Tiga puluh lima tahun yang lalu, sekelompok tim kecil orang-orang Yahudi berangkat untuk menjalankan misi yang sulit dan berbahaya: untuk membuktikan bahwa kisah Alkitab tentang gua di Hebron itu benar. Salah seorang anggota tim itu menceritakan apa yang mereka temukan: sebuah ruang rahasia di bawah situs. Bukti bahwa sejarah karangan PBB yang didukung oleh sebagian besar negara-negara di dunia itu salah.

Dari semua situs tempat-tempat suci di Israel, Gua Makhpelah (Gua Bapa Leluhur) di Hebron memiliki makna khusus, sebagai situs yang tertua. Situs pemakaman untuk tiga patriarkh dan tiga matriarkh – Abraham dan Sarah, Yitzchak dan Ribqah dan Ya’aqob dan Leah – menandai asal-usul dari tiga agama Abrahamic.

Didominasi oleh bangunan batu-batu besar di atas tanah, para pengunjung Hebron banyak bertanya-tanya tentang gua yang dijelaskan di dalam Alkitab. Gua itu memang ada, dan meskipun pintu masuknya ada di depan mata, sangat sedikit orang yang pernah masuk ke dalamnya.

Noam Arnon, juru bicara komunitas Yahudi di Hebron, telah mempelajari Gua Makhpelah selama beberapa dekade. Ketertarikannya akan situs ini dimulai sekitar 35 tahun yang lalu ketika, dengan resiko dipenjarakan dan dapat memicu kemarahan orang-orang Muslim, ia membuka paksa batu yang menutupi pintu masuk ke situs pemakaman ini dan menjelajahi ruangan-ruangan di bawah bangunan.

Arnon menjelaskan motifnya. 35 tahun yang lalu, orang-orang Yahudi mulai bermukim kembali di Hebron sesudah lama absen menyusul pembantaian 69 orang Yahudi pada tahun 1929. Orang-orang Arab berusaha menjauhkan orang-orang Yahudi dari kota bapa leluhur mereka dan situs Gua Makhpelah yang terletak di jantung Yudaisme.

“Pada waktu itu, kami mulai mendengar banyak pendapat dalam politik dan bahkan dari para akademisi bahwa seluruh kisah mengenai Gua Makhpelah dan Abraham itu hanyalah mitos dan tidak berdasarkan fakta,” kata Arnon menjelaskan. “Kami harus membuktikan bahwa kisah Alkitab itu akurat.”

Waqf, otoritas Muslim, berusaha menghalangi akses orang-orang Yahudi ke situs tersebut. Arnon dan 5 orang kawan-kawannya memutuskan untuk menemukan gua itu dan membuktikan keaslian sejarahnya.

Tapi tidak seorang pun diijinkan masuk untuk menjelajahi situs tersebut. Arnon mendengar desas-desus tentang adanya ruangan bawah tanah. Sesudah Hebron ditaklukkan pada tahun 1967, Jenderal Moshe Dayan, yang kemudian menjadi Menteri Pertahanan dan seorang arkeolog amatir, menurunkan seorang gadis muda menyusuri sebuah lorong tertutup, yang menurut tradisi, akan menuju ke dalam gua. Ketika ia kembali, ia menceritakan apa yang dilihatnya: sebuah ruangan kecil dan anak tangga batu menuju kembali ke aula.

Didasarkan pada peta kasar yang digambar gadis muda itu, Arnon berkeyakinan bahwa anak tangga itu mengarah ke Aula Yitzhak, bagian dari kompleks gua yang secara umum terlarang untuk dimasuki bagi orang-orang Yahudi. Tim kecil ini memutuskan mencoba menyelidiki gua tersebut pada bulan Elul, ketika orang-orang Yahudi diijinkan masuk ke ruang aula di malam hari untuk berdoa Selichot, ibadah khusus untuk meminta pengampunan yang diucapkan pada hari-hari menjelang Yom Kippur (Hari Raya Pendamaian).

gua-makhpelah-7
Hebron

“Doa-doa Selichot sangatlah keras dan disertai banyak tiupan shofarot (sangkakala tanduk domba), jadi itu menjadi pengalih-perhatian dan penyamaran yang sangat baik bagi kami,” kata Arnon. “Sesudah mencari-cari, kami menemukan bukaan. Itu ditutupi batu ubin di tengah-tengah lantai di area umum. Kami membawa beberapa peralatan. Dan tepat pada saat ketika tiupan shofarot berbunyi paling keras, kami membuka batu itu secara paksa.”

