Sementara jutaan orang Yahudi Israel dan diaspora memperingati Hari Kemerdekaan Israel ke-69, badan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa UNESCO pada hari Selasa, 2 Mei 2017, melakukan voting di Paris untuk mengadopsi resolusi penolakan kedaulatan Israel atas Yerusalem.

Resolusi tersebut – yang lolos dalam pemungutan suara 22-10, dengan 23 abstain – menyatakan bahwa “semua tindakan legislatif dan administratif yang dilakukan Israel, Kekuatan Pendudukan, yang telah mengubah atau dimaksudkan untuk mengubah karakter dan status Kota Suci Yerusalem, dan khususnya ‘hukum dasar’ di Yerusalem, dinyatakan tidak sah dan tidak berlaku lagi dan harus segera dibatalkan.”

vote_count_2_may_unesco_jerusalem

Ke-10 negara yang melakukan voting menentang resolusi tersebut adalah AS, Inggris, Italia, Belanda, Lithuania, Yunani, Paraguay, Ukraina, Togo dan Jerman. Di antara pemberi suara yang mendukung resolusi tersebut adalah Brazil, China, Mesir, Iran, Russia, Afrika Selatan dan Swedia.

Italia adalah satu-satunya negara Uni Eropa yang secara terbuka menentang resolusi tersebut menjelang pemungutan suara.

“Pendapat kami sangat jelas,” kata Menteri Luar Negeri Italia Angelino Alfano. “UNESCO tidak bisa menjadi tempat untuk terjadinya konfrontasi ideologis permanen.”

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Selasa, “Tidak ada bangsa mana pun di dunia yang menganggap Yerusalem lebih suci dibandingkan dengan orang-orang Yahudi,” menambahkan bahwa UNESCO “berusaha mengubur kebenaran ini. Kami akan mempertahankannya.”

Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon menyebut resolusi tersebut “terdistorsi” dan “memalukan,” dan mengatakan bahwa hal itu “tidak akan mengubah fakta bahwa Yerusalem adalah ibukota abadi orang-orang Yahudi.”

Bulan Oktober lalu, UNESCO mengeluarkan dua resolusi terpisah yang mengabaikan hubungan orang-orang Yahudi dan Kristen dengan situs-situs suci Yerusalem.

Resolusi UNESCO Telah Dinubuatkan Rabbi Besar Yahudi 900 Tahun Lalu

Dalam tindakan yang terlalu menyakitkan untuk dianggap kebetulan, Badan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) mengeluarkan resolusi pada pertemuan di Paris yang menyangkal kedaulatan Israel atas Yerusalem pada Hari Kemerdekaannya yang ke-69.

Dua rabbi terkenal mempercayai bahwa tindakan tercela, yang dinubuatkan 900 tahun yang lalu, pada dasarnya merupakan usaha Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk merampas peranan Elohim dalam Penciptaan dunia dan Israel.

Hampir satu milenium yang lalu, ahli Torah terkenal kelahiran Perancis abad ke-11, Rabbi Shlomo Yitzchaki, yang juga dikenal sebagai Rashi menubuatkan bahwa pada suatu hari nanti bangsa-bangsa di dunia akan datang dan berkata bahwa orang-orang Yahudi adalah perampas karena tinggal di tanah Israel.

Rabbi Shimon Apisdorf, seorang pengajar Yahudi terkemuka dan penulis buku yang laris mengatakan, “Itu persis seperti apa yang terjadi di Paris kemarin.”

Dalam tafsir Torah, dia menjelaskan, “Rashi mengajarkan kepada kita bahwa Kekuasaan yang sama yang menciptakan dunia, telah menciptakan Tanah Israel secara khusus bagi orang-orang Yahudi. Tindakan menyangkal bahwa tanah Israel adalah milik Israel, sama saja dengan menyangkal sepenuhnya bahwa dunia ini ada. Itu seolah-olah seperti Anda mengatakan bahwa tidak ada matahari, dan bulan itu hanyalah sebuah bola lampu besar di langit.”

Rabbi Yosef Dayan, seorang tokoh masyarakat yang terkemuka dan mantan anggota Sanhedrin, sepakat bahwa PBB pada dasarnya berusaha mengambil alih peranan Elohim di dunia dengan merampas kekuasaan untuk menciptakan atau meniadakan Israel.

