Sebuah replika dari gerbang lengkung Romawi yang pernah berdiri di depan Kuil Dewa Pagan Baal, didirikan kembali untuk menyambut Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemerintah Dunia di Dubai pertengahan Februari 2017 ini, menciptakan suatu adegan yang melambangkan penyatuan berbahaya Akhir Zaman antara Ishmael dan Edom, untuk menentang Israel.

Gerbang Lengkung Kemenangan Romawi kuno yang asli berdiri selama 1.800 tahun di Palmyra, Syria, sampai akhirnya dihancurkan oleh ISIS pada bulan Oktober 2015. Sebuah replika ukuran penuh dari gerbang lengkung setinggi 15 meter dibangun tahun lalu oleh Institute for Digital Archeology, sebuah proyek kerjasama antara Universitas Oxford dan Harvard, dan sebelumnya sudah dipamerkan dua kali.

20170212MH_C188381

Replika Gerbang Kuil Baal itu didirikan dalam rangka upacara pembukaan KTT Pemerintah Dunia yang dibuka pada hari Minggu, 12 Februari 2017 di Dubai. Berbasis di Uni Emirat Arab, KTT Pemerintah Dunia ini dihadiri lebih dari 4000 pemimpin dunia dari 130 negara, merupakan suatu pengorganisasian internasional untuk dialog global di mana para pemimpin pemerintahan, bisnis, dan teknologi membahas hal-hal tentang bagaimana pemerintah-pemerintah akan dijalankan dan bagaimana kebijakan-kebijakan dibuat.

KTT pertama, diselenggarakan pada tahun 2013, dihadiri oleh mantan Presiden AS Barack Obama, mantan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon, dan para pemimpin dunia lainnya.

Meskipun pembangunan kembali artefak Romawi kuno ini di sebuah kota metropolitan Arab modern kelihatannya aneh, Rabbi Pinchas Winston, seorang penulis produktif dan ahli Akhir Zaman, melihat makna yang lebih dalam yang sangat relevan dengan situasi saat ini.

Meskipun Romawi kuno dan Emirat Arab modern berada di belahan dunia yang berbeda dan pada zaman yang berbeda dalam sejarah, keduanya ini terhubung secara ideologis dan spiritual.

“Tradisi Yahudi menyebutkan terjadinya empat kali pembuangan atau pengasingan bangsa Yahudi, yang terakhir adalah oleh bangsa Romawi. Israel pernah diserang oleh orang-orang Arab, tapi kita tidak melihat terjadinya yang kelima, pembuangan karena Arab atau Ishmael,” kata Rabbi Winston menjelaskan. “Gerbang lengkung Romawi kuno di Dubai ini secara simbolis mengikat mereka keduanya bersama-sama: Ishmael, bangsa-bangsa Arab, dan Edom, yang dilambangkan oleh Roma.”

Gerbang lengkung asli yang berada di Palmyra, dibangun oleh Kaisar Romawi Septimius Severus, berdiri di depan sebuah kuil yang sudah ada di sana sebelumnya, yang digunakan oleh bangsa Mesopotamia untuk menyembah Dewa Pagan Bel, yang sering disebutkan dalam Alkitab sebagai Ba’al.

2 Raja-Raja 21:3 (ILT3)  Dan dia mendirikan kembali tempat-tempat pemujaan yang Hizkia, ayahnya, telah musnahkan, dan dia membangun mezbah-mezbah untuk Baal dan membuat patung Ashera sebagaimana Ahab, raja Israel, lakukan, dan dia menyembah segenap tentara langit dan beribadah kepadanya.

“Sama seperti orang-orang Romawi kuno, orang-orang Arab sekarang ini berusaha untuk menguasai dunia, dan itu sedang berhasil,” kata Rabbi Winston. “Meskipun ini adalah orang-orang Arab melawan orang-orang Yahudi, pada dasarnya orang-orang Arab ini melanjutkan misi Edom untuk menaklukkan dunia. Hubungan antara Dubai dan Roma menunjukkan bahwa Edom belumlah berakhir. Ia hanya mengenakan topeng yang berbeda.”

