Tetesan-tetsan darah membentuk jejak panjang di salah satu alun-alun utama Kota Tua Yerusalem. Kali ini bukan karena serangan teroris, tapi yang jelas ini adalah peristiwa sensitif dilihat dari sudut pandang Timur Tengah.

Ini adalah peragaan pengorbanan Paskah, dilaksanakan oleh para aktivis yang berusaha untuk memperluas kehadiran Yahudi di Gunung Bait Suci dan dihadiri ratusan laki-laki, perempuan dan anak-anak Yahudi sayap kanan. Jejak darah ini menandai rute dari tempat di mana anak domba itu disembelih menuju ke mezbah yang disiapkan di tengah alun-alun.

Setelah berjuang di pengadilan untuk mendapatkan izin polisi, Sanhedrin akhirnya menjalankan peragaan penuh pengorbanan domba Paskah dan ibadah Bait Suci pada Kamis malam sebagai pengingat akan kemuliaan yang dulu berdiam di Bait Suci. Tahun ini, upacara diadakan lebih dekat ke Gunung Bait Suci, tempat di mana ibadah akan dijalankan bila Bait Suci nantinya sudah berdiri.

Kerumunan penonton menyaksikan upacara kurban di Lapangan Kota Kuno Yahudi, 6 April 2017 (Foto: Adam Prop)

Selama lima belas tahun terakhir, Sanhedrin telah melaksanakan peragaan penuh upacara korban Paskah di Yerusalem. Dimulai dengan upacara yang sederhana dan lebih ditujukan sebagai pelajaran bagi khalayak umum, upacara ini terus berkembang. Setiap tahun, lebih banyak orang yang menghadiri dan upacara itu sendiri semakin berkembang kompleksitasnya, menjadi lebih seperti upacara yang sesungguhnya di Bait Suci.

Pada hari Kamis, Kohanim, orang-orang dari golongan imam, mengenakan pakaian khusus yang dibuat menurut aturan Torah dan menjalankan upacara diiringi alat-alat musik yang secara khusus dipersiapkan oleh The Temple Institute untuk digunakan di Bait Suci Ketiga. Seekor domba dikorbankan di bawah pengawasan seorang wakil kementerian pemerintah urusan hewan, dan kemudian dipanggang sebagaimana ditetapkan oleh Torah.

Anak domba yang dikurbankan sebaga Anak Domba Paskah (Foto: Adam Propp)

Keluaran 12:8-11 (ILT) Dan pada malam itu mereka harus makan daging yang dipanggang api dan roti tidak beragi; haruslah mereka memakannya dengan sayur pahit. 9. Kamu jangan memakannya mentah, atau matang karena direbus dengan air, melainkan dipanggang api, kepalanya bersama kaki-kakinya dan dengan isi perutnya. 10. Dan janganlah kamu menyisakan dari padanya sampai pagi. Dan yang tertinggal sampai pagi dari padanya, haruslah kamu bakar dengan api. 11. Dan beginilah kamu harus memakannya: pinggangmu dililiti sabuk, kasutmu di kakimu, dan tongkatmu di tanganmu. Dan kamu harus memakannya dengan cepat. Itulah Paskah bagi YAHWEH.

Imam-imam Yahudi (kohanim) bersiap menjalankan upacara (Foto: Adam Propp)

Untuk mengakomodasi orang-orang yang semakin banyak jumlahnya, Sanhedrin rencananya mengadakan upacara tahun ini di Davidson Center, sebuah taman arkeologi yang berdekatan dengan Tembok Barat dan Gunung Bait Suci. Namun karena khawatir terjadi kekerasan Muslim, pihak kepolisian menolak mengeluarkan izin untuk acara tersebut, dan hanya empat hari sebelum acara dilaksanakan, upacara dipindahkan ke sebuah lokasi di dalam wilayah Yahudi di dekat Sinagog Hurva. Meskipun demikian, lokasi ini sangat strategis, karena terletak hanya beberapa ratus meter dari Tembok Barat dan Gunung Bait Suci.

