafsir Alkitab yang diyakini disusun pada abad ketujuh. Dia menjelaskan bahwa menurut nubuat, “anak-anak Ishmael“, yang diidentifikasi oleh rabbi sebagai bangsa-bangsa Islam, akan berperang melawan “Edom“, yang oleh rabbi diidentifikasi sebagai bangsa-bangsa Barat/Kristen. Sesudah perang ini, anak-anak Ishmael akan menjalankan tiga peperangan melawan orang-orang Yahudi yang berpusat di sekitar Yerusalem.

Pirkei de Rebbe Eliezer mencatat sebuah nubuat tentang 15 cara anak-anak Ishmael akan menyengsarakan anak-anak Israel pada Akhir Zaman.

Dalam 15 daftar kesengsaraan yang akan ditanggungkan anak-anak Ishmael kepada anak-anak Israel adalah nubuat bahwa mereka akan mendirikan sebuah bangunan di Gunung Bait Suci, yang akhirnya mereka lakukan dengan mendirikan masjid Al Aqsa pada abad ke-8. Lainnya dari 15 cara anak-anak Ishmael akan menyengsarakan orang-orang Yahudi adalah bahwa “kebohongan akan berlipat ganda dan kebenaran akan disembunyikan”.

Ishmael, anak sulung Abraham, adalah seorang nabi penting dalam Islam. Orang-orang Muslim menganggap Ishmael sebagai leluhur Muhammad secara khusus, juga sebagai leluhur dari beberapa suku Arab yang penting. Meskipun ada orang-orang Kristen Arab dan Muslim non-Arab, secara umum, Yudaisme memandang Ishmael sebagai bapak Islam.

“Rabbi Ishmael (Imam Besar) berkata, ‘Tiga kekacauan perang oleh anak-anak Ishmael ditakdirkan untuk dilakukan di Israel pada Akhir Zaman’,” bunyi nubuatan tersebut, mengutip sebuah ayat di dalam Yesaya.

Yesaya 21:13-17 (ILT)

  1. Pesan ilahi mengenai Arab. “Kamu akan tinggal di hutan Arab, hai kafilah-kafilah Dedan.
  2. Kamu yang mendiami Negeri Tema, bawakan air untuk menemui orang yang haus. Dengan rotinya, mereka telah menjumpai yang melarikan diri.
  3. Sebab mereka telah lari dari hadapan pedang, dari hadapan pedang yang terhunus, dan dari hadapan busur yang diregang, dan dari peperangan yang hebat.
  4. Sebab beginilah Tuhan telah berfirman kepadaku: Dalam setahun lagi, seperti tahun-tahun seorang upahan, semua kemuliaan Kedar akan berakhir;
  5. dan sisa dari bilangan para pemanah, para pahlawan bani Kedar, akan menjadi sedikit. Demikianlah YAHWEH, Elohim Israel, telah berfirman.”

Nubuatan itu berlanjut, “Dan dari situlah, Messias dari Keluarga Daud akan bertumbuh, dan Dia akan menyaksikan kehancuran mereka, dan kemudian Dia akan datang ke Israel.”

Rabbi Berger menjelaskan bagaimana nubuatan tersebut, yang ditulis ratusan tahun sebelum Muhammad mendirikan Islam, terkait dengan peristiwa-peristiwa saat ini.

Mengutip sebuah penjelasan dari sarjana Yahudi yang dikenal sebagai Ba’al ha-Turim, Rabbi Jacob ben Asher, yang lahir di Jerman 700 tahun yang lalu, dituliskan, “Ketika Ishmael akan jatuh pada Akhir Zaman, Mashiach ben David (Messias Anak Daud) akan berkuasa.”

“Perangan antara Islam dan Kristen telah berlangsung selama beberapa waktu sekarang ini, di Eropa dan Amerika,” kata Rabbi Berger. Dia menyebutkan dua intifada yang telah diderita Israel, yang pertama dari tahun 1987-1993 dan yang kedua dari tahun 2000-2005, sebagai dua perang pertama yang disebut nubuatannya.

“Erdogan baru saja mengumumkan perang ketiga dan yang terakhir bagi Yerusalem seperti yang dinubuatkan dalam nubuat tersebut,” kata Rabbi Berger.

