Phoenix

28 tahun lalu, kover depan Majalah Economist edisi Januari 1988 menampilkan gambar simbolis untuk tahun 2018: Seekor burung Phoenix dengan mata uang baru (Phoenix) di sekeliling lehernya, sedang berdiri di atas sisa-sisa mata uang-mata uang dunia lainnya, termasuk Dollar, yang sedang terbakar menjadi abu.

Kebangkitan Phoenix, mata uang dunia dari abu kemusnahan mata uang nasional negera-negara melalui hiperinflasi. Burung “Phoenix” merupakan metafora okultisme. Keluar dari kehancuran abu Old World Order (Tatanan Dunia Lama), maka Luciferian New World Order (Tata Dunia Baru – The Fourth Reich) akan bangkit seperti burung Phoenix.

Dalam mitologi Yunani, Phoenix merupakan burung yang berumur panjang dan mempunyai siklus kelahiran kembali. Burung Phoenix mati dengan api dan terbakar habis menjadi abu. Diasosiasikan dengan matahari, burung Phoenix memperoleh kehidupan baru dengan bangkit dari abu pendahulunya. Di Mesir kuno, burung Phoenix dinamai Bennu.

phoenix-700-2

Kata “Phoenix” diturunkan dari nama Yunani untuk “Phoenicia” (Funisia), orang-orang kuno yang mendiami pantai Timur Laut Mediterania. Meskipun disebut “Phoenicia”, yang berarti “kemerahan” oleh orang Yunani, orang Phoenicia menganggap dirinya sebagai orang Sidonia (Sidon). Nama ibu kota mereka adalah Sidon, seperti nama anak sulung Kanaan, anak Ham. Ham adalah salah satu penumpang asli Bahtera Nuh dan adalah anak bungsu Nuh. Orang Sidon dianggap penguasa ilmu pengetahuan dan sihir. Mereka mengklaim mewarisi suatu peradaban yang ada selama ribuan tahun.

Keunggulan hikmat dan pengetahuan orang Phoenicia/Sidonia di dalam peradaban kuno adalah rahasia okultisme yang dijaga sejak lama.

Namun yang lebih penting dari pengaruh ilmu pengetahuan Sidonia, arti simbolis Phoenix sesungguhnya mewakili sebuah zaman dimana umat manusia dan “makhluk luar bumi” (dewa-dewa) dipercayai hidup secara berdampingan di Bumi. Phoenicia adalah negeri tempat turunnya “anak-anak Elohim” (benei ha’Elohim) yang dituliskan di dalam Kejadian 6. Menurut sejarah tiap kebudayaan kuno di Timur Tengah, Phoenicia adalah tempat pertama dimana makhluk-makhluk dari Surga datang ke Bumi. Perkawinan antara makhluk-makhluk ini dengan anak-anak perempuan Adam menghasilkan keturunan hybrid yang disebut Nephilim (secara literal dalam bahasa Ibrani artinya: [mereka] yang jatuh).

Menurut Kitab Henokh, Kitab Yobel dan banyak tulisan-tulisan kuno lainnya, lokasi persis turunnya anak-anak Elohim adalah Gunung Hermon di Phoenicia. Melalui pengaruh makhluk-makhluk Surgawi ini dan keturunan mereka, umat manusia menjadi memiliki pengetahuan yang melampaui segala sesuatu yang pernah ada (Bandingkan Kitab Henokh pasal 7,8,9,69). Namun kemudian datanglah Air Bah… dan secara simbolis Phoenix binasa. Burung surgawi dan supernatural, penjaga rahasia masa lampau dan masa depan terbakar habis di dalam api penciptaannya.

Dengan kata lain, pengetahuan yang diberikan kepada manusia dari Surga telah hilang dalam sebuah Bencana Global. Menurut Kejadian 6, penghancuran Bumi oleh Air Bah adalah sebagai akibat dari interaksi antara anak-anak Elohim dengan anak-anak perempuan Adam.