“PBB ingin mengambil kembali Israel, karena mereka berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang memberikannya kepada kita,” katanya, mengutip Rencana Pemisahan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1948, yang membagi-bagikan wilayah tersebut di bawah Mandat Inggris dan memberikan otonomi kepada orang-orang Yahudi di Israel.

“Problem fundamentalnya adalah bahwa orang-orang Yahudi mengizinkan kekuasaan luar untuk menentukan kedaulatan.”

“Israel harus berasal dari keinginan yang paling dalam dari orang-orang Israel, dan bukan dari tempat lain mana pun … Ini semuanya adalah keputusan-keputusan sekuler yang, pada dasarnya, adalah usaha untuk menutupi Kehendak Elohim dan menghapuskan brit (perjanjian) kekal dengan Israel.

“Jika orang-orang Yahudi secara otonom memutuskan mendeklarasikan negara pada tahun 1948, tanpa tergantung pada voting PBB, kembalinya orang-orang Yahudi dari pengasingan akan disertai mujizat-mujizat,” kata Rabbi Dayan, yang mengklaim sebagai keturunan langsung dari garis keturunan laki-laki Dinasti Daud.

Rabbi mengutip bagian Talmud (Brachot 4,a) yang menyatakan bahwa setiap kali Israel kembali dari pembuangan, itu disertai dengan mujizat. Ini adalah peristiwa ketika orang-orang Yahudi kembali dari Mesir, dan Sungai Yordan secara ajaib terbelah.

Yosua 3:17 (ILT) Dan para imam yang mengangkut tabut perjanjian YAHWEH itu tetap berdiri di tanah yang kering, di tengah-tengah Sungai Yordan; dan seluruh bani Israel menyeberang di atas tanah yang kering sampai seluruh bangsa itu selesai menyeberangi Sungai Yordan.

“Tidak ada keajaiban ketika orang-orang Yahudi kembali dari pembuangan Babel karena mereka berdosa. Dosa mereka adalah karena mereka hanya kembali ke Israel atas perintah Raja Cyrus. Dengan tidak mengandalkan Elohim, dengan mengandalkan dunia yang dikuasai oleh hukum-hukum natural, orang-orang Yahudi telah membatalkan mujizat tersebut.”

Rabbi Dayan mempercayai dosa ini diulangi kembali pada tahun 1948. “Pemerintah Israel tidak bertindak seolah-olah mereka merdeka di tanah kita, karena mereka tidak mengenali sumber sebenarnya dari hak kita atas tanah ini: perjanjian Elohim dengan Abraham.”

“Mereka pikir PBB memberi kita tanah, jadi sekarang PBB berpikir mereka berhak mengambilnya kembali.”

Resolusi UNESCO menyatakan bahwa undang-undang yang disahkan oleh Knesset (Parlemen Israel) pada tahun 1980 yang menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel “batal demi hukum.” Resolusi tersebut juga menuntut agar Israel membuka perbatasan-perbatasannya ke Gaza.

Sesudah mengabaikan Alkitab dan sejarah, wajar jika PBB merasa berkuasa untuk membatalkan undang-undang yang disahkan oleh Negara Berdaulat Israel.

Baca:

Identitas Gog dan Magog Disingkapkan dan Dikonfirmasi Bible Code

Penggenapan Nubuat: Kembalinya 70 Bangsa-bangsa di Alkitab, Untuk Berkumpul Demi Menentang Israel

Referensi:

Full text of May 2017 UNESCO resolution on ‘Occupied Palestine’

UNESCO’s Anti-Israel Resolution Gets Least Votes Ever

UNESCO DISAVOWS ISRAELI SOVEREIGNTY IN JERUSALEM IN 22-10 VOTE

On Independence Day, UNESCO okays resolution denying Israeli claims to Jerusalem

On Israel’s Independence Day, UNESCO Vote to Declare Israel Has No Right to West Jerusalem Either

UNESCO Resolution Predicted By Great Jewish Scholar 900 Years Ago

UNESCO Makes Outrageous Move Denying Israel’s Sovereignty in Jerusalem – on Independence Day

Iklan