Dia mencatat bahwa meskipun Erdogan tampaknya bukan pemimpin Arab yang natural untuk mempersatukan umat Muslim, dia telah menyentuh pesan universal dengan mentargetkan Yerusalem yang dalam arti tertentu, akan “membangkitkan” keinginan untuk menggenapi nubuat tersebut.

“Dunia Islam sedang berperang di antara mereka sendiri dan Erdogan bukanlah pemimpin besar Islam,” kata Rabbi Berger. “Tapi seruannya untuk bersatu dalam perjuangan merebut Yerusalem akan bergaung di kalangan umat Islam, karena ini adalah panggilan yang sudah lama mereka tunggu-tunggu. Itu sudah tertulis di dalam jiwa mereka.”

Peperangan Islam demi merebut Yerusalem juga dinubuatkan di dalam Zohar, tulisan dasar spiritualisme Yahudi. Ada tertulis dalam Zohar bahwa dalam siklus keenam 1.000 tahun, “akan ada proses spiritual 70 hari”, yang “akan mengembalikan Torah kepada Musa”. Sesudah itu, “suatu teriakan besar yang hebat akan naik ke hadapan Elohim dari Israel karena penderitaan.” Kemudian Zohar (Vayera 1:119a) menubuatkan sebuah perang multinasional demi merebut Yerusalem yang dipimpin oleh Islam, yang mendasarkan nubuat ini pada sebuah ayat di dalam pasal terakhir Kitab Zakharia.

Zakharia 14:2 (ILT) Dan Aku akan mengumpulkan semua bangsa ke Yerusalem untuk peperangan. Dan kota itu akan direbut, dan rumah-rumah akan dijarah, dan wanita-wanita akan diperkosa, dan setengah dari kota itu akan keluar ke pembuangan, tetapi sisa dari umat itu tidak akan diangkut dari kota itu.”

Profesor Ze’ev Maghen dari Pusat Studi Strategis Begin-Sadat (BESA) menjelaskan bahwa Turki juga memiliki kepentingan politik yang kuat di Yerusalem dan berkaitan dengan hubungan historis antara kedua wilayah tersebut.

“Harus diingat bahwa Erdogan mewarisi gelar pemimpin Kekaisaran Ottoman, yang memerintah atas Yerusalem dan tempat-tempat sucinya, secara politis dan religius, selama 400 tahun,” kata Dr. Maghen. “Bagaimana pun juga, Erdogan adalah seorang Islamis, dan Yerusalem adalah kota tersuci ketiga dalam Islam.”

Profesor Ze’ev Maghen menjelaskan bahwa sebagai pemimpin inkarnasi Kekaisaran Ottoman saat ini, Erdogan memandang  bahwa adalah tugasnya untuk memimpin peperangan Islam menuju ke Yerusalem.

“Karena Arab Saudi sebagai pemimpin Sunni Wahabisme memerintah atas kota suci Mekkah, adalah hal wajar bahwa panggilan perang akan berpusat kepada Yerusalem,” kata Dr. Maghen. “Karena alasan itu, Iran mengadakan Hari Yerusalem.”

Iran meresmikan ‘Hari Quds’ (Quds: Yerusalem) pada tahun 1979 sebagai hari libur tahunan yang diadakan pada hari terakhir puasa Ramadhan. Hal ini dimaksudkan sebagai perlawanan langsung terhadap perayaan Hari Yerusalem (Yom Yerushalayim) di Israel. Pada awal berdirinya, Ayatollah Khomeini, pemimpin spiritual Iran, menyatakan bahwa “pembebasan” Yerusalem merupakan tugas religius bagi seluruh umat Islam.

Intinya, Dr. Maghen menyimpulkan, “Seruan Erdogan untuk menyatukan dunia Islam dalam peperangan untuk Yerusalem berawal dari Raja Suleiman yang Besar, yang menjadi peperangan 200 tahun melawan Tentara Salib Kristen.”

Referensi:

Pirke de Rabbi Eliezer

Turkey’s Erdogan Calls on Muslims to Ascent Temple Mount in Defiance of Jerusalem “Occupation”

End-of-Days Prophecy Describes Erdogan Leading Ishmael to Final War for Jerusalem

Genesis Bible Codes: “End of Ishmael” May Happen This Year

Perang Gog dan Magog

Iklan