Rabbi besar Yahudi abad pertama, Jonathan ben Uziel, menulis tentang bagaimana aliansi Alkitab antara Ishmael dan Esau ini akan muncul kembali di Akhir Zaman. Bukti jelas hubungan spiritual antara dua dunia yang tampaknya berbeda lokasi geografis dan zaman ini dapat dilihat dalam kerja sama politik yang berkembang antara Roma dan Muslim (dunia Arab).

Ikatan ini dimanifestasikan dalam tindakan memperkuat hubungan antara Vatican dan Otoritas Palestina, demikian juga dalam pertemuan Paus Francis dengan Presiden Iran.

Meskipun Edom dan keinginannya untuk menguasai dunia dipersonifikasikan oleh Romawi, tetapi pola dasarnya memiliki akar Alkitab.

Keinginan untuk berdirinya satu Pemerintahan Dunia berawal dari Menara Babel, ketika Anti-Kristus yang pertama, Nimrod, mempersatukan seluruh dunia untuk menantang Elohim.

Kejadian 11:4 (ILT3)  Dan mereka berkata, “Marilah kita membangun bagi kita sebuah kota dan sebuah menara dan puncaknya di langit, dan membuat bagi kita suatu nama, supaya kita jangan tercerai-berai ke seluruh muka bumi.”

Keinginan Ishmael, bangsa-bangsa Arab untuk menguasai dunia adalah bagian dari keyakinan agama mereka, melihat berdirinya kembali khalifah yang berkuasa atas seluruh dunia di bawah pimpinan Imam Al-Mahdi, dan hal ini juga sangat mirip dengan Romawi kuno.

“Keinginan untuk membenahi dunia dan untuk menjadikannya tempat yang lebih baik mirip dengan gerakan Messianik. Namun jika tidak didasarkan kepada Elohim, itu akan menyimpang dan pada akhirnya akan membinasakan karena didasarkan kepada ego. Ini semua menarik akademisi sekuler, karena mengagung-agungkan akal pikiran dan kekuatan manusia di atas Elohim yang berkuasa atas kita semua,” kata Rabbi Winston.

Reproduksi Gerbang Kuil Baal didirikan untuk pertama kalinya di London pada tanggal 19 April 2016 pada acara minggu warisan budaya UNESCO, yang bertepatan dengan hari raya Beltane, perayaan pagan utama dalam ritual penyembahan Baal. Gerbang lengkung Kuil Baal ini didirikan lagi di City Hall Park, New York pada bulan September 2016. Dan yang ketiga kalinya, Gerbang lengkung Kuil Baal ini didirikan di Dubai pada penyelenggaraan “KTT Pemerintah Dunia,” 12-14 Februari 2017.

New World Order dan Berdirinya Kembali Kuil Baal

Kuil Baal, yang juga dikenal sebagai Kuil Bel, merupakan bangunan penting terkenal yang berlokasi di Palmyra, Syria. Pada bulan Oktober 2015, kuil ini dihancurkan oleh ISIS, dan sebagian besar dunia terkejut atas kehilangan “situs peninggalan budaya” ini. ISIS telah menghancurkan banyak situs-situs kuno dan situs-situs Alkitab sejak pendudukannya di Iraq dan Syria: Biara St. Elia, makam Nabi Yunus, kota kuno Niniveh. Sementara dunia meratapi kehilangan situs-situs yang tidak tergantikan ini, namun hanya satu yang akan didirikan kembali: gerbang Kuil Palmyra, atau yang lebih dikenal sebagai Kuil Baal. Nama Baal itu artinya Tuan atau Tuhan.

Foto: Kuil Baal di Palmyra, Syria

Penyembahan Baal merupakan agama mayoritas yang melawan Yudaisme monoteisme. Nama Baal disebutkan lebih dari 90 kali di Kitab Suci, dan menjadi pola dasar penyembahan terhadap Iblis. Pada zaman kuno dahulu, pengorbanan bayi dan pesta seks biseksual merupakan praktek yang dilakukan secara umum di pelataran mezbah Baal.