Di depan mata mereka terlihat anak tangga batu, persis seperti yang digambarkan sang gadis muda itu, dipahatkan pada batuan dasar.

entrance

“Kami turun ke dasar di mana ada sebuah terowongan panjang dan sempit, miring turun sampai jauh ke bawah, yang terbuka ke sebuah ruangan dengan lantai ubin kasar,” kata Arnon. Tapi masih belum kelihatan ada tanda-tanda keberadaan gua seperti yang dijelaskan Kitab Kejadian.

“Aku merasakan sedikit angin dan menyadari pasti ada lubang bukaan yang lain,” kata Arnon. “Kami mengikuti aliran udara dan menyusurinya ke sebuah lubang di lantai yang ditutupi oleh batu. Kami membukanya secara paksa dan merangkak ke dalam gua yang dipahat ke dalam batuan dasar.

Kata “Makhpelah” berasal dari akar kata bahasa Ibrani, yang artinya “ganda“. Rabbi Shlomo Yitzchaki, yang terkenal dengan julukan Rashi, seorang pengajar Torah terkemuka kelahiran Perancis, yang hidup pada abad pertengahan, menjelaskan arti “ganda” di sini maksudnya karena guanya ganda. Ini persis dengan apa yang ditemukan tim kecil ini: dua buah gua, satu ada di belakang yang lain.

“Di belakang gua itu ada bukaan lain ke dalam gua kedua, dengan atap yang rendah,” kata Arnon. “Pada satu titik, aku mendapati diriku sedang merangkak di antara tulang-belulang manusia.”

Teman-teman mereka di atas yang sedang menutup-nutupi usaha penyelidikan mereka, memanggil ke bawah, dan memperingatkan supaya cepat naik kembali. Ibadah doa akan segera berakhir, dan bahkan, teman-teman mereka di atas menjalankan ibadah doa Selichot dua kali untuk memberi mereka yang turun sedikit waktu tambahan untuk mengeksplorasi.

Keesokan paginya, orang-orang Arab mendapati bahwa lantai batu telah terbuka. Waqf secara resmi menyampaikan komplain kepada pemerintah Israel, dan penduduk Arab di Hebron gempar dan membuat kerusuhan.

Arnon telah mengambil beberapa pecahan tembikar dari gua, yang ia bawa ke laboratorium untuk pengujian. Benda-benda ini didapati berasal dari periode Bait Suci Pertama. Para arkeolog tidak melewatkan kesempatan langka ini. Seev Jevin, mantan direktur Otoritas Kepurbakalaan Israel (IAA), mengikuti jejak langkah Arnon dan kawan-kawan pemberaninya. IAA mengakui bahwa itu memang sebuah gua pemakaman dari Zaman Perunggu, yang termasuk zaman para Bapa Leluhur dan Bait Suci Pertama. Ini menimbulkan kemarahan Waqf dan mereka mengajukan komplain-komplain lebih lanjut kepada pemerintah Israel. Pemerintah Israel akhirnya menyegel bukaan itu dengan beton.

Sebagai warga kota suci Hebron, Arnon sangat gusar terhadap Resolusi DK PBB dan UNESCO yang berusaha membantah eksistensi bangsa Yahudi dari situs Gua Makhpelah, sesuatu yang telah ia lihat sendiri dengan mata kepalanya.

“Semua bukti arkeologi menunjukkan situs ini secara historis milik Yahudi, berasal dari masa 3.000 tahun ke belakang,” kata Arnon. “Aku melakukan tes karbon-14 pada bangunan itu sendiri, dan itu berasal dari penanggalan sebelum abad pertama Masehi. Orang-orang Muslim tidak bisa mengatasi fakta-fakta dan sejarah nyata yang sebenarnya dari situs Yahudi ini, sehingga mereka sendiri bahkan tidak melakukan usaha,” kata Arnon. “Mereka hanya keberatan orang-orang Yahudi memasuki situs ini, seperti yang mereka lakukan di sepanjang zaman Kekaisaran Ottoman.”

hebron-makhpelah
Hebron – Gua Bapa Leluhur

Selama pemerintahan Kekaisaran Ottoman, orang-orang Yahudi dilarang mengunjungi tempat-tempat suci mereka. Bangunan batu di atas Gua Makhpelah itu dibangun oleh Raja Herodes lebih dari 2.000 tahun yang lalu sebagai tempat suci bagi para Bapa Leluhur bangsa Yahudi, menggunakan batu-batu khusus yang sama yang digunakan untuk membangun Tembok Barat, namun kemudian diubah oleh orang-orang Muslim menjadi masjid pada abad ketujuh.