“Ketika Anda meminta 100 persen, Anda mendapatkan 70 persen,” kata Raphael Morris, kepala kelompok Hozrim Lahar, menjelaskan bagaimana kelompok sayap kanan berhasil mendapatkan lokasi strategis. Ini adalah langkah besar dari dua tahun yang lalu, dimana upacara dijalankan hampir secara rahasia di halaman sekolah di salah satu lingkungan agama di ibukota.

Kecapi Bait Suci mengiringi upacara (Foto: Adam Propp)

Peragaan upacara hari Kamis ini penuh halangan. Listrik padam selama lebih dari dua jam; tidak ada rabbi-rabbi terkenal yang hadir, berbeda dengan upacara tahun lalu; dan banyak darah yang harus dikumpulkan para imam dari domba yang disembelih untuk dipercikkan di mezbah, berceceran keluar bahkan sebelum itu dimasukkan bejana khusus yang telah disiapkan.

Tetapi meskipun semua hal ini terjadi tepat di luar monumen nasional, Sinagog Hurva, mudah untuk dipahami kenapa para aktivis bersukacita.

Media sayap kiri mempolitisasi acara tersebut, menuduh motif ekstremis sayap kanan dan pihak penyelenggara berniat untuk menghasut Waqf, Otoritas Muslim yang mengawasi Gunung Bait Suci. Rabbi Hillel Weiss, juru bicara Sanhedrin dan salah satu pihak penyelenggara acara, menekankan bahwa acara ini non-politik dan dimaksudkan hanya sebagai peragaan salah satu upacara paling penting Bangsa Yahudi.

Mezbah sementara (Foto: Adam Propp)
Kurban Paskah dipersiapkan untuk dikurbankan di mezbah (Foto: Adam Propp)

“Meskipun dengan segala kesulitan, setiap tahun kami semakin dekat dengan kemuliaan yang dulu pernah ada di Bait Suci Yahudi dan, oleh kehendak Elohim, itu akan kembali ke Israel,” kata Rabbi Weiss. “Nampak jelas ada kebangkitan karena semakin banyak orang yang terhubung dengan Gunung Bait Suci dan menjalankan kembali upacara-upacara di Bait Suci.”

Yehuda-Glick
Rabbi Yehuda Glick memberikan kata sambutan (Foto: Adam Propp)

Selama menunggu lama bagi kohanim untuk selesai menguliti domba, yang digantung di salah satu pohon di alun-alun, beberapa orang diundang untuk memberikan sambutan kepada penonton. Salah satunya adalah MK Yehudah Glick (Likud).

“Penguasa Alam Semesta, umat-Mu telah berkumpul di sini untuk mengatakan, ‘Saya ingin masuk ke dalam perjanjian dengan-Mu,’” kata Glick. “Kami akan bernyanyi bagi-Mu seberapa banyak kami rindu, seberapa banyak kami ingin merasakan kehadiran-Mu di antara kami.’”

Mezbah kurban bakaran siap untuk pengorbanan (Foto: Adam Propp)
Kohanim meniup sangkakala perak Bait Suci (Foto: Adam Propp)

Sementara anak domba dipanggang dalam mezbah bata yang telah dibangun di tengah-tengah alun-alun, Shimshon Elboim, salah satu dari sedikit aktivis Belz Hasidim dalam pergerakan Gunung Bait Suci memberikan kata sambutan.

“Kami memiliki hak istimewa untuk mendekat ke Gunung Bait Suci, tempat yang seharusnya. Pihak berwenang saat ini lebih terbuka dan masyarakat juga lebih terbuka,” kata Elboim.

“Pada akhirnya pemerintah ingin melayani masyarakat, dan orang-orang menginginkan Bait Suci; orang-orang ingin mempersembahkan korban. Pada tingkatan ini, hari itu tidak jauh – hanya beberapa tahun lagi – ketika kita memperoleh hak istimewa untuk melakukan pengorbanan di Gunung Bait Suci itu sendiri“.

Kohanim menjalankan ritual Pemberkatan Imam (Foto: Adam Propp)
Kurban Anak Domba Paskah yang sudah dipanggang (Foto: Adam Propp)

Referensi:

In First, Far-right Jews Sacrifice Lamb Near Temple Mount

Jewish Priests Offer Paschal Lamb Just Hundreds of Meters From Temple Mount

Iklan