Tentu saja, sebagian besar orang yang tidak religius tidak tahu siapa itu Baal, dan mereka juga tidak perduli.

Namun kebenarannya adalah banyak hal mendasar yang berhubungan dengan penyembahan kuno Baal masih dipraktekkan di dalam budaya masyarakat modern ini. Berikut ini ringkasan dari artikel Matt Barber:

Ritual penyembahan Baal, secara umum seperti demikian: Orang-orang dewasa akan berkumpul di sekeliling mezbah Baal. Bayi-bayi kemudian akan dibakar hidup-hidup sebagai korban persembahan kepada dewa ini. Di tengah-tengah teriakan mengerikan dan bau amis daging manusia, jemaah – baik laki-laki maupun perempuan – akan melakukan pesta seks biseksual. Ritual sukaria ini dimaksudkan untuk menghasilkan kemakmuran ekonomi dengan mendesak Baal untuk menurunkan hujan untuk kesuburan “ibu bumi.”

Konsekuensi alami dari kelakuan seperti itu – kehamilan dan kelahiran – dan beban keuangan yang berhubungan dengan lahirnya bayi-bayi yang tidak diinginkan dapat dengan mudah disingkirkan. Seseorang dapat memilih untuk menjalankan praktek homoseksual atau – dengan pengorbanan bayi sesuai permintaan – dapat dengan mudah ambil bagian dalam upacara kesuburan lainnya untuk membinasakan bayi-bayi yang tidak diinginkan.

Liberalisme modern hanya bergeser sedikit dari pendahulu masa lalunya. Sementara ritual mengerikan itu dibersihkan dengan istilah-istilah seni yang berbunga-bunga dan diperhalus, prinsip dasar dan praktek-prakteknya tetaplah sama.

Di dunia kuno, nama Baal dan Bel seringkali saling bertukar, dan keduanya dapat diselidiki asal-usulnya kepada sumbernya, dewa Marduk di Babylon kuno. Berikut ini penjelasan Wikipedia:

Bel secara khusus digunakan untuk dewa Marduk di Babylon dan saat ditemukan pada nama-nama pribadi di Assyria dan neo-Babylon atau disebutkan di dalam inskripsi-inskripsi dalam konteks Mesopotamia, itu biasanya dapat dipakai sebagai rujukan kepada Marduk dan bukan dewa lainnya. Demikian juga Belit, tanpa diragukan kebanyakan merujuk kepada pasangan Bel Marduk, Sarpanit. Namun, ibu Marduk, dewi-dewi Sumeria yang dinamai Ninhursag, Damkina, Ninmah dan nama-nama Sumeria lain, seringkali dikenal sebagai Belit-ili, yang dalam bahasa Akkadia artinya ‘Nyonya/Putri Dewa-dewa.’

Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh Bruce W. Warren dan John A. TvedtnesMarduk adalah “seorang dewa pemburu” yang dipercayai adalah pendiri Babylon kuno, menurut tradisi Babylon kuno…

Nama Akkadia, Marduk, berasal dari bahasa Sumeria MAR.UTU, seorang dewa pemburu. Dia ini dikatakan telah memimpin suatu pemberontakan dewa-dewa melawan orang tuanya, dan sesudah itu dia dinobatkan sebagai raja dewa-dewa. Dalam tradisi Babylon, dialah pendiri Babylon (Bab-ilu, “pintu gerbang dewa-dewa”). Kuilnya di Babylon menyandang nama E.SAGILA, “rumah yang mengangkat kepala,” dan menara yang berhubungan dengan itu dinamai, di dalam bahasa Sumeria Etemenanki, “rumah fondasi surga dan bumi.” Kesamaan dengan Menara Babel adalah buktinya.