“[Resolusi DK PBB 2334] ini anti-Semitisme dan rasis, gamblang dan sederhana,” kata Arnon dengan tegas. “Ketika PBB mendukung klaim orang-orang Muslim, itu tidak berdasarkan fakta-fakta sejarah atau sesuatu kebenaran. Ini murni anti-Semitisme (anti Yahudi).”

Sebelumnya, DK PBB telah mengeluarkan Resolusi yang menyatakan bahwa situs-situs suci Yahudi di Hebron dan Yerusalem Timur sebagai milik Muslim. Resolusi tersebut menyebut Makam Rachel di Bethlehem dan Gua Patriarkh (Gua Bapa Leluhur – Gua Makpelah) di Hebron sebagai Masjid Bilal Ibn Rabah dan Al Haram Al Ibrahimi.

Alkitab dan sejarah dengan jelas menyatakan bahwa tanah ladang dengan gua yang ada di dalamnya (Gua Makhpelah) ini adalah milik kepunyaan Abraham, yang dia beli dari tangan Efron, orang Het itu, dengan harga penuh, 400 shikal perak, di hadapan para saksi.

Kejadian 23:1-20 (ILT) 14. Dan Efron menjawab kepada Abraham, sambil berkata kepadanya, 15. “Tuanku, dengarkanlah aku, sebidang tanah seharga empat ratus shikal perak, apakah artinya bagiku dan bagimu? Kuburkanlah orangmu yang mati itu.” 16. Dan Abraham mendengarkan Efron, maka Abraham menimbang bagi Efron seharga yang ia bicarakan di telinga bani Het, empat ratus shikal perak, senilai dengan yang berdagang. 17. Dan orang memastikan ladang Efron yang di Makhpela itu, yang ada di depan Mamre, ladang dan gua yang berada di dalamnya, dan semua pohon yang ada di ladang itu, yang ada di seluruh perbatasan sekelilingnya, 18. sebagai milik Abraham melalui jual beli, di depan mata bani Het, di antara semua orang yang masuk ke gerbang kota itu. 19. Dan sesudah itu, Abraham menguburkan Sara, istrinya, di dalam gua di ladang Makhpela itu, sebelum Mamre, yaitu Hebron, di tanah Kanaan. 20. Dan orang memastikan ladang itu, dan gua yang ada di dalamnya sebagai milik Abraham, sebagai pekuburan miliknya, yang berasal dari bani Het.

Kejadian 49:30-32 (ILT) Di dalam gua yang ada di ladang Makhpela, di depan Mamre, di tanah Kanaan, yang Abraham telah membeli ladang itu dari Efron, orang Het itu, sebagai kuburan milik. 31. Di sana mereka menguburkan Abraham dan Sara, istrinya, di sana pula mereka menguburkan Ishak dan Ribka, istrinya, dan di sanalah aku (Yakub) telah menguburkan Lea. 32. Pembelian ladang dan gua yang ada di dalamnya adalah dari bani Het.”

Kejadian 50:13 (ILT) Dan anak-anaknya mengangkutnya (Yakub) ke tanah Kanaan dan menguburkannya di dalam gua di ladang Makhpela, yang ladang itu telah Abraham beli dari Efron, orang Het, sebagai tempat penguburan, di sebelah timur Mamre.

Berikut kesaksian asli Noam Arnon:

Memasuki Gua Makhpelah

Kerinduan untuk masuk dan berdoa di dalam Gua Makhpelah telah ada di dalam diri orang-orang Yahudi selama berabad-abad. Sejumlah orang-orang Yahudi telah menerjang melewati banyak cobaan dan kesengsaraan untuk mencapai Hebron. Namun hanya sedikit yang mendapatkan hak istimewa untuk memasuki bangunan yang menutupi Gua-gua itu sendiri. Seperti sudah banyak diketahui, orang-orang Arab mencegah orang-orang Yahudi memasuki bangunan kuno ini, yang didirikan selama Periode Bait Suci Kedua. Alasan lemah mereka untuk melarang orang Yahudi memasuki bangunan adalah karena itu adalah sebuah Masjid. Ini terlepas dari fakta bahwa Islam baru muncul sekitar 2.500 tahun sesudah Patriarkh kami Abraham membeli Gua dan tanah lapang di sekelilingnya, dan 700 tahun sesudah orang-orang Yahudi membangun monumen besar menutupi Makam-makam Patriarkh dan Matriarkh.