Ahli okultisme kuno dan modern menggambarkan keindahan Phoenix, warna yang mempesona dan mengagumkan. Itu adalah simbol yang sempurna untuk pengetahuan Surgawi yang dimanifestasikan di Bumi. Mereka percaya kekuasaan Phoenix berasal dari Surga. Kematiannya di Bumi hanyalah sementara. Kehidupan Phoenix tidak dapat dimatikan lagi dari Surga atau pengetahuan akan lenyap. Phoenix menunggu untuk dilahirkan kembali dari abu kematiannya.

economist-1988-600

The Economist adalah majalah mingguan berbahasa Inggris yang dimiliki oleh Economist Group, dan berkantor di London, yang mulai terbit sejak bulan September 1843. Pada tahun 2006, rata-rata peredarannya dilaporkan 1,5 juta eksemplar, dan separuhnya terjual di Amerika Serikat. Economist Group, 50% sahamnya dimiliki oleh investor pribadi dan 50% lagi Exor, Agnelli dan keluarga bankir Rothschild Inggris, yang menguasai sebagian besar kekuatan ekonomi dunia.

Berikut kutipan Majalah Economist; 9 Januari 1988, Volume 306, halaman 9-10

Judul artikel: Bersiaplah untuk Phoenix

TIGA PULUH tahun dari sekarang, Amerika, Jepang, Eropa dan orang-orang di banyak negara kaya lainnya, dan sebagian negara yang relatif miskin mungkin akan membayar belanjaan mereka dengan mata uang yang seragam. Harga-harga tidak akan ditetapkan dalam Dollar, Yen atau D-marks, tapi dalam mata uang, sebutkanlah, Phoenix. Phoenix akan disukai perusahaan-perusahaan dan para konsumen karena itu lebih nyaman dibandingkan mata uang-mata uang nasional negara-negara sekarang ini, yang pada waktu itu akan kelihatan usang dan menyebabkan banyaknya hambatan dalam kehidupan ekonomi pada akhir abad ke-20.

Pada awal 1988 ini nampaknya sebuah prediksi yang aneh. Proposal penyatuan moneter akhirnya menjamur lima dan sepuluh tahun lalu, tetapi mereka hampir tenggelam karena kemunduran dari tahun 1987. Pemerintah negara-negara ekonomi besar mencoba bergerak sedikit-sedikit ke arah sistem nilai tukar yang lebih terkendali – permulaan yang logis, kelihatannya, ke arah reformasi moneter radikal. Karena kurangnya kerjasama dalam kebijakan-kebijakan ekonomi yang mendasar, mereka melakukannya dengan sangat ceroboh, dan memicu kenaikan suku bunga yang menimbulkan keruntuhan pasar saham pada bulan Oktober. Peristiwa-peristiwa ini menghajar para reformis nilai tukar. Kejatuhan pasar mengajar mereka bahwa kebijakan kerjasama akal-akalan dapat lebih buruk daripada tidak sama sekali, dan bahwa sampai kerjasama sesungguhnya yang layak (yakni, sampai pemerintah-pemerintah menyerahkan sebagian kedaulatan ekonominya), upaya lebih lanjut untuk mematok mata uang-mata uang sulit dikendalikan.

Ekonomi Dunia Baru

Perubahan terbesar perekonomian dunia sejak awal 1970-an adalah bahwa arus aliran uang telah menggantikan perdagangan barang sebagai kekuatan pendorong nilai tukar. Sebagai hasil integrasi tanpa henti pasar finansial dunia, perbedaan dalam kebijakan ekonomi nasional dapat sedikit mengganggu suku bunga (atau suku bunga masa depan yang diharapkan), namun masih dapat menyebabkan transfer-transfer besar aset-aset keuangan dari satu negara ke negara lainnya. Transfer-transfer ini membanjiri arus pendapatan perdagangan dalam dampaknya terhadap suplai dan permintaan berbagai macam mata uang, dan karenanya dalam efeknya, nilai tukar. Sementara teknologi komunikasi terus berkembang, transaksi-transaksi ini akan semakin murah dan lebih cepat. Dengan kebijakan-kebijakan ekonomi yang tidak terkoordinasi, mata uang-mata uang dapat menjadi lebih tidak stabil.