ziggurat-emenanki
Ziggurat Etemenanki

Jika kita membaca Kitab Kejadian, ini akan mengingatkan akan Kejadian 10:9 dimana dikatakan bahwa Nimrod adalah “seorang pemburu yang perkasa di hadapan YAHWEH.” Dan tradisi Yahudi kuno (Torah, Kitab Yashar) secara khusus menyebutkan Nimrod sebagai orang yang mendirikan Menara Babel. Selain Marduk, nama-nama lain dari dunia purbakala yang berhubungan dengan Nimrod antara lain Ninurta, Gilgamesh, Osiris, Dionysus, Apollo, Narmer dan Enmerkar. Ini mungkin agak membingungkan. Dalam ringkasan berikut, Peter Goodgame menjelaskan kepada kita dengan menghubungkan poin-poin ini…

Dalam Bab Delapan dari pelajaran ini, kita memeriksa bukti bahwa Nimrod dikenal di Mesir sebagai Raja Narmer, yang akhirnya didewakan sebagai dewa Osiris, Penguasa Dunia Orang Mati/Dunia Bawah Tanah. Dalam Bab Lima, kita melihat bukti bahwa Nimrod dikenal oleh bangsa Sumeria kuno sebagai Raja Enmerkar yang besar, yang berusaha mendirikan sebuah menara raksasa kepada dewa-dewa di kota kuno Eridu – sebuah kota yang dianggap sebagai “Babylon” asli oleh sejarawan Berossos. Secara tradisional, peristiwa Menara Babel berhubungan dengan Nimrod, dan penjelasan-penjelasan Yahudi seperti halnya sejarawan Yahudi, Josephus, keduanya nampak sangat tegas akan hal ini.

Mengenai nama Sumeria Enmer-kar, akhiran “kar” artinya “pemburu,” jadi “Enmer-kar” sebenarnya adalah “Enmer sang Pemburu,” sama seperti Nimrod yang disebut “Pemburu Perkasa” dalam Kejadian 10. Lebih jauh, Enmerkar disebutkan di dalam daftar Raja Sumeria sebagai “dia yang mendirikan Uruk,” sama seperti Nimrod yang dijelaskan oleh Kejadian 10:10, memiliki sebuah kerajaan yang dimulai di “Babel (Eridu) dan Erekh (Uruk)… di tanah Shinar.” Sesudah kematian Enmerkar, dia akhirnya dihormati di dalam mitologi Sumeria sebagai pahlawan setengah dewa Ninurta, dan dengan cepat sekte ini berubah menjadi sekte besar dari Marduk, yang menjadi agama negara Babylon sesudah penaklukan-penaklukan dan inovasi-inovasi religius dari Hammurabi.

Menurut beberapa tradisi, Freemason asli adalah Nimrod. Dia mendirikan “New World Order” – Pemerintahan Dunia yang pertama dalam dunia Pasca-Banjir Besar, dan bisa disebutkan bahwa semua dewa-dewa utama dari Babel kuno, Yunani dan Romawi asal-usul awalnya bermuara kepada dia atau tradisi-tradisi yang ada di sekelilingnya.

Baca: Bangkitnya Babel | Manusia Dengan Banyak Nama

Namun bagi banyak okultis modern, kisah Nimrod masih belum selesai. Banyak perkumpulan-perkumpulan rahasia dan kelompok-kelompok okultis memiliki tradisi yang menyebutkan bahwa Nimrod/Marduk/Osiris/Apollo/Baal pada suatu hari akan dibangkitkan kembali dan satu kali lagi akan memerintah seluruh dunia.

Alkitab menubuatkan, pada Akhir Zaman, Apollyon (atau Apollo, salah satu nama lain Baal-Nimrod), akan bangkit dan keluar dari jurang Abyssos (dunia orang mati):

Wahyu 9:11 (ILT) Dan mereka mempunyai raja atas mereka, yaitu malaikat Abyssos, nama Ibrani baginya Abaddon, dan dalam bahasa Yunani dia mempunyai nama Apollyon.