Ada beberapa orang Yahudi yang berhasil mengamankan pintu masuk ke dalam bangunan setelah menyuap sejumlah besar uang kepada para penjaga Arab di luar bangunan. Namun, tidak ada seorang pun yang berhasil masuk ke dalam Gua itu sendiri, jauh di bawah tanah, Gua Bapa Leluhur. Hanya legenda menceritakan tentang orang-orang yang berani. Ini adalah dongeng-dongeng menakutkan. Menurut mereka, siapapun yang masuk, tidak akan pernah kembali. Hanya satu dari kisah-kisah yang ada, menceritakan tentang seorang Yahudi yang benar-benar berhasil masuk dan keluar Gua. Dia adalah Rabbi Avraham Azuli, yang dikenal sebagai “Hesed l’Avraham.” Dia diperintahkan oleh Sultan Turki, sekitar tiga ratus tahun yang lalu, turun ke dalam Gua dan mengambil pedangnya yang jatuh dalam lubang sempit ke dalam Gua. Sejumlah tentara Sultan sudah diturunkan ke dalam Gua, hanya untuk mati ketika sampai di sana, di bawah tanah. Rabbi Avraham Azuli berhasil mengambil kembali pedang Sultan, dan karenanya, berhasil mencegah aktualisasi keputusan yang hendak diberlakukan melawan penduduk Yahudi di Hebron.

Sudah jelas, ketika kami kembali ke Hebron, kami memiliki hasrat yang kuat untuk masuk ke dalam Gua Makhpelah, dan di sana, di makam-makam Bapa Leluhur, memohonkan doa ke hadapan Elohim Bapa Leluhur kami. Namun sangat disayangkan, kunci-kunci, dan bersamaan dengan tanggung jawab atas situs ini, diberikan kepada Waqf, orang-orang Muslim fanatik, oleh yang kemudian menjadi Menteri Pertahanan, Moshe Dayan. Mereka melakukan setiap usaha untuk mencegah kehadiran permanen orang Yahudi di Gua. Salah satu di antaranya, mereka bahkan berusaha menghentikan ibadah Yahudi di situs itu sama sekali. Mereka juga mencegah kemungkinan orang Yahudi memasuki makam bawah tanah.

Moshe Dayan, seorang arkeolog amatir, ketika menyadari konsekuensi dari tindakannya, berusaha mencari informasi mengenai gua-gua bawah tanah. (Mungkin dia sedang mencari artefak-artefak untuk menambah koleksi pribadinya?!) Dalam hal apapun, penyelidikan formal atau resmi tidak dimungkinkan. Karena itu ia memutuskan sebuah metode tidak lazim untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Di dalam aula besar, yang disebut “Aula Yitzhak” ada sebuah lubang di lantai, yang melaluinya lilin diturunkan ke dalam gua di bawahnya. Menurut rumor umum, ini adalah pintu masuk ke dalam Gua Makhpelah itu sendiri. Namun, diameter lubang itu sangat sempit, 26 sentimeter. Tidak ada orang dewasa bisa muat melewati lubang ini, tapi Dayan menemukan solusi. Seorang gadis berusia 12 tahun bernama Michal, muda tapi berani, bersedia untuk diturunkan ke ruang bawah tanah.

cave-access
Lubang akses masuk ke Gua Makhpelah (Foto: Bibleplaces.com)

Pada suatu malam berkabut, Dayan memerintahkan para penjaga Muslim untuk meninggalkan bangunan. Dia mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus pergi karena “alasan keamanan”. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Memakai kegelapan malam sebagai penutup, Michal dibawa ke situs. Lubang bukaan dibuka dan Michal diturunkan ke dalam ruang bawah tanah. Para penonton penuh dengan ketegangan dan khawatir ketika gadis itu menghilang dari pandangan.

michal
Michal, 12 tahun, diturunkan ke dalam lubang masuk (Foto: Arnon)