Dalam semua hal-hal ini, batas-batas ekonomi nasional secara perlahan akan lenyap. Sementara tren berlanjut, daya tarik penyatuan mata uang di antara setidaknya negara-negara industri maju akan nampak tak tertahankan bagi semua orang, kecuali para pedagang valuta asing dan pemerintah. Dalam zona Phoenix, penyesuaian ekonomi untuk menggeser harga-harga relatif akan terjadi dengan lancar dan otomatis, dan bukan seperti halnya hari ini antara wilayah-wilayah berbeda dengan ekonomi besar (sekilas halaman 74-75 menjelaskan bagaimana). Ketiadaan seluruh resiko mata uang akan memacu perdagangan, investasi dan lapangan kerja.

Zona Phoenix akan memberlakukan batasan ketat terhadap pemerintah nasional. Tidak akan ada hal lagi, seperti misalnya, kebijakan moneter nasional. Pasokan Phoenix dunia akan ditetapkan oleh bank sentral baru, mungkin turunan dari IMF. Tingkat inflasi dunia – dan karenanya, dalam margin sempit, setiap tingkat inflasi nasional – akan berada dalam tanggung jawabnya. Setiap negara bisa menggunakan pajak dan pengeluaran publik untuk mengimbangi penurunan sementara permintaan, tetapi harus meminjam ketimbang mencetak uang untuk membiayai defisit anggaran.

Dengan tidak adanya jalan lain untuk pajak inflasi, pemerintah dan kreditur mereka akan dipaksa untuk mempertimbangkan rencana pinjam-meminjam mereka lebih hati-hati daripada yang mereka lakukan hari ini. Ini artinya kerugian besar dari kedaulatan ekonomi, tetapi tren yang membuat Phoenix begitu menarik akan menyingkirkan jauh-jauh kedaulatan dalam hal apapun. Bahkan di dalam dunia dengan kurs mengambang, masing-masing pemerintah telah melihat independensi kebijakan mereka akan diperiksa oleh dunia luar yang tidak ramah.

Sementara abad berikut mendekat, kekuatan alami yang mendorong dunia menuju integrasi ekonomi akan menawarkan pilihan yang luas bagi pemerintah-pemerintah. Mereka dapat mengikuti arus, atau mereka dapat membangun barikade. Mempersiapkan jalan bagi Phoenix akan berarti semakin sedikitnya perjanjian akal-akalan terhadap kebijakan dan itu bersifat lebih nyata. Ini berarti akan mengijinkan dan kemudian secara aktif mempromosikan penggunaan sektor swasta dari uang internasional bersamaan uang nasional yang ada. Ini akan memungkinkan orang memilih dengan dompet mereka untuk bergerak pada akhirnya kepada penyatuan mata uang secara penuh. Phoenix mungkin awalnya akan dimulai sebagai pelengkap mata uang nasional, seperti halnya Hak Penarikan Khusus hari ini. Meskipun pada waktunya, nilainya terhadap mata uang nasional tidak akan dipermasalahkan, karena orang akan memilihnya untuk kenyamanan dan stabilitas daya belinya.

…Pemerintah-pemerintah negara jauh dari kesiapan untuk menundukkan tujuan domestiknya terhadap tujuan stabilitas internasional. Sesudah beberapa guncangan lagi terhadap nilai tukar yang besar, beberapa kehancuran pasar saham lagi, dan mungkin satu atau dua keruntuhan ekonomi diperlukan sebelum para politisi akhirnya bersedia untuk menerima pilihan itu…

Alternatifnya – untuk melestarikan pembuatan kebijakan autonomi – akan melibatkan proliferasi kontrol baru yang benar-benar kejam pada perdagangan dan arus modal. Jalur ini menawarkan kepada pemerintah-pemerintah suatu periode yang menyenangkan. Mereka bisa mengelola pergerakan nilai tukar, menurunkan kebijakan moneter dan fiskal tanpa hambatan, dan mengatasi gejolak yang diakibatkan inflasi dengan harga dan kebijakan pendapatan. Ini adalah prospek pertumbuhan yang melumpuhkan. Tuliskan Phoenix untuk sekitar 2018, dan sambutlah ketika ia datang.

Referensi:

Flashback 1988: “Get Ready For A World Currency by 2018″ – The Economist Magazine!

The Financial New World Order – Towards a Global Currency dan World Government

Iklan