Nama Apollyon, artinya Sang Penghancur. Istilah yang sama dengan Anak Kebinasaan atau Anak Penghancuran (Yunani: uihos apoleia) yang disebutkan oleh Rasul Paulus, merujuk kepada seorang Anti-Kristus yang akan muncul pada Akhir Zaman ini:

2Tesalonika 2:3 (ILT) Biarlah tidak seorang pun menyesatkan kamu dengan cara apa pun, kecuali bahwa pertama-tama kemurtadan itu datang dan manusia pendosa, yaitu Anak Kebinasaan (Yunani: uihos tes apoleias; Anak Kebinasaan atau Anak Penghancuran) itu disingkapkan, yakni dia yang menentang dan meninggikan dirinya atas segala sesuatu yang disebut ilah atau sesuatu yang disembah, sehingga dia duduk sebagai ilah di tempat kudus Elohim sambil menyatakan dirinya bahwa dia adalah Elohim.

Berikut ini Scott Brown memberikan gambaran mengenai apa yang dipraktekkan selama penyembahan Baal…

Kita tahu bahwa biasanya ada sangat banyak orang-orang berkumpul, biasanya di bukit yang tinggi (seperti stadion atau teater) untuk tontonan seks umum, sama seperti kita menonton film-film dan televisi dan di internet (Bilangan 22:41, 1Raja 12:25-33). Kita berpikir bahwa kita menonton hal-hal seperti itu berbeda dengan penyembahan berhala kuno, namun itu tidaklah demikian.

Seluruh masyarakat datang dan semua ide-ide penyembahan berhala terbaik untuk keberhasilan panenan dan kesuburan dipromosikan, sama seperti seminar bisnis yang mempromosikan ide-ide tidak Alkitabiah yang membenarkan prinsip-prinsip asli keduniawian.

Orang-orang fasik (para promotor dan pemain) dihormati dan diberikan panggung (seperti bintang musik rock dan artis-artis Hollywood). Beberapa dari mereka adalah penari-penari terbaik (seperti Britney Spears dan Madonna) sementara lain-lainnya adalah musisi-musisi hebat (seperti Mick Jagger dan Paul McCartney) (1Raja 15:12-14). Dalam zaman ini, orang-orang yang pergi ke gereja meniru para selebritis, dimana seharusnya mereka melakukan yang sebaliknya.

Mazmur 101:1,3 (ILT) berkata, “Aku mau menyanyikan kasih setia dan keadilan, ya YAHWEH… Aku tidak mau menempatkan perkara dursila di depan mataku…

Orang-orang menari-nari di sekeliling tiang Ashera, yang tidak lain adalah simbol alat kelamin laki-laki. Sangat mungkin bahwa tiang-tiang ini berfungsi seperti tiang-tiang yang ada di klub penari telanjang. Orang-orang juga bertingkah laku birahi, tidak bermoral, atraksi-atraksi mesum untuk dinikmati semua yang hadir (Yesaya 57:5-8; Ulangan 23:17). Mereka punya semua jenis atraksi seksual yang dipertontonkan termasuk laki-laki dengan perempuan, laki-laki dengan laki-laki dan semua kombinasi itu yang sekarang ini populer di dalam komedi situasi, film-film dan siaran-siaran berita. Lebih jauh dari itu, mereka mengundang penonton untuk berpartisipasi (1Raja 14:24).

Sebagai tambahan dari semuanya itu, persembahan korban bayi-bayi merupakan hal utama di dalam penyembahan Baal.

Yeremia 19:4-6 (ILT) Sebab mereka telah meninggalkan Aku, dan telah mencemari tempat ini serta membakar dupa bagi ilah-ilah lain yang mereka dan leluhurnya dan raja-raja Yehuda tidak kenal; dan mereka telah memenuhi tempat ini dengan darah orang-orang yang tidak bersalah. 5. Mereka juga telah membangun tempat-tempat pemujaan bagi Baal, untuk membakar anak laki-laki mereka dengan api sebagai persembahan bakaran bagi Baal, yang tidak pernah Aku perintahkan maupun ucapkan, bahkan tidak pernah timbul di hati-Ku. 6. Oleh karena itu, lihatlah, hari-hari itu akan tiba, firman YAHWEH, bahwa tempat ini tidak akan lagi disebut Tofet atau lembah Ben-Hinom, tetapi lembah Pembantaian.