Michal mendapati dirinya di dalam sebuah ruangan bundar, yang lantainya tertutup koin-koin, lilin-lilin, dan catatan-catatan tertulis. Melihat sekeliling, dia melihat sebuah koridor sempit, gelap, ke arah selatan. Gadis pemberani ini memasuki lorong dan setelah 17 meter menemukan sebuah tangga. Dalam kegelapan total dia menaiki anak  tangga. Setelah 15 langkah dia mendapati sebuah dinding menghalangi jalannya. Sebuah batu besar mencegahnya meneruskan perjalanan. Dia berusaha memindahkan batu, tetapi tidak berhasil. Itu tidak bergerak. Karena tidak ada pilihan lain, dia berbalik kembali, menuruni anak tangga, dan kembali ke ruangan kecil melalui koridor yang sempit. Di sana, ia diangkat keluar dari ruangan kembali ke Aula Yitzhak. Dia disambut dengan gembira, dan benar-benar tanpa terluka.

stairs-machpelah
Tangga turun (Photo: Arnon)

Dayan yang terperanjat, menulis temuan-temuan ini dan membuat sketsa gua bawah tanah seperti yang dijelaskan oleh Michal 12 tahun: sebuah ruang melingkar, sebuah koridor, dan anak tangga. Gua itu sendiri tetap menjadi misteri dan tidak dapat digambarkan.

Denah Gua Bapa Leluhur

Sekelompok dari kami, dari Hebron-Kiryat Arba, dan khususnya staf dari “Midreshet Hebron” dipenuhi rasa takjub saat membayangkan memasuki Gua bawah tanah Makhpelah. Cerita Moshe Dayan mengusik rasa ingin tahu dan tekad kami untuk menemukan jalan ke dalam gua. Kami tidak bisa, tentu saja, masuk dengan cara yang sama seperti Michal masuk, melewati pintu masuk lubang kecil. Namun, sisi lain dari koridor itu menarik perhatian kami. Michal menceritakan bahwa dia menaiki tangga yang terhalang oleh batu. Kemungkinan batu di manakah itu?

Kami mengukur jarak yang ia katakan dan menemukan bahwa batu itu ada di sisi lain Aula Yitzhak, tertutup oleh karpet-karpet doa Arab. Area itu selalu diduduki oleh orang Arab. Bagaimana kita bisa berhasil menggeser batu itu, sehingga memungkinkan kita untuk turun ke dalam gua?

whitemonument
Monumen putih (Foto: Arnon)

Kami menemukan jawabannya pada bulan Elul, bulan belas kasihan dan pertobatan, bulan yang mendahului Rosh Hashanah. Kami mulai mengucapkan doa-doa khusus pertobatan setiap malam di tengah malam. Para penjaga Arab, yang dipekerjakan oleh Waqf, tidak terlalu waspada atau terjaga di waktu malam. Mereka meninggalkan tempat jaga mereka dan pergi tidur. Ketika kami melihat ini, kami membawa bersama kami sebuah pahat besar ke ibadah doa tengah malam. Di tengah-tengah ibadah, kami mulai bernyanyi dan menari. Selama menari, sebagian dari kami bergerak menuju ke karpet-karpet doa Arab, mengangkatnya, dan menyingkapkan batu itu. Batu itu ditahan di tempatnya oleh batang-batang besi, yang menyatu dengan batu-batu di sekitarnya. Kami mulai memahat batu itu dengan pahat, dan sesudah beberapa saat itu mulai bergerak. Akhirnya, batu itu terbuka. Sulit untuk menggambarkan emosi yang kami rasakan ketika kami melihat batu itu bergerak dari lubang kecil di bawahnya. Kami masuk, jantung kami berdebar-debar dengan kegembiraan. Kami menemukan tangga yang menuju ke dalam kegelapan. Kami turun perlahan-lahan. Tangga itu menuju lorong sempit dan gelap. Kami berjalan perlahan-lahan melewati koridor, membungkuk, menggunakan senter untuk memandu jalan kami. Kami mencapai ruang melingkar dan melihat sekeliling. Itu bundar dan gelap. Di dinding ada tiga batu, tapi tidak ada gua yang terlihat. Di mana guanya? Apakah semua usaha kami sia-sia?