Dan seperti penyembahan Baal kuno, masyarakat modern sekarang ini juga menjalankan praktek pengorbanan bayi-bayi, yang secara etika medis bahasanya diperhalus menjadi “aborsi”, tetapi motifnya tetaplah sama. Jika kehamilan yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan terjadi, kita punya mekanisme untuk menyingkirkan semuanya itu, seperti yang dilakukan masyarakat kuno saat itu.

Menurut elite Illuminati, sama seperti Messias pertama yang datang untuk mendirikan Kerajaan Surga, messias Illuminati kedua akan mendirikan sebuah New World Order – Pemerintahan Dunia Baru – di bawah kekuasaannya. Mengenai messias ini, Manly P. Hall, seorang visioner okultis terkemuka menuliskan:

“Hasil akhir dari ‘tujuan rahasia’ ini adalah sebuah Pemerintahan Dunia yang dikuasai seorang Raja dengan kekuasaan supernatural. Raja ini adalah keturunan ras Ilahi; yaitu, dia milik Ordo Illuminati bagi mereka yang sampai kepada suatu tingkat kebijaksanaan, maka menjadi milik keluarga manusia-dewa yang disempurnakan…” The Secret Destiny of America (Tujuan Rahasia Amerika), hal. 26.

Banyak ahli-ahli Alkitab percaya bahwa Anti-Kristus yang akan datang adalah Nimrod yang dibangkitkan kembali atau “seseorang” yang mempunyai hubungan dengan dia.

Pemerintahan Dunia di bawah Nimrod pada zaman kuno berusaha menyingkirkan YAHWEH Elohim, dan hal yang sama sedang dilakukan oleh para elite global hari-hari ini.

Para elite global memimpikan dunia utopia “New World Order” (Tatanan Dunia Baru) dimana umat manusia akan dipersatukan di bawah satu pemerintah dunia, satu ekonomi dunia, dan satu agama dunia. Para elite global sangat memahami simbolisme ini dengan baik. Mendirikan kembali Gerbang Lengkung Kuil Baal di Dubai pada saat bersamaan dengan “KTT Pemerintah Dunia” dilakukan untuk menyampaikan pesan yang sangat kuat kepada seluruh dunia.

Presiden AS Donald Trump berdiri untuk menentang mimpi utopia ini, dan itu sebabnya para elite global sangat membencinya. Meskipun Donald Trump sekarang telah menjadi presiden AS, para elite global masih jauh dari kekalahan, dan jika mereka bisa meraih kesempatan itu, seluruh umat manusia akan segera ada di dalam genggaman kekejaman mereka.

Simbolisme pendirian kembali Gerbang Lengkung Kuil Baal dalam upacara pembukaan KTT Pemerintah Dunia nampaknya mempersatukan semua aspek-aspek penggenapan Akhir Zaman untuk bangkitnya “New World Order” dengan Anti-Kristus sebagai pemimpinnya.

Baca:

Bangkitnya Babel | Manusia Dengan Banyak Nama

Bangkitnya Babel | Yang Pertama Akan Menjadi Yang Terakhir, Kebangkitan Kembali Anti-Kristus

Kebangkitan Abaddon | Menghidupkan Kembali Ras Rephaim dan Raja Jurang Maut, Abaddon

Aliansi Akhir Zaman Ishmael dan Esau Muncul dalam Pertemuan Paus dan Abbas

Referensi:

New World Order Forming Under Pagan Temple of Ba’al Arch?

This Week The ‘Arch Of Baal’ Was Displayed For The Third Time In Honor Of ‘The World Government Summit’

Replica of Palmyra’s Arch of Triumph set up in Dubai

Temple of Ba’al Arch Erected for World Government Summit in Dubai

The Reason The Elite Hate Trump So Much Is Because He Is Opposed To The One World Agenda Of The Globalists

Iklan