Beberapa menit kemudian sebuah misteri baru muncul dengan sendirinya. Nyata bagi kami bahwa kami merasakan hembusan. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Tiupan angin yang berasal dari atas tanah? Melihat ke bawah di tanah kami melihat beberapa batu yang tampaknya saling mengunci, satu dengan yang lain. Angin tampaknya berasal dari antara mereka. Dalam beberapa saat, perasaan kami terbang, bersamaan dengan batu-batu itu diangkat dan … gua – gua batu, yang mengarah ke dalam bumi.

entrancetocaves
Bukaan masuk menuju gua pertama (Foto: Arnon)

Kami merangkak di lubang yang sangat sempit ke dalam sebuah gua melingkar, dipahat di dalam batu, jauh di dalam tanah. Gua itu dipenuhi debu, sampai ke tepi-tepiannya. Tidak mungkin untuk berdiri atau duduk, hanya bisa merangkak. Kami terus bergerak ke dalamnya sampai itu melebar, dan kemudian, sebuah gua yang kedua! Gua ini lebih kecil daripada yang pertama, tapi di sini menunggu kami kejutan lain. Itu juga penuh dengan debu, tapi di antara debu ada tulang-belulang dan sisa-sisa tembikar yang terserak di sekeliling, beberapa di antaranya berada dalam kondisi baik.

Angin bertiup di dalam gua, tapi suara degup jantung kami terdengar jelas. Tidak ada manusia hidup yang pernah berada sedekat ini kepada Bapa Leluhur di dalam kurun waktu ribuan tahun. Masing-masing dari kami menghabiskan beberapa saat merenungkan arti pentingnya berada di dalam Gua Bapa Leluhur, dan untuk berdoa di sini, berdekatan dengan Abraham, Ishak dan Yakub, Sarah, Ribka, dan Lea, dan bahkan sampai ke makam Adam dan Hawa, di pintu masuk ke Taman Eden, di mana jiwa-jiwa dan doa-doa naik. Doa sunyi, di hadapan Bapa Leluhur kami.

machpela-cave-2
Gua kedua (Foto: Arnon)
caves2
Gua Makhpelah (Foto: Arnon)

Menyusul pengalaman spiritual yang luar biasa ini, kami mulai menyelidiki gua itu sendiri. Tulang-belulang itu menarik perhatian kami. Apakah ini tulang-belulang Bapa Leluhur? Kami tahu bahwa ada tertulis bahwa orang-orang benar (tzaddikim), bahkan di dalam kematian, disebut hidup, dan bahwa Bapa Leluhur, yang disebut “mereka yang tidur dari Hebron” sedang terjaga dan berdoa memohon belas kasihan. Sementara kami menyelidiki, menjadi jelas bahwa tembikar ini berasal dari Zaman Bait Suci Pertama, Zaman Raja-raja Yehuda. Orang-orang Yahudi dari Hebron, dan orang-orang Yahudi dari seluruh Yudea, memahami nilai penting dan arti signifikan Gua Makhpelah, diarahkan untuk membawa baik tulang-belulang dan tembikar ke dalam gua bawah tanah itu sendiri.

Penemuan ini menutup celah informasi mengenai Gua Makhpelah, berlanjut hingga hari-hari Patriarkh Ya’akov, Bapa Leluhur terakhir yang dimakamkan di dalam Gua, sampai kepada hari-hari Herodes, yang membangun struktur besar di atas Gua.

Setelah beberapa jam, sementara fajar mendekat, kami dipaksa meninggalkan gua suci ini, supaya tidak ketahuan ada di bawah sini. Kami mendapatkan pengalaman kebangkitan spiritual yang tak terlupakan. Kami mendapatkan hak istimewa untuk mengungkapkan Gua bawah tanah Makhpelah, untuk berdoa di sana, untuk mengungkapkan tembikar kuno Yahudi dari Era Kerajaan Yehuda di dalam Gua, dan, bahkan meskipun hanya untuk beberapa saat, dipersatukan, seperti Anak-anak dengan Bapa Leluhur mereka .

Baca:

PBB Memutuskan Bukit Bait Suci dan Tembok Ratapan adalah Milik Muslim, Mengutuk Israel atas Terjadinya Kekerasan

Obama Hendak Membagi-bagi Tanah Israel – Resolusi DK PBB 2334

Referensi:

ENTERING THE CAVE OF THE MACHPELAH by Noam Arnon

The Secret Chambers Hidden in the Cave of Patriarchs Will Astound You [PHOTOS]